[Medan | 26 Agustus 2026] Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI ikut menjadi perhatian setelah muncul polemik terkait penundaan transaksi rekening milik Supriyono alias Botok, Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), yang disebut digunakan untuk menghimpun dana donasi.
Pada perdagangan Senin (24/8/2026), BMRI sempat turun 30 poin atau 0,71% ke level Rp4.190 per saham. Pada akhir perdagangan, BMRI ditutup di Rp4.200, turun 20 poin atau 0,47% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp4.220. Sekilas, pergerakan tersebut terjadi bersamaan dengan mencuatnya polemik rekening donasi. Namun, belum tepat jika pelemahan BMRI langsung dianggap sebagai respons pasar terhadap kasus tersebut.
Pasalnya, tekanan terjadi di pasar yang lebih luas. Pada hari yang sama, BBRI turun 1,86%, BBNI melemah 1,07%, sementara BBCA terkoreksi 1,55%. IHSG juga ditutup turun 0,37% ke level 6.501,66 dan rupiah melemah 0,11% terhadap dolar AS. Dengan demikian, investor perlu memisahkan antara sentimen terhadap BMRI secara khusus dan tekanan pasar secara keseluruhan.
Apa yang Terjadi dengan Rekening Supriyono?
Polemik bermula dari rekening Bank Mandiri milik Supriyono yang disebut menampung sekitar Rp80,9 juta. Dana tersebut dikabarkan merupakan gabungan dana pribadi dan donasi masyarakat untuk mendukung aksi warga Pati di Jakarta. Menjelang agenda penyampaian aspirasi di depan Gedung DPR RI, rekening tersebut tidak dapat digunakan untuk bertransaksi.
Pada awalnya, peristiwa tersebut ramai disebut sebagai pemblokiran rekening. Namun, Bank Mandiri menjelaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum sesuai prosedur yang berlaku. Polda Metro Jaya kemudian menjelaskan bahwa permintaan penyidik bukan berupa pemblokiran rekening, melainkan penundaan transaksi dalam rangka penyelidikan, yang disebut berlaku paling lama lima hari kerja.
Perbedaan istilah tersebut menjadi salah satu sumber perdebatan publik. Bagi pemilik rekening, konsekuensinya tetap terasa karena dana yang tersimpan untuk sementara tidak dapat digunakan.
Di sisi lain, PPATK menyatakan tidak melakukan penghentian transaksi terhadap rekening Supriyono. Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menjelaskan bahwa penyidik memiliki kewenangan hukum untuk melakukan penundaan transaksi maupun pemblokiran rekening. Artinya, persoalan tersebut berada pada persimpangan antara kewenangan aparat penegak hukum, kewajiban kepatuhan bank, serta hak nasabah atas akses dan informasi mengenai rekeningnya.
Mengapa Ini Bisa Menjadi Perhatian Investor BMRI?
Bagi investor saham, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah rekening ditunda transaksinya atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah kejadian tersebut berkembang menjadi risiko reputasi dan tata kelola bagi Bank Mandiri.
Bank merupakan bisnis yang sangat bergantung pada kepercayaan. Nasabah menempatkan dana karena percaya bahwa bank mampu menjaga keamanan uang, menjalankan prosedur dengan benar, serta memberikan akses sesuai ketentuan. Karena itu, ketika suatu persoalan rekening menjadi perhatian publik secara luas, investor akan melihat bagaimana bank menangani situasi tersebut.
Jika masalah dapat diselesaikan dengan cepat dan transparan, dampaknya terhadap fundamental perusahaan kemungkinan terbatas. Namun, apabila polemik berkembang menjadi persoalan yang lebih luas mengenai tata kelola, kepatuhan, perlindungan nasabah atau kepercayaan publik, risiko reputasinya menjadi lebih relevan bagi valuasi saham.
Tetapi Fundamental BMRI Masih Menjadi Faktor Utama
Investor juga tidak akan menilai BMRI hanya berdasarkan satu kasus. Kinerja fundamental tetap menjadi faktor utama dalam menentukan valuasi saham bank. Riset Maybank Sekuritas yang dikutip Kontan mencatat laba BMRI pada semester I-2026 tumbuh 24%. Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan pendapatan berbasis komisi, penurunan beban operasional dan turunnya biaya pencadangan. Namun, BMRI juga menghadapi tantangan dari sisi pendanaan. Loan to deposit ratio atau LDR disebut mencapai 95,1%, sementara porsi dana murah atau CASA mengalami tekanan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor memiliki sejumlah faktor lain yang harus diperhitungkan, mulai dari pertumbuhan kredit, kualitas aset, biaya dana, margin bunga, CASA hingga pencadangan. Dengan kata lain, satu kontroversi publik tidak serta-merta mengubah fundamental BMRI.
