[Medan | 31 Juli 2026] Bank of Japan (BOJ) diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada level 1% dalam rapat kebijakan moneter yang berakhir Jumat (31/7/2026). Meski demikian, pelaku pasar akan lebih mencermati nada pernyataan Gubernur Kazuo Ueda dan proyeksi ekonomi terbaru untuk mengukur seberapa cepat bank sentral Jepang akan kembali menaikkan suku bunga.
Mengutip Reuters, keputusan BOJ kali ini berlangsung di tengah meningkatnya tekanan terhadap yen yang sempat menyentuh level terlemah dalam lebih dari empat dekade terhadap dolar AS. Pemerintah Jepang bahkan kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan membeli yen dan menjual dolar guna menahan pelemahan mata uangnya. Langkah tersebut dilakukan hanya beberapa jam sebelum hasil rapat BOJ diumumkan, menegaskan bahwa pelemahan yen masih menjadi perhatian utama pemerintah Jepang.
Fokus Pasar Beralih ke Nada Hawkish BOJ
Setelah menaikkan suku bunga pada Juni lalu, mayoritas ekonom memperkirakan BOJ akan memilih menahan suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, sebagian analis menilai salah satu anggota dewan, Hajime Takata, berpotensi kembali mengusulkan kenaikan suku bunga menjadi 1,25%, mencerminkan masih adanya pandangan hawkish di internal bank sentral.
Perhatian investor kini tertuju pada laporan prospek ekonomi triwulanan dan konferensi pers Gubernur Kazuo Ueda. Pasar ingin mengetahui apakah BOJ masih melihat ruang untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya dalam beberapa bulan mendatang. Sejumlah sumber Reuters menyebut BOJ kemungkinan akan merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang untuk tahun fiskal 2026 setelah meredanya kekhawatiran terhadap dampak konflik Timur Tengah.
Di sisi lain, proyeksi inflasi diperkirakan sedikit diturunkan karena harga minyak mulai melemah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Namun, pelemahan yen yang masih terjadi diperkirakan tetap menjadi faktor yang menjaga tekanan inflasi impor.
Ekonom senior SuMi Trust, Kei Fujimoto, menilai kombinasi pertumbuhan ekonomi yang membaik dan tekanan inflasi dari impor akan memperkuat keyakinan BOJ untuk terus menaikkan suku bunga secara bertahap. Menurutnya, skenario dasar masih mengarah pada kenaikan suku bunga sekitar setiap enam bulan sekali, meskipun peluang pengetatan yang lebih cepat tidak dapat sepenuhnya diabaikan apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Yen Masih Menjadi Tantangan
BOJ telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade pada Juni lalu sebagai bagian dari proses normalisasi kebijakan setelah bertahun-tahun mempertahankan suku bunga sangat rendah. Namun, kenaikan tersebut belum cukup mengangkat nilai tukar yen secara signifikan. Selisih suku bunga yang masih lebar dengan Amerika Serikat membuat yen tetap berada di bawah tekanan.
Sebagian besar ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan BOJ masih akan menaikkan suku bunga menjadi 1,25% sebelum akhir tahun apabila kondisi ekonomi dan inflasi tetap mendukung. Di sisi lain, Gubernur Kazuo Ueda menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara mendukung pemulihan ekonomi dan mengendalikan pelemahan yen. Prospek suku bunga AS yang masih relatif tinggi membuat ruang penguatan yen tetap terbatas.
Selain itu, BOJ juga harus mempertimbangkan dampak perlambatan ekonomi global serta potensi gangguan aktivitas industri akibat gempa berkekuatan 7,1 magnitudo yang terjadi di Prefektur Kumamoto, wilayah yang menjadi basis sejumlah produsen otomotif dan semikonduktor Jepang.
Sementara itu, inflasi inti Jepang pada Juni tercatat sebesar 1,6%, masih berada di bawah target BOJ sebesar 2% untuk bulan kelima berturut-turut. Meski demikian, banyak ekonom memperkirakan inflasi kembali naik di atas target pada akhir tahun seiring kenaikan biaya impor yang mulai diteruskan perusahaan kepada konsumen.
Dampak ke Pasar
Apabila BOJ mempertahankan suku bunga namun tetap memberikan sinyal hawkish mengenai peluang kenaikan suku bunga berikutnya, yen berpotensi menguat terhadap dolar AS. Penguatan yen dapat mendorong investor mengurangi strategi carry trade, yakni meminjam yen berbunga rendah untuk membeli aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain.
Bagi pasar saham Jepang, prospek kenaikan suku bunga cenderung menjadi sentimen negatif, terutama bagi sektor eksportir karena penguatan yen dapat mengurangi daya saing dan laba perusahaan yang banyak memperoleh pendapatan dari luar negeri. Sementara itu, obligasi pemerintah Jepang (JGB) berpotensi mengalami kenaikan imbal hasil (yield) apabila pasar semakin yakin BOJ akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.
Bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sikap BOJ yang lebih hawkish berpotensi memicu sebagian aliran dana global kembali ke Jepang sehingga dapat memberikan tekanan jangka pendek pada IHSG, rupiah, maupun obligasi pemerintah Indonesia (SBN). Namun, selama kenaikan suku bunga BOJ berlangsung secara bertahap dan sesuai ekspektasi pasar, dampaknya diperkirakan tetap terbatas.
Sebaliknya, apabila BOJ mempertahankan suku bunga sekaligus memberikan sinyal yang lebih dovish, tekanan terhadap yen kemungkinan berlanjut sehingga arus dana global berpotensi tetap mengalir ke aset berisiko, termasuk saham dan obligasi di pasar negara berkembang.

