[Medan | 8 Oktober 2026] Harga minyak kembali bergerak naik setelah muncul laporan bahwa Gedung Putih meminta Pentagon menyiapkan opsi serangan terhadap Iran yang dapat dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS). Pergerakan harga juga mendapat dorongan dari terganggunya produksi minyak mentah di Teluk Meksiko akibat badai.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak menuju level US$89 per barel, sementara Brent berada di sekitar US$100 per barel. Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
AS Siapkan Opsi Serangan ke Iran
Laporan The Atlantic yang mengutip dua pejabat pemerintahan AS menyebut Gedung Putih telah meminta Pentagon menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran yang dapat dilaksanakan sebelum pemilu paruh waktu AS. Informasi tersebut berlawanan dengan ekspektasi yang sebelumnya berkembang bahwa Presiden Donald Trump akan menahan diri dari langkah yang berpotensi meningkatkan eskalasi dengan Teheran menjelang pemungutan suara bulan depan. Perubahan ekspektasi tersebut kembali meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah, khususnya terhadap kelancaran perdagangan minyak dari kawasan tersebut.
Produksi Teluk Meksiko Terganggu Badai
Dari AS, tekanan terhadap pasokan juga datang dari penghentian produksi di kawasan Teluk Meksiko akibat Badai Tropis Isaias. Berdasarkan data Marine Minerals Administration, produsen minyak di kawasan tersebut menghentikan produksi lebih dari 510.000 barel per hari. Volume tersebut setara dengan sekitar seperempat dari total produksi minyak di Teluk Meksiko. Gangguan produksi tersebut memberikan tambahan dorongan terhadap harga minyak di tengah pasar yang sudah sensitif terhadap risiko pasokan global.
Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak
Harga minyak telah mengalami kenaikan tajam sepanjang tahun ketika konflik antara AS dan Iran mengganggu ekspor, mengurangi persediaan energi global, serta meningkatkan tekanan inflasi. Meskipun aliran minyak dari Timur Tengah dilaporkan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, risiko keamanan terhadap jalur pelayaran masih tinggi. Serangan terhadap kapal juga meningkat, termasuk serangan terhadap sebuah kapal tanker di perairan lepas pantai Qatar yang dilaporkan menimbulkan korban. Kondisi tersebut membuat pasar tetap mewaspadai kemungkinan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan dan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Ketegangan Meluas ke Arab Saudi dan Yaman
Ketegangan regional juga terjadi di wilayah lain. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan menyerang sejumlah target di Arab Saudi. Serangan tersebut kemudian diikuti serangkaian serangan oleh koalisi yang dipimpin Riyadh terhadap sejumlah lokasi di Yaman. Perkembangan ini menambah kompleksitas risiko geopolitik di kawasan yang menjadi salah satu pusat utama produksi dan perdagangan minyak dunia.
Harga Minyak
Pada perdagangan Kamis, WTI untuk pengiriman November naik 0,8% menjadi US$88,96 per barel pada pukul 06.01 waktu Singapura. Sementara itu, kontrak Brent untuk penyelesaian Desember turun 0,4% menjadi US$100,20 per barel pada penutupan perdagangan Rabu.
Dampaknya ke Market
Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi inflasi dan aset emerging market jika berlangsung lama. Logikanya, konflik meningkat → risiko gangguan pasokan minyak naik → harga minyak naik → biaya energi dan transportasi meningkat → tekanan inflasi bertambah.
Bagi Indonesia, harga minyak yang bertahan tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah dan inflasi, sekaligus menjadi perhatian bagi fiskal apabila kebutuhan subsidi atau kompensasi energi meningkat. Di pasar obligasi, kondisi tersebut berpotensi membuat investor lebih berhati-hati karena inflasi yang lebih tinggi dapat membatasi ruang pelonggaran moneter.
Namun, dampaknya tidak otomatis negatif untuk seluruh aset Indonesia. Jika harga komoditas tinggi turut menopang penerimaan ekspor dan neraca perdagangan, sebagian tekanan eksternal dapat terkompensasi. Untuk SUN, perhatian utama tetap pada durasi kenaikan harga minyak, arah inflasi, rupiah, serta respons kebijakan Bank Indonesia.