Pelemahan BMRI Hari Itu Belum Bisa Disebut Akibat Kasus
Ini menjadi poin penting bagi investor. Pada Senin (24/8), BMRI memang turun 0,47%. Namun, saham bank besar lainnya juga mengalami tekanan yang bahkan lebih besar. BBRI turun 1,86%, BBNI turun 1,07% dan BBCA turun 1,55%. Pada saat yang sama, IHSG juga melemah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ada tekanan sektor dan pasar secara umum, sehingga terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa investor secara khusus melakukan aksi jual BMRI karena polemik rekening Supriyono.
Untuk mengetahui apakah kasus tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap saham BMRI, investor perlu melihat pergerakan beberapa hari atau beberapa minggu berikutnya, terutama dibandingkan dengan kinerja saham bank besar lainnya dan IHSG. Jika BMRI terus mengalami underperformance ketika sektor perbankan secara umum stabil, barulah indikasi adanya tekanan spesifik terhadap BMRI menjadi lebih relevan untuk diperhatikan.
Risiko Terbesarnya Bukan Harga Saham, tetapi Kepercayaan
Meski demikian, bukan berarti persoalan tersebut tidak penting. Dalam industri perbankan, risiko reputasi bisa menjadi jauh lebih penting daripada dampak langsung terhadap pendapatan. Investor akan memperhatikan beberapa hal.
Pertama, seberapa cepat persoalan rekening tersebut diselesaikan. Kedua, seberapa jelas komunikasi Bank Mandiri kepada publik dan nasabah. Ketiga, apakah terdapat potensi persoalan serupa yang lebih luas. Keempat, apakah polemik berkembang menjadi isu tata kelola atau kepatuhan. Dan yang paling penting, apakah kasus tersebut memengaruhi kepercayaan nasabah terhadap Bank Mandiri.
Jika tidak ada dampak material terhadap penghimpunan dana, transaksi nasabah, kualitas kredit maupun biaya operasional, maka efek fundamental terhadap BMRI kemungkinan relatif kecil. Sebaliknya, jika muncul indikasi perubahan perilaku nasabah atau meningkatnya biaya reputasi dan kepatuhan, investor perlu memberikan perhatian lebih serius.
Bagaimana Prospek BMRI ke Depan?
Dalam jangka pendek, BMRI berpotensi tetap mengalami volatilitas karena sentimen kasus tersebut bertepatan dengan kondisi pasar yang memang sedang sensitif. Investor juga sedang menghadapi berbagai faktor eksternal seperti tingginya yield Treasury AS, ketidakpastian arah kebijakan The Fed, pergerakan rupiah serta sentimen geopolitik. Dalam kondisi seperti ini, berita negatif yang bersifat spesifik terhadap satu emiten dapat memperbesar volatilitas.
Namun, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa polemik rekening tersebut akan mengubah prospek fundamental BMRI secara material. Skenario positif terjadi apabila persoalan dapat diselesaikan dengan cepat, komunikasi bank berjalan baik, dan tidak terdapat dampak terhadap kepercayaan nasabah. Dalam skenario tersebut, harga saham BMRI kemungkinan kembali mengikuti fundamental sektor perbankan dan kondisi IHSG.
Sementara itu, skenario negatif perlu diwaspadai apabila polemik semakin besar, muncul kasus serupa, atau berkembang menjadi persoalan tata kelola yang lebih luas. Dalam kondisi tersebut, risiko reputasi dapat mulai masuk lebih dalam ke dalam pertimbangan investor.
Apa yang Harus Dilakukan Investor?
Investor tidak perlu langsung melakukan panic selling hanya karena BMRI turun 0,47% pada satu hari perdagangan. Yang lebih penting adalah memantau apakah BMRI terus mengalami tekanan relatif terhadap BBRI, BBNI dan BBCA. Bagi investor jangka panjang, fundamental tetap menjadi dasar utama. Perhatikan pertumbuhan laba, kualitas kredit, NPL, CASA, LDR, margin bunga dan biaya pencadangan.
Sementara untuk investor jangka pendek, volatilitas akibat sentimen reputasi perlu diperhitungkan karena pergerakan harga bisa lebih dipengaruhi psikologi pasar dibandingkan perubahan fundamental. Kesimpulannya, polemik rekening Supriyono memang dapat menjadi risiko reputasi bagi Bank Mandiri, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa fundamental BMRI telah berubah.
Pelemahan BMRI pada 24 Agustus juga terjadi bersamaan dengan tekanan pada saham perbankan dan IHSG secara keseluruhan. Karena itu, investor sebaiknya tidak terjebak pada korelasi antara munculnya berita dan pergerakan harga dalam satu hari.
Yang perlu diperhatikan justru apa yang terjadi setelah kasus tersebut: bagaimana Bank Mandiri menangani persoalan, bagaimana respons nasabah, apakah muncul dampak terhadap kepercayaan publik, dan apakah saham BMRI mulai menunjukkan kinerja yang secara konsisten lebih buruk dibandingkan sektor perbankan.
Pada akhirnya, harga saham bisa berubah dalam hitungan menit, tetapi kepercayaan terhadap sebuah bank dibangun dalam waktu bertahun-tahun. Untuk BMRI, justru kemampuan menjaga kepercayaan itulah yang akan menjadi ujian paling penting setelah polemik ini.

