[Medan | 18 September 2026] Amerika Serikat (AS) diperkirakan menunda pengumuman tarif impor baru terkait dugaan kelebihan kapasitas produksi atau excess capacity dari sejumlah mitra dagang hingga pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan depan selesai digelar. Penundaan ini menambah ruang bagi Washington dan Beijing untuk membahas isu perdagangan sebelum kebijakan tarif baru diumumkan.
Pengumuman Tarif China Ditunda
Sebelumnya, pemerintahan Trump dikabarkan berencana menerbitkan laporan perdagangan mengenai kapasitas produksi berlebih sebelum pertemuan Trump-Xi. Laporan tersebut diperkirakan merekomendasikan tarif tambahan sebesar 7,5% terhadap barang-barang China.
Belum diketahui alasan pasti di balik keputusan penundaan maupun apakah besaran tarif final nantinya akan berubah dari proyeksi sebelumnya.
Tarif China Bisa Kembali Mendekati 20%
Jika tarif tambahan tersebut diterapkan, tingkat bea masuk AS terhadap produk China diperkirakan kembali berada di kisaran 20%. Angka tersebut sebelumnya disebut Beijing masih sejalan dengan kesepakatan gencatan perdagangan antara kedua negara. Kebijakan tarif menjadi salah satu isu utama yang berpotensi dibahas dalam pertemuan Trump dan Xi, terutama karena hubungan dagang kedua negara masih menghadapi ketidakpastian.
AS Selidiki Excess Capacity Mitra Dagang
Pada Maret, pemerintahan Trump memulai penyelidikan terhadap sejumlah mitra dagang utama berdasarkan Section 301 Trade Act of 1974. Penyelidikan tersebut berfokus pada kekhawatiran mengenai kapasitas produksi berlebih yang dinilai dapat mengganggu perdagangan dan industri domestik AS.
Tarif baru yang berpotensi muncul dari penyelidikan tersebut, ditambah bea masuk terkait kerja paksa, diperkirakan dapat meningkatkan tarif efektif terhadap sejumlah negara. Kebijakan ini menjadi perhatian karena sebelumnya tarif khusus negara yang diterapkan pemerintahan Trump telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Trump-Xi Bahas Perdagangan hingga AI
Pertemuan Trump dan Xi diperkirakan tidak hanya membahas tarif. Sejumlah isu lain yang berpotensi masuk dalam agenda antara lain perdagangan, perang Iran, serta perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Menjelang pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri China Wang Yi juga melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Kamis (17/9). Keduanya membahas perkembangan di Timur Tengah, sementara Wang menekankan bahwa komunikasi tingkat tinggi berikutnya perlu dilakukan dengan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan saling menguntungkan.
Pasar Menanti Arah Kebijakan Perdagangan
Penundaan pengumuman tarif memberikan waktu tambahan bagi pasar untuk mencermati hasil pertemuan Trump-Xi. Jika kedua negara mampu mencapai titik temu mengenai perdagangan, ketidakpastian terkait tarif dapat berkurang. Sebaliknya, keputusan untuk tetap menaikkan tarif setelah pertemuan dapat kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap perdagangan global, rantai pasok, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

