[Medan | 31 Juli 2026] PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sangat kuat pada semester I-2026. Pendapatan bersih perseroan melonjak 83,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$5,3 miliar.
Namun, lonjakan pendapatan tersebut tidak diikuti oleh peningkatan laba. Laba bersih TPIA justru turun 77,2% menjadi US$371,2 juta, sementara EBITDA terkoreksi 54,5% menjadi US$802,6 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sekilas penurunan tersebut terlihat mengkhawatirkan. Namun, secara fundamental pelemahan laba lebih banyak dipengaruhi faktor akuntansi dibandingkan penurunan kinerja operasional perusahaan.
Efek Basis Tinggi Akuisisi Aster
Manajemen TPIA menjelaskan bahwa laba semester I-2025 ditopang oleh bargain purchase gain, yakni keuntungan akuntansi yang timbul saat mengakuisisi Aster. Keuntungan yang bersifat satu kali (one-off) tersebut membuat laba tahun lalu berada pada level yang sangat tinggi sehingga menciptakan high base effect.
Akibatnya, ketika keuntungan non-berulang tersebut tidak lagi muncul pada tahun ini, laba bersih terlihat turun tajam meskipun bisnis inti perusahaan tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid. Di luar faktor tersebut, TPIA menilai fundamental operasional tetap kuat berkat integrasi bisnis di sektor petrokimia, energi, dan infrastruktur yang terus berjalan sesuai rencana.
Integrasi Aster Mulai Memberikan Hasil
Pada segmen energi, TPIA melanjutkan proses integrasi aset pasca-akuisisi Aster, termasuk penyelesaian transisi jaringan SPBU Esso serta pengembangan fasilitas penyimpanan (Cold Storage). Selain itu, proyek CSU dan SBM di Pulau Bukom, Singapura, juga terus mengalami kemajuan dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026.
Manajemen memperkirakan kedua fasilitas tersebut mampu memberikan tambahan EBITDA sekitar US$20 juta per bulan, sehingga berpotensi menjadi sumber pertumbuhan laba mulai akhir tahun ini.
Bisnis Kimia dan Infrastruktur Terus Berkembang
Di bisnis petrokimia, pembangunan pabrik Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) telah mencapai progres sekitar 72% dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Perseroan juga telah mengambil keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) untuk proyek ekspansi ekspor C2 senilai US$80 juta. Proyek tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas ekspor sekaligus memperkuat integrasi antara fasilitas Aster di Singapura dengan bisnis hilir TPIA di Indonesia.
Sementara itu, lini infrastruktur melalui PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) terus menjadi motor pertumbuhan baru. CDIA memperluas bisnis logistik dan kepelabuhanan melalui kerja sama dengan SCG Barito Logistics (SBL) dan Krakatau Bandar Samudera (KBS). Selain itu, pembangunan fasilitas tangki bitumen telah mencapai 75%, sementara pembentukan joint venture Aster Power–Sembcorp–CDIA memperkuat posisi perseroan di sektor infrastruktur regional.
Prospek Semester II-2026
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penurunan laba bersih lebih disebabkan oleh efek basis tinggi dibanding melemahnya fundamental perusahaan. Menurutnya, prospek semester II-2026 masih cukup positif apabila integrasi aset Aster mulai memberikan kontribusi penuh terhadap pendapatan dan efisiensi operasional.
Selain itu, perbaikan margin petrokimia seiring meningkatnya permintaan regional serta kontribusi yang semakin besar dari bisnis energi dan infrastruktur berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan laba ke depan. Nafan menilai fokus utama TPIA saat ini bukan lagi melakukan ekspansi agresif, melainkan memaksimalkan sinergi dari aset yang telah dimiliki.
Optimalisasi utilisasi pabrik, efisiensi biaya produksi, digitalisasi operasional, hingga penguatan bisnis infrastruktur dinilai menjadi faktor yang akan menentukan pertumbuhan laba perseroan dalam beberapa tahun mendatang. Atas dasar tersebut, Mirae Asset masih memberikan rekomendasi Add untuk saham TPIA dengan target harga Rp2.940 per saham.
Dampaknya bagi Saham TPIA
Penurunan laba bersih sebesar 77% memang berpotensi memicu sentimen negatif dalam jangka pendek karena secara sekilas menunjukkan pelemahan profitabilitas. Namun, pasar kemungkinan akan melihat lebih dalam penyebab penurunan tersebut. Karena sebagian besar disebabkan oleh keuntungan akuntansi yang tidak berulang (one-off gain) pada tahun lalu, investor cenderung akan lebih memperhatikan kualitas laba operasional, pertumbuhan pendapatan, serta prospek sinergi dari akuisisi Aster.
Di sisi lain, kenaikan pendapatan lebih dari 80%, progres integrasi aset, tambahan EBITDA yang diperkirakan mulai mengalir pada kuartal IV-2026, serta diversifikasi bisnis ke sektor energi dan infrastruktur menjadi katalis positif yang dapat menopang valuasi perseroan dalam jangka menengah hingga panjang.
Ke depan, fokus investor kemungkinan akan bergeser dari pertumbuhan pendapatan menuju kemampuan manajemen mengubah ekspansi dan akuisisi menjadi pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Apabila sinergi Aster berhasil meningkatkan margin dan arus kas sesuai target, sentimen terhadap saham TPIA berpotensi kembali membaik meskipun laba semester pertama mengalami koreksi tajam.

