[Medan | 9 September 2026] Harga minyak mentah kembali melonjak pada perdagangan Rabu (9/9/2026), melanjutkan penguatan selama empat hari berturut-turut. Eskalasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa konflik di Timur Tengah akan semakin meluas dan mengganggu pasokan energi global.
Brent Mendekati US$100 per Barel
Harga minyak Brent berjangka naik US$1,57 atau 1,6% menjadi US$99,49 per barel pada awal perdagangan. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,60 atau 1,72% menjadi US$94,63 per barel. Penguatan tersebut membawa harga Brent semakin dekat ke level psikologis US$100 per barel, seiring meningkatnya premi risiko akibat konflik yang mulai secara langsung menyasar kapal dan infrastruktur terkait pengangkutan minyak.
Iran Serang Aset Militer AS
Eskalasi terbaru terjadi setelah Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap dua kapal perusak AS serta fasilitas yang disebut sebagai pangkalan militer AS di Al Azraq, Yordania. Iran menyebut serangan menggunakan rudal balistik tersebut sebagai aksi balasan atas serangan AS terhadap kapal-kapal tanker minyak Iran sebelumnya.
Yordania menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan 18 dari 20 rudal balistik yang diluncurkan. Dua rudal lainnya dilaporkan jatuh di wilayah tidak berpenghuni dan tidak menimbulkan korban.
AS Ancam Terus Hancurkan Kapal Tanker Iran
Ketegangan semakin meningkat setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington akan terus menyerang kapal tanker Iran sebagai respons atas upaya serangan terhadap kapal perang AS.
Komando Pusat AS atau CENTCOM sebelumnya juga menyatakan telah menghancurkan lima kapal pengangkut minyak mentah Iran pada 8 September, setelah terjadi sejumlah upaya serangan rudal terhadap kapal Angkatan Laut AS dalam beberapa hari sebelumnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konflik tidak lagi hanya menjadi ancaman geopolitik, tetapi telah mulai berdampak langsung terhadap infrastruktur dan jalur distribusi energi.
Premi Risiko Minyak Kembali Meningkat
Pasar minyak kini kembali memasukkan premi risiko yang lebih besar ke dalam harga minyak mentah. Brent telah melonjak sekitar 25% sejak awal Agustus, seiring memudarnya harapan akan tercapainya penyelesaian permanen terhadap konflik.
Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian utama investor. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman energi paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan terhadap pelayaran berpotensi mengurangi pasokan minyak global secara signifikan.
Level US$100 Jadi Perhatian Pasar
Dengan Brent yang kini berada di sekitar US$99 per barel, perhatian pasar akan tertuju pada apakah harga minyak mampu menembus dan bertahan di atas level US$100 per barel. Jika konflik terus meningkat dan mulai mengganggu volume ekspor minyak secara nyata, tekanan terhadap harga dapat berlanjut. Sebaliknya, setiap perkembangan diplomatik yang mampu meredakan konflik atau membuka kembali akses pelayaran secara lebih aman di Selat Hormuz berpotensi menurunkan premi risiko minyak.
Bagi pasar global, kenaikan harga minyak juga menjadi perhatian karena dapat kembali mendorong tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memperumit kebijakan bank sentral, termasuk The Fed, yang saat ini masih berusaha menyeimbangkan antara pengendalian inflasi dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

