[Medan | 18 September 2026] Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam dikabarkan akan mengakuisisi sekitar 30% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melalui PT Jhonlin Baratama. Rencana tersebut mencuat setelah pemegang saham utama Bayan, Low Tuck Kwong dan Elaine Low, menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Jhonlin Baratama.
Low Tuck Kwong Siapkan Pengalihan 30% Saham
Berdasarkan keterbukaan informasi, Low Tuck Kwong dan Elaine Low menandatangani Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement dengan PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026.
Perjanjian tersebut mencakup rencana pengalihan sebanyak 10.000.000.500 saham biasa BYAN, atau sekitar 30% dari total saham beredar perseroan. Namun, transaksi belum dapat dianggap selesai karena masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan yang telah disepakati oleh para pihak.
Saham BYAN Naik ke Rp11.525
Kabar transaksi tersebut muncul ketika saham BYAN bergerak menguat pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Saham BYAN ditutup di level Rp11.525 per saham, naik 1,54% atau 175 poin dari posisi sebelumnya Rp11.350. Sepanjang perdagangan, saham BYAN sempat menyentuh level tertinggi Rp11.800 dan terendah Rp11.200.
Dengan menggunakan harga penutupan tersebut, sekitar 10 miliar saham yang menjadi objek perjanjian memiliki nilai pasar sekitar Rp115,25 triliun. Angka ini merupakan estimasi berdasarkan harga pasar dan bukan nilai transaksi yang telah disepakati para pihak.
Rumor Tawaran US$3 Miliar
Sebelumnya, beredar kabar bahwa Haji Isam menawarkan sekitar US$3 miliar untuk mengakuisisi 62% saham BYAN. Dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp53,1 triliun. Jika nilai tersebut dibagi secara matematis terhadap sekitar 33,33 miliar saham BYAN, indikasinya berada di kisaran Rp2.500 per saham. Dengan asumsi yang sama, 10 miliar saham akan bernilai sekitar Rp25 triliun.
Namun, apabila seluruh Rp53,1 triliun tersebut diasumsikan digunakan untuk mengakuisisi 30% saham, maka nilai indikatifnya menjadi sekitar Rp5.300 per saham. Perhitungan tersebut hanya merupakan simulasi berdasarkan rumor mengenai tawaran US$3 miliar untuk 62% saham. Harga transaksi yang sebenarnya belum diungkapkan dalam keterbukaan informasi terbaru.
Harga Pasar Jauh di Atas Harga Indikatif
Dengan harga BYAN di Rp11.525 per saham, nilai pasar saham yang menjadi objek perjanjian berada jauh di atas kedua simulasi harga berdasarkan rumor tersebut. Karena itu, pasar masih perlu menunggu informasi mengenai nilai transaksi yang sebenarnya sebelum dapat membandingkan harga akuisisi dengan harga pasar BYAN secara langsung.
Transaksi Masih Bersifat Bersyarat
Bayan Resources menyatakan transaksi tersebut masih bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan pendahuluan. Dengan demikian, perubahan kepemilikan saham belum efektif sepenuhnya hingga seluruh ketentuan yang disepakati terpenuhi. Perseroan juga menyampaikan bahwa transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha.
Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada harga transaksi, jumlah saham yang benar-benar dialihkan, pemenuhan seluruh persyaratan, serta perubahan struktur kepemilikan dan pengendalian BYAN setelah transaksi diselesaikan.

