[Medan | 3 November 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual tajam pada sesi pertama perdagangan Selasa (3/11/2026). IHSG merosot 133,76 poin atau 2,62% ke level 4.963,06, sekaligus kembali meninggalkan level psikologis 5.000.
Padahal, perdagangan hari ini sempat dibuka positif. IHSG mengawali sesi di level 5.126,53, menguat sekitar 29,7 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Indeks bahkan sempat menyentuh level tertinggi intrahari di 5.143,58.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual muncul tidak lama setelah pembukaan, membuat IHSG berbalik arah dan turun tajam. Setelah sempat mengalami pemantulan terbatas, indeks kembali melemah hingga menembus level 5.000.
Pelemahan ini terjadi ketika pasar keuangan Indonesia masih menghadapi sejumlah tekanan, terutama kekhawatiran investor terhadap transparansi pasar modal, arus modal asing, pelemahan rupiah, dan kenaikan yield obligasi pemerintah. Di sisi lain, pasar juga mencermati perkembangan global, mulai dari pemilu sela Amerika Serikat (AS) hingga penurunan harga minyak dunia.
- Kekhawatiran MSCI dan Kepercayaan Investor terhadap Pasar Modal Indonesia
Salah satu sentimen domestik yang perlu mendapat perhatian adalah kekhawatiran terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia. Sebelumnya, MSCI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham dan dugaan praktik transaksi terkoordinasi di pasar Indonesia. MSCI juga memberikan peringatan mengenai kemungkinan perubahan status Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market apabila persoalan tersebut tidak ditangani.
Kekhawatiran ini meningkatkan risiko bagi pasar saham Indonesia karena investor global dapat mempertimbangkan kembali alokasi investasinya. Tekanan tersebut tercermin dari aksi jual investor asing. Dalam sepekan terakhir hingga awal November, investor asing mencatatkan net sell sekitar Rp2,52 triliun di pasar reguler. Sementara itu, dalam sebulan, nilainya mencapai sekitar Rp19,32 triliun.
Sebagai respons, Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menerapkan kebijakan mengecualikan 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG sejak 2 November 2026. Saham-saham tersebut sebelumnya memiliki bobot gabungan sekitar 18% terhadap IHSG. BEI menyatakan bobot tersebut akan didistribusikan kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen indeks. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya memperbaiki kualitas indeks dan meningkatkan transparansi pasar. Namun, investor tetap mencermati dampaknya terhadap komposisi indeks dan pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.
- Rupiah Melemah dan Yield SBN Meningkat
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Pasar obligasi dan nilai tukar rupiah juga menunjukkan kondisi yang perlu diperhatikan. Pada perdagangan Senin (2/11/2026), rupiah melemah 0,11% ke posisi Rp18.140 per dolar AS. Bahkan, mata uang Garuda sempat menyentuh Rp18.175 sebelum memangkas pelemahannya menjelang penutupan.
Di pasar obligasi pemerintah, yield SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,707% dari sebelumnya 7,643%. Kenaikan yield menunjukkan harga obligasi mengalami penurunan karena keduanya bergerak berlawanan arah.
Kombinasi rupiah yang melemah dan yield SBN yang meningkat memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak terbatas pada saham. Investor juga masih memperhitungkan risiko di pasar keuangan Indonesia. Kondisi ini penting diperhatikan karena pelemahan rupiah dan kenaikan yield dapat memengaruhi persepsi investor asing terhadap daya tarik aset domestik.
- Pemilu Sela AS: Trump Menghadapi Tekanan Politik
Pemilu sela atau midterm elections Amerika Serikat digelar pada Selasa (3/11/2026). Pemilu ini menjadi ujian politik bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik, sementara Partai Demokrat berupaya merebut kendali Kongres di tengah penurunan popularitas Trump dan meningkatnya tekanan biaya hidup.
Hasil pemilu akan menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintahan AS, termasuk kebijakan fiskal, perdagangan, dan hubungan internasional. Bagi investor global, ketidakpastian politik AS berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, terutama jika hasil pemilu memunculkan perubahan keseimbangan kekuatan di Kongres.
- Harga Minyak Anjlok Lebih dari 7%
Sentimen positif datang dari pasar energi. Harga minyak mentah dunia turun tajam pada Senin (2/11/2026), seiring meningkatnya harapan bahwa konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran dapat segera berakhir melalui jalur diplomasi. Minyak mentah Brent ditutup turun 7,63% ke US$104,77 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) merosot 7,36% ke US$96,46 per barel.
Optimisme pasar menguat setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Teheran akan berupaya menyelesaikan konflik melalui dialog. Presiden AS Donald Trump juga menyebut kesepakatan untuk mengakhiri perang mungkin tercapai.
Penurunan harga minyak menjadi sentimen positif bagi Indonesia yang merupakan importir neto minyak. Jika harga minyak bertahan lebih rendah, tekanan terhadap subsidi energi, anggaran negara, dan inflasi berpotensi berkurang. Kondisi tersebut juga dapat membantu meredakan tekanan terhadap rupiah. Namun, dampaknya tetap bergantung pada keberlanjutan penurunan harga minyak dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
- Ketidakpastian Politik Domestik Masih Menjadi Perhatian
Selain persoalan pasar modal, investor juga mencermati perkembangan politik dan sosial di dalam negeri. Aksi demonstrasi di sejumlah daerah serta berbagai polemik politik, termasuk isu yang melibatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dapat menjadi bagian dari persepsi risiko politik domestik.
Bagi investor, stabilitas politik dan kepastian kebijakan merupakan faktor penting dalam menentukan keputusan investasi, terutama ketika pasar sedang menghadapi tekanan dari faktor eksternal. Namun, isu demonstrasi dan polemik politik tersebut perlu dibedakan dari penyebab langsung penurunan IHSG. Tanpa bukti yang menunjukkan hubungan langsung dengan arus transaksi, keduanya lebih tepat dipandang sebagai faktor tambahan yang dapat memengaruhi sentimen dan persepsi risiko investor.
- Rapat KSSK Jadi Perhatian Investor
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada rapat dan konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Investor menantikan hasil evaluasi kondisi stabilitas sistem keuangan Indonesia pada kuartal III 2026, sekaligus arah kebijakan yang akan disampaikan oleh para anggota KSSK.
Di tengah tekanan terhadap pasar saham dan rupiah, pernyataan KSSK menjadi penting untuk memberikan gambaran mengenai kondisi sektor keuangan nasional dan langkah antisipasi pemerintah serta otoritas terkait. Pasar juga akan mencermati tanggapan otoritas terhadap pelemahan pasar modal serta dampak penerapan aturan baru di pasar keuangan Indonesia.
- Aktivitas Manufaktur China Masih Ekspansif
Sentimen lainnya datang dari China. PMI Manufaktur versi RatingDog tercatat turun tipis menjadi 52,0 pada Oktober 2026, dari 52,1 pada September. Meski mengalami penurunan, angka tersebut masih berada di atas level 50, yang menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi. Hasil ini juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,6.
Produksi bahkan tumbuh pada laju tercepat dalam enam bulan terakhir, didukung peningkatan pesanan baru dan peluncuran produk baru. Permintaan ekspor juga masih meningkat, meskipun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi manufaktur China yang tetap ekspansif dapat menjadi sentimen positif bagi prospek perdagangan dan permintaan komoditas global, termasuk komoditas ekspor Indonesia.

