[Medan | 28 September 2026] Kabar mengenai rencana pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam untuk mengakuisisi saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ramai beredar di media sosial. Manajemen BCA memastikan informasi tersebut tidak benar.
BCA Tegaskan Tidak Ada Rencana Akuisisi
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan isu mengenai adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA tidak sesuai dengan informasi resmi perseroan. “Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar,” ujar Hera dalam keterangannya pada Jumat (25/9/2026).
BCA juga mengimbau nasabah dan masyarakat untuk memastikan informasi terkait perseroan melalui sumber resmi perusahaan maupun media yang kredibel. Perseroan menegaskan kegiatan operasional tetap dijalankan berdasarkan prinsip kehati-hatian, integritas, dan ketentuan yang berlaku.
Kepemilikan BCA Masih Didominasi PT DIA
Berdasarkan informasi kepemilikan saham yang disampaikan perseroan, PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) masih menjadi pemegang saham utama BCA dengan kepemilikan 67,73 miliar saham atau sekitar 54,94%. Sementara itu, saham yang tercatat sebagai milik masyarakat mencapai sekitar 44,64%, terdiri dari 2,51% saham masyarakat warkat dan 42,13% saham masyarakat nonwarkat.
Struktur pengendali terakhir BCA juga mengalami perubahan setelah meninggalnya Bambang Hartono. Berdasarkan keterbukaan informasi perseroan pada 31 Juli 2026, Robert Budi Hartono menjadi pengendali terakhir BCA melalui PT DIA. Sebelumnya, Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono merupakan pemegang saham PT DIA sekaligus pengendali terakhir BCA. Setelah Bambang Hartono meninggal dunia, Robert tetap memiliki 51% saham PT DIA dan menjadi pemegang saham pengendali terakhir perseroan.
Rumor Muncul Setelah Transaksi Besar di BYAN
Rumor mengenai BCA dan Haji Isam muncul tidak lama setelah kelompok usaha Jhonlin melakukan transaksi besar di sektor pertambangan. Melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam pada 16 September 2026 menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat atau conditional share purchase agreement (CSPA) dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low terkait rencana pembelian 10.000.000.500 saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 30% saham BYAN. Setelah seluruh persyaratan pendahuluan terpenuhi dan transaksi diselesaikan, Jhonlin Baratama akan memiliki sekitar 30% dari total 33.333.335.000 saham beredar BYAN. Transaksi BYAN tersebut sebelumnya juga sempat didahului berbagai spekulasi mengenai rencana ekspansi Haji Isam. Namun, berbeda dengan rumor di media sosial mengenai BCA, transaksi BYAN telah dituangkan dalam perjanjian dan diumumkan melalui keterbukaan informasi.
Saham BBCA Tetap Jadi Perhatian Pasar
Di tengah beredarnya rumor tersebut, saham BBCA pada perdagangan Jumat (25/9/2026) ditutup di level Rp6.250 per saham, naik 0,40% dari perdagangan sebelumnya. Namun, secara year to date saham BBCA masih tercatat turun 22,60%.
Dengan adanya klarifikasi dari manajemen, informasi mengenai rencana akuisisi BCA oleh Haji Isam tidak dapat dijadikan sebagai aksi korporasi resmi perseroan. Investor tetap perlu mengacu pada keterbukaan informasi BEI dan kanal resmi BCA untuk mengetahui perubahan kepemilikan maupun aksi korporasi yang benar-benar terjadi.
Rumor tersebut terutama muncul karena terjadi berdekatan dengan transaksi akuisisi 30% saham BYAN oleh kelompok usaha Haji Isam. Namun, hingga saat ini BCA secara tegas menyatakan bahwa informasi mengenai rencana aksi korporasi yang dikaitkan dengan Haji Isam tersebut tidak benar.

