[Medan | 8 September 2026] Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman terkait pengaturan pelayaran di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Perjanjian ini berpotensi membuka kembali sebagian jalur pelayaran di selat strategis tersebut, tetapi sekaligus memperkuat peran Iran dan Oman dalam menentukan akses kapal yang melintas.
Iran dan Oman Masuki Tahap Akhir Negosiasi
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pembicaraan dengan Oman telah mengalami kemajuan signifikan. Kesepakatan yang disebut sebagai sebuah “kesepahaman” itu akan mengatur jalur aman sementara bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Rincian perjanjian nantinya akan didokumentasikan dan disampaikan kepada International Maritime Organization (IMO), badan PBB yang menangani urusan pelayaran internasional. Iran berharap proses tersebut tidak mendapat campur tangan dari pihak ketiga.
Harga Minyak Sempat Pangkas Kenaikan
Kabar mengenai potensi kesepakatan tersebut sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi. Investor menilai pengaturan jalur pelayaran dapat memungkinkan lebih banyak kapal tanker dan kapal komersial kembali melintasi Selat Hormuz sekaligus mengurangi risiko serangan terhadap kapal.
Harga minyak Brent masih bergerak di level tinggi, tetapi sempat memangkas penguatan setelah kabar tersebut muncul. Brent diperdagangkan mendekati US$97 per barel pada Senin siang waktu London, setelah sebelumnya menyentuh US$97,93 per barel.
Jutaan Barel Minyak Masih Melintasi Hormuz
Macquarie memperkirakan sekitar 7 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari saat ini masih melewati Selat Hormuz. Angka tersebut jauh di bawah sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang berlangsung.
Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran belum sepenuhnya terhenti. Namun, hanya sebagian kecil pemilik kapal yang bersedia mengambil risiko melintasi selat tersebut dengan mempertimbangkan kompensasi harga yang memadai. Hal itu membuat volume minyak yang cukup besar tetap dapat dikirim melalui jalur strategis tersebut.
Iran dan AS Saling Klaim Serangan
Potensi kesepakatan Iran-Oman muncul setelah Iran pada akhir pekan mengklaim telah menyerang tiga kapal yang menggunakan jalur tanpa izin serta tiga kapal lain yang memiliki keterkaitan dengan AS. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Sebelumnya, militer AS menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak mentah Iran dan menghancurkan salah satunya. Serangan tersebut disebut sebagai respons terhadap serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap dua kapal perang AS menggunakan rudal balistik. Di sisi lain, fasilitas minyak Saudi Aramco di Jazan, dekat Laut Merah, juga dilaporkan terkena serangan. Tingkat kerusakan fasilitas tersebut masih dalam penilaian.
Status Hormuz Jadi Titik Konflik Berikutnya
Iran dan Oman kini berupaya meresmikan mekanisme pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz yang berbatasan dengan kedua negara. Keduanya juga berpotensi mengenakan biaya layanan bagi kapal yang melintas.
Posisi tersebut berbeda dengan keinginan AS yang menghendaki Selat Hormuz kembali pada kondisi sebelum perang, ketika jalur tersebut dapat digunakan secara bebas. AS juga masih memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai upaya membatasi ekspor minyak negara tersebut.
Risiko Inflasi Global Masih Membayangi
Iran secara efektif menutup Selat Hormuz setelah serangan AS dan Israel pada akhir Februari. Hingga kini, berbagai upaya untuk mengakhiri konflik belum menghasilkan penyelesaian permanen dan ketegangan masih diwarnai serangan balasan secara berkala.
Perang yang telah memasuki bulan ketujuh tersebut terus menjadi risiko utama bagi pasar energi global. Harga minyak, bahan bakar, dan gas alam yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara, sementara perkembangan terbaru di Selat Hormuz akan menjadi faktor penting bagi arah harga minyak dan ekspektasi inflasi global dalam beberapa waktu ke depan.

