IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Bisnis

Ramai Transaksi Saham GOTO di Bawah Rp 50 Jelang Rebalancing MSCI, Ada Apa?

By Aurelia 2 hours ago Bisnis
Image source: AP/ swa.co.id
SHARE

[Medan | 26 Agustus 2026] Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi perhatian pasar menjelang rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas minimum harga saham Rp50 per saham. Kebijakan tersebut dinilai dapat mengubah mekanisme pembentukan harga saham-saham yang selama ini tertahan di level Rp50, termasuk GOTO. 

Analis pasar modal menilai perubahan tersebut berpotensi menjadi sentimen positif sekaligus risiko baru bagi GOTO. Di satu sisi, penghapusan batas bawah membuka ruang bagi proses price discovery yang lebih alami. Di sisi lain, saham yang selama ini tertahan di Rp50 juga berpotensi mengalami tekanan jual apabila investor akhirnya memiliki ruang untuk menjual pada harga di bawah level tersebut.

GOTO Selama Ini “Terkunci” di Rp50

GOTO menjadi salah satu saham yang menarik perhatian karena pergerakannya masih stagnan di level Rp50 setelah sebelumnya mengalami tekanan menyusul rencana pemerintah membatasi potongan komisi aplikasi menjadi 8% dari sebelumnya 20%. Dengan batas minimum Rp50, investor yang ingin menjual saham GOTO tidak dapat menawarkan harga lebih rendah di pasar reguler. Kondisi tersebut membuat harga Rp50 menjadi semacam price floor. 

Apabila aturan tersebut dihapus, harga saham tidak lagi memiliki batas bawah Rp50. Artinya, secara teoritis GOTO dapat diperdagangkan di Rp49, Rp48, Rp47, dan seterusnya apabila tekanan jual lebih besar dibandingkan permintaan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti GOTO akan turun. Justru, penghapusan batas bawah memungkinkan pasar menemukan harga keseimbangan baru berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran.

Bisa Positif untuk GOTO, Tetapi Ada Risiko Capitulation Selling

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai penghapusan batas minimum harga dapat menjadi sentimen positif bagi GOTO karena memberikan ruang price discovery. Selain itu, rencana buyback hingga Rp3,5 triliun serta perbaikan kinerja operasional dapat menjadi faktor yang menopang harga saham. Namun, Nafan mengingatkan bahwa investor tetap perlu melihat apakah kekuatan permintaan mampu mengimbangi potensi tekanan jual setelah batas bawah Rp50 dihapus.

Di sinilah risiko terbesar bagi GOTO muncul. Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai persoalan utama GOTO bukan semata-mata fundamental perusahaan, tetapi likuiditas saham. Hal tersebut menjadi semakin penting karena likuiditas GOTO sebelumnya menjadi perhatian indeks global seperti FTSE dan MSCI. 

Wafi memperkirakan sebagian investor ritel yang sudah lama menunggu kesempatan keluar dapat melakukan capitulation selling setelah batas Rp50 dihapus. Artinya, investor yang sebelumnya tidak memiliki pilihan selain menahan saham di Rp50 akhirnya memperoleh kesempatan menjual, meskipun harus menerima harga di bawah Rp50. Sebaliknya, investor yang masih percaya terhadap pemulihan fundamental GOTO dapat melihat penurunan tersebut sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi atau averaging down.

Fundamental GOTO Justru Mulai Membaik

Menariknya, tekanan harga saham GOTO tidak sepenuhnya mencerminkan perkembangan fundamental terbaru perusahaan. Pada kuartal II-2026, GOTO mencatat laba bersih Rp252 miliar, meningkat dari laba bersih Rp171 miliar pada kuartal I-2026. Dengan demikian, GOTO telah mencatatkan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut. Ini menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi GOTO berbeda dengan perusahaan yang harga sahamnya rendah akibat fundamental yang terus memburuk.

Persoalannya adalah bagaimana pasar menilai keberlanjutan profitabilitas tersebut. Investor akan melihat apakah laba tersebut dapat dipertahankan, apakah arus kas semakin kuat, bagaimana pertumbuhan bisnis inti, serta apakah perusahaan mampu menciptakan pertumbuhan yang cukup untuk membenarkan valuasinya. Dengan kata lain, harga Rp50 bukan berarti GOTO murah. Jika saham turun menjadi Rp40 atau Rp30 sekalipun, investor tetap perlu melihat kapitalisasi pasar, jumlah saham beredar, kinerja keuangan, arus kas, serta prospek bisnis perusahaan.

Penghapusan Rp50 Bukan Berarti Harga Saham Pasti Jatuh

Penghapusan batas minimum hanya menghilangkan batas perdagangan, bukan menentukan harga saham. Jika permintaan terhadap GOTO jauh lebih besar dibandingkan tekanan jual, harga saham justru dapat bergerak naik. Sebaliknya, apabila investor yang ingin keluar jauh lebih banyak daripada investor yang bersedia membeli, harga dapat bergerak turun melewati Rp50. Karena itu, setelah aturan baru diterapkan, pergerakan GOTO justru dapat menjadi lebih informatif. Pasar akan mulai memperlihatkan berapa sebenarnya harga yang bersedia dibayar investor terhadap prospek GOTO.

