IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Cadangan Devisa RI September 2026 Turun Tipis ke USD 146,3 Miliar

By Aurelia 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ ekbis.harianjogja.com
SHARE

[Medan | 8 Oktober 2026] Posisi cadangan devisa Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai salah satu faktor yang membantu menjaga posisi cadangan devisa tersebut adalah langkah Bank Indonesia (BI) mengurangi intervensi di pasar spot.

Dengan posisi tersebut, cadangan devisa setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Level tersebut masih memberikan bantalan eksternal yang relatif kuat bagi Indonesia.

Intervensi Spot BI Lebih Terbatas

David mengatakan stabilnya cadangan devisa tidak hanya berasal dari berkurangnya penggunaan devisa untuk intervensi. Surplus perdagangan Indonesia yang kembali menguat juga menjadi salah satu faktor pendukung. Surplus perdagangan pada Agustus 2026 tercatat US$3,55 miliar, melonjak dibandingkan surplus pada Juli yang hanya US$121,9 juta.

“Langkah BI untuk mengurangi intervensi di pasar spot menjadi salah satu faktor yang menjaga cadangan devisa, ditambah faktor lain seperti surplus dagang yang belakangan kembali menguat,” ujar David kepada Kontan, Rabu (7/10/2026). Kombinasi surplus perdagangan dan penggunaan devisa yang lebih terbatas untuk intervensi membantu menjaga posisi cadangan devisa tetap tinggi.

Rupiah Masih Menghadapi Tekanan

Meski posisi cadangan devisa relatif terjaga, David menilai BI masih membutuhkan instrumen tambahan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, fasilitas lindung nilai melalui hedging swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) masih belum cukup untuk menahan tekanan dari arus keluar modal asing. Kondisi tersebut membuat rupiah masih menghadapi tekanan, meskipun Indonesia memiliki cadangan devisa yang relatif besar.

Yield Curve Perlu Dibuat Lebih Atraktif

Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah meningkatkan tingkat imbal hasil (rate) pada yield curve untuk membuat aset berdenominasi rupiah lebih menarik bagi investor. David menilai langkah tersebut penting karena yield spread Indonesia saat ini berada di level terendah sepanjang sejarah atau record low.

Dengan meningkatkan imbal hasil aset rupiah, daya tarik investasi domestik diharapkan meningkat sehingga dapat membantu menahan tekanan arus modal keluar sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar.

Stabilisasi Rupiah Tak Cukup Andalkan Intervensi

David menilai strategi stabilisasi rupiah perlu menggunakan kombinasi berbagai instrumen. Kebijakan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan intervensi di pasar spot maupun fasilitas lindung nilai. Dengan demikian, posisi cadangan devisa yang tetap kuat perlu dibarengi dengan strategi untuk menjaga daya tarik aset domestik, terutama ketika tekanan terhadap rupiah berasal dari arus modal keluar dan rendahnya yield spread Indonesia.

 

Dampak ke Market: Positif untuk Devisa, Perlu Diperhatikan untuk Bonds

Dari perspektif market, cadangan devisa US$146,3 miliar merupakan buffer positif bagi rupiah dan sovereign bonds Indonesia karena menunjukkan kapasitas eksternal Indonesia masih kuat. Surplus perdagangan yang kembali meningkat juga memberikan dukungan dari sisi fundamental eksternal.

Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan untuk pasar obligasi. Jika BI perlu membuat aset rupiah lebih atraktif dengan menaikkan rate yield curve, maka yield SUN berpotensi tetap tinggi atau bahkan naik, terutama pada tenor yang sensitif terhadap arus modal asing. Logikanya sederhana: outflow asing → rupiah tertekan → aset rupiah perlu dibuat lebih menarik → yield perlu memberikan kompensasi lebih tinggi → harga obligasi berpotensi mendapat tekanan.

Karena itu, untuk fixed income, data cadangan devisa ini cenderung positif dari sisi fundamental eksternal, tetapi komentar mengenai perlunya meningkatkan yield curve menjadi perhatian karena dapat menjaga upward pressure pada yield SUN apabila tekanan terhadap rupiah dan capital outflow berlanjut.  

 

You Might Also Like

CEO Danantara Sebut Sejumlah BUMN Bakal IPO di Tahun 2027

Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 180 Triliun di Halmahera

Harga Minyak Naik Lagi Usai AS Disebut Tengah Persiapkan Serangan ke Iran

Risalah The Fed Sebut Kenaikan Suku Bunga Masih Diperlukan

China Terus Tambah Cadangan Emas 23 Bulan Berturut, Tembus 77,47 Juta Ons

TAGGED: cadangan devisa, cadangan devisa RI
Aurelia October 8, 2026 October 8, 2026
Previous Article Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 180 Triliun di Halmahera
Next Article CEO Danantara Sebut Sejumlah BUMN Bakal IPO di Tahun 2027
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?