[Medan | 29 Juni 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways pada perdagangan pekan ini dengan rentang 5.700–5.950, di tengah minimnya sentimen domestik yang mampu mendorong kenaikan signifikan serta meningkatnya sikap wait and see investor menjelang sejumlah penawaran umum perdana saham (IPO).
Secara teknikal, support terdekat berada di area 5.800, sementara resistance berada pada kisaran 5.950–6.000. Pergerakan indeks juga diperkirakan akan dipengaruhi oleh berkurangnya likuiditas pasar karena memasuki masa penawaran umum beberapa IPO besar yang berlangsung pada awal Juli.
Likuiditas Berpotensi Terserap Penawaran IPO
Memasuki periode 1–7 Juli 2026, beberapa emiten baru mulai memasuki masa penawaran umum saham kepada investor. Pada 1 Juli, emiten JELI, PRDL, dan JECX resmi memasuki masa penawaran umum, disusul EMMI pada 2 Juli. Kondisi tersebut berpotensi menyerap sebagian likuiditas yang sebelumnya beredar di pasar sekunder, karena investor cenderung mengalokasikan dana untuk berpartisipasi dalam penawaran saham perdana.
Secara historis, meningkatnya aktivitas IPO dalam waktu yang berdekatan sering kali membuat nilai transaksi di pasar reguler cenderung menurun untuk sementara. Akibatnya, ruang penguatan IHSG menjadi lebih terbatas, terutama ketika belum terdapat katalis positif yang cukup kuat untuk mendorong arus dana kembali ke pasar sekunder.
Dengan kondisi tersebut, likuiditas pasar saham diperkirakan masih relatif tipis sepanjang pekan ini. Hal itu membuat IHSG lebih rentan mengalami pergerakan sideways maupun volatilitas yang lebih tinggi apabila muncul sentimen negatif, baik dari dalam negeri maupun global.
Pekan Padat Data Ekonomi Global dan Domestik
Selain faktor IPO, pasar juga akan menghadapi berbagai rilis data ekonomi penting yang berpotensi meningkatkan volatilitas aset keuangan.
Fokus investor sepanjang pekan meliputi:
- 30 Juni : Data JOLTs Job Openings Amerika Serikat.
- 1 Juli : China Manufacturing PMI.
- 1 Juli : Inflasi Indonesia periode Juni.
- 1 Juli : Neraca Perdagangan Indonesia periode Mei.
- 1 Juli : Inflasi awal Zona Euro.
- 1 Juli : Pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh.
- 2 Juli : Data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat.
- 2 Juli : Tingkat Pengangguran Amerika Serikat.
Selain data ekonomi, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang akan memengaruhi sentimen pasar global.
JOLTs AS Jadi Petunjuk Awal Kondisi Pasar Tenaga Kerja
Rangkaian data diawali oleh publikasi Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTs) Amerika Serikat. Pada April 2026, jumlah lowongan kerja melonjak menjadi 7,618 juta, jauh di atas ekspektasi sekitar 6,88 juta, menunjukkan pasar tenaga kerja masih sangat kuat meskipun biaya energi meningkat.
Untuk periode Mei, konsensus memperkirakan jumlah lowongan kerja akan turun ke kisaran 7,28–7,40 juta. Angka yang masih tinggi akan memperkuat pandangan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap solid dan memberi ruang bagi Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
PMI Manufaktur China Diproyeksikan Tetap Ekspansif
Pasar juga akan mencermati aktivitas manufaktur China melalui data RatingDog Manufacturing PMI. Pada Mei 2026, indeks manufaktur berada di level 51,8, sedikit turun dari 52,2 pada April, namun masih lebih baik dibanding ekspektasi pasar.
Aktivitas manufaktur masih ditopang permintaan domestik yang kuat, sementara tekanan biaya produksi mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa ekonomi China masih mampu mempertahankan momentum pertumbuhan, meskipun menghadapi tekanan eksternal.
Inflasi Indonesia Diperkirakan Naik Tipis
Badan Pusat Statistik akan merilis data inflasi Juni pada 1 Juli. Pada Mei lalu, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,08% akibat kenaikan harga pangan, biaya distribusi, transportasi, dan perumahan. Konsensus memperkirakan inflasi Juni naik tipis menjadi sekitar 3,1%, namun masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5%. Selama inflasi tetap terkendali, ruang bagi Bank Indonesia mempertahankan stabilitas kebijakan moneter masih cukup terbuka.
Surplus Neraca Perdagangan Diperkirakan Membaik
Pada hari yang sama, BPS juga akan merilis data neraca perdagangan Mei 2026. Setelah surplus April menyusut drastis menjadi hanya US$90 juta, pasar memperkirakan surplus kembali meningkat mendekati US$4 miliar seiring normalisasi impor dan tetap kuatnya ekspor nonmigas. Perbaikan surplus perdagangan berpotensi menjadi sentimen positif bagi rupiah.
Inflasi Zona Euro Masih Menjadi Perhatian ECB
Inflasi kawasan Euro diperkirakan sedikit melandai menjadi 3,1% dari 3,2% pada Mei. Meski demikian, angka tersebut masih jauh di atas target 2% European Central Bank (ECB), sehingga peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat masih relatif terbatas.
Pidato Kevin Warsh Berpotensi Menggerakkan Pasar
Investor juga akan mencermati pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, untuk memperoleh petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga. Pasar akan mengamati apakah The Fed tetap mempertahankan pendekatan higher for longer atau mulai membuka peluang perubahan kebijakan setelah beberapa data ekonomi terbaru. Komentar yang bernada hawkish berpotensi mendorong penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Data NFP Menjadi Penentu Ekspektasi The Fed
Puncak perhatian pasar berada pada rilis Non-Farm Payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran Amerika Serikat. Pada Mei lalu, ekonomi AS berhasil menciptakan 172 ribu lapangan kerja baru, jauh di atas ekspektasi pasar.
Untuk Juni, konsensus memperkirakan penambahan lapangan kerja melambat ke kisaran 110–114 ribu, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap berada di 4,3%. Apabila pasar tenaga kerja tetap kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi kembali meningkat.
Analisis
Pekan ini diperkirakan berlangsung dengan volatilitas tinggi karena pasar harus mencerna berbagai data ekonomi penting, baik dari Indonesia maupun Amerika Serikat. Di sisi domestik, perhatian tertuju pada inflasi dan neraca perdagangan yang akan menjadi indikator kondisi fundamental ekonomi nasional. Sementara itu, dari eksternal, data ketenagakerjaan AS serta pidato Ketua The Fed berpotensi menjadi katalis utama pergerakan pasar global.
Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan masih bergerak terbatas karena likuiditas pasar berpotensi terserap oleh beberapa IPO besar pada awal Juli. Di sisi lain, ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik Timur Tengah juga masih membuat investor cenderung berhati-hati.
Selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.800, peluang konsolidasi menuju kisaran 5.950–6.000 masih terbuka. Namun, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan ketahanan yang kuat sehingga memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, tekanan terhadap aset berisiko, termasuk IHSG, diperkirakan masih akan berlanjut.