Lalu Apa Hubungannya dengan MSCI?

Isu GOTO menjadi semakin menarik karena terjadi menjelang perkembangan terkait indeks global. Menurut Wafi, persoalan likuiditas menjadi salah satu faktor yang diperhatikan FTSE dan MSCI hingga GOTO akhirnya keluar dari konstituen indeks tersebut. Namun, perubahan batas minimum harga saham dan keputusan indeks merupakan dua hal berbeda.

Bagi investor pasif atau passive fund, perubahan mekanisme perdagangan tidak otomatis membuat mereka membeli GOTO kembali. Keputusan investasi mereka lebih banyak ditentukan oleh apakah GOTO kembali menjadi bagian dari indeks yang menjadi benchmark mereka. Jadi, penghapusan harga minimum Rp50 dapat memperbaiki mekanisme perdagangan GOTO, tetapi belum otomatis menyelesaikan persoalan inklusi GOTO dalam indeks global.

Justru Bisa Membantu Price Discovery

Pengamat pasar modal Hendra Wardana melihat perubahan aturan ini lebih luas daripada sekadar perubahan teknis perdagangan. Menurutnya, penghapusan batas minimum dapat membantu pasar membedakan perusahaan yang memang memiliki peluang pemulihan dengan perusahaan yang mengalami masalah fundamental struktural.

Selama harga saham tertahan di Rp50, investor tidak memperoleh informasi harga secara penuh ketika tekanan jual masih berlanjut. Dengan adanya ruang perdagangan di bawah Rp50, pasar dapat membentuk harga baru berdasarkan fundamental dan ekspektasi investor. Namun, investor tidak boleh menggunakan nominal harga sebagai ukuran murah atau mahal. Saham Rp1 belum tentu lebih murah daripada saham Rp1.000. Yang menentukan murah atau mahal adalah valuasi perusahaan relatif terhadap kemampuan menghasilkan laba, arus kas, aset, pertumbuhan, dan risiko bisnis.

Potensi Dampak ke IHSG

GOTO merupakan salah satu saham dengan jumlah investor ritel yang besar dan likuiditas perdagangan yang signifikan. Karena itu, perubahan mekanisme perdagangan GOTO dapat meningkatkan volatilitas pada saham tersebut. Namun, dampaknya terhadap IHSG kemungkinan tidak sebesar dampaknya terhadap GOTO secara individual.

Investor institusi akan lebih memperhatikan bobot GOTO dalam indeks, arus dana asing, perubahan konstituen indeks, serta fundamental perusahaan. Apabila GOTO mengalami penurunan tajam setelah batas bawah dihapus, sentimen negatif dapat muncul terutama di kalangan investor ritel. Namun, selama tidak terjadi aksi jual besar-besaran pada saham berkapitalisasi besar lainnya, dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan kemungkinan masih terbatas.

Sebaliknya, jika pasar menilai perbaikan fundamental GOTO berkelanjutan dan permintaan mampu menyerap tekanan jual, penghapusan batas harga justru dapat meningkatkan likuiditas dan efisiensi perdagangan.

Prospek GOTO: Volatilitas Naik, Bukan Berarti Otomatis Bearish

Dalam jangka pendek, risiko volatilitas GOTO kemungkinan meningkat ketika batas Rp50 benar-benar dihapus. Ada tiga kemungkinan utama. Pertama, investor lama melakukan capitulation selling sehingga harga jatuh di bawah Rp50. Jika permintaan belum cukup kuat, penurunan dapat berlangsung lebih jauh. Kedua, harga turun terlebih dahulu akibat tekanan jual, kemudian investor yang melihat perbaikan fundamental mulai masuk dan membentuk harga keseimbangan baru. 

Ketiga, pasar justru menilai laba dua kuartal berturut-turut, rencana buyback, dan perbaikan operasional sebagai katalis. Permintaan kemudian mampu menyerap tekanan jual sehingga harga dapat kembali naik. Untuk saat ini, risiko terbesar bukan sekadar hilangnya level Rp50, tetapi apakah demand baru benar-benar muncul setelah price floor tersebut dihapus.

 

You Might Also Like

Setelah Kasus Blokir Rekening, Bagaimana Nasib Saham Bank Mandiri (BMRI)?

BEI Berencana Hapus Saham Gocap, Harga Bisa ke Rp 1

FTSE Russell Tunda Penambahan Saham Indonesia Hingga Desember 2026

Saham INET, WIFI, hingga DOOH Kompak Terbang, Ada Apa?

Bayan Resources (BYAN) Sebut Tak Tahu Kabar Haji Isam Mau Akuisisi

TAGGED: saham GOTO
Aurelia August 26, 2026 August 26, 2026
Previous Article Iran-Oman Bahas Pembukaan Selat Hormuz, Harga Minyak Kembali Turun di Bawah US$90
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?