IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Risalah The Fed Sebut Kenaikan Suku Bunga Masih Diperlukan

By Aurelia 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ cnbcindonesia.com
SHARE

[Medan | 8 Oktober 2026] Pejabat Federal Reserve atau The Fed masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun diperlukan untuk meredam inflasi yang telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun. Namun, risalah rapat terbaru belum memberikan sinyal jelas mengenai kapan kenaikan tersebut akan dilakukan.

Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis Rabu (7/10/2026) menunjukkan mayoritas pejabat menilai kenaikan kembali suku bunga acuan kemungkinan tepat dilakukan sebelum akhir tahun. The Fed dijadwalkan kembali mengambil keputusan kebijakan pada 28 Oktober dan 9 Desember.

Mayoritas Pejabat Masih Buka Ruang Kenaikan

“Sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan lain pada kisaran target federal funds rate kemungkinan tepat dilakukan pada akhir tahun,” demikian isi risalah tersebut, dikutip CNBC. Meski demikian, The Fed menegaskan bahwa kenaikan suku bunga tidak bersifat otomatis. Setiap pertemuan akan ditentukan berdasarkan perkembangan data ekonomi terbaru serta perubahan keseimbangan risiko terhadap prospek pertumbuhan dan inflasi.

Pasar sebelumnya sempat memperkirakan kenaikan suku bunga kembali terjadi pada rapat akhir Oktober. Ekspektasi itu muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September. Namun, perkembangan inflasi terbaru dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed setelah rapat tersebut membuat kenaikan pada Oktober tidak lagi menjadi skenario utama.

Inflasi Masih Jauh di Atas Target

Data Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi salah satu indikator inflasi utama pilihan The Fed, menunjukkan inflasi inti mencapai 3% secara tahunan pada Agustus. Sementara inflasi umum tercatat 3,4%. Kedua angka tersebut masih berada jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Meski demikian, realisasi tersebut lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, salah satunya akibat perubahan metode perhitungan pada sejumlah komponen indeks.

Risalah FOMC September juga memperlihatkan bahwa para pejabat masih melihat risiko inflasi bertahan tinggi dalam periode yang lebih panjang. Pada saat yang sama, pasar tenaga kerja dinilai berada “dekat dengan tingkat kesempatan kerja maksimum”, sementara pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan menunjukkan penguatan.

16 dari 18 Pejabat Proyeksikan Kenaikan

Kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September disetujui secara bulat, meskipun sebelumnya terdapat indikasi bahwa sejumlah pejabat utama masih enggan menaikkan suku bunga. “Banyak peserta menekankan bahwa jalur suku bunga yang lebih tinggi akan menjadi langkah yang bijaksana dari sisi manajemen risiko,” tulis risalah tersebut.

Dalam proyeksi terbaru, The Fed diperkirakan melakukan satu kali kenaikan tambahan pada 2026 dan tidak menaikkan suku bunga lagi pada 2027. Dari 18 pejabat FOMC yang menyampaikan proyeksi, sebanyak 16 orang memperkirakan masih akan ada kenaikan tambahan.

Pernyataan Warsh Jadi Sorotan

Ketua The Fed Kevin Warsh belum menyampaikan proyeksi sejak menduduki jabatan tersebut pada Mei. Namun, dalam konferensi pers setelah rapat September, Warsh mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengurangi “dosis akomodasi” dalam kebijakan moneter. Pernyataan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dinilai membuka ruang bagi kenaikan suku bunga berikutnya.

Meski demikian, sejumlah pejabat The Fed setelah rapat tersebut menegaskan bahwa bank sentral tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Perkembangan inflasi juga menunjukkan sejumlah tanda yang lebih positif, meskipun ekspektasi inflasi jangka pendek mengalami peningkatan cukup tajam.

Ekspektasi Inflasi Konsumen Meningkat

Tekanan inflasi juga tercermin dalam indikator berbasis survei. Survei terbaru Federal Reserve Bank of New York yang dirilis Rabu menunjukkan kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga dalam satu tahun ke depan berada di level tertinggi sejak Mei 2023. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi The Fed karena ekspektasi inflasi yang meningkat dapat membuat tekanan harga lebih sulit kembali ke target 2%.

Yield Treasury Tembus Level Tertinggi Sejak 2002

Sementara itu, imbal hasil Treasury AS terus meningkat dan telah mencapai level tertinggi sejak 2002. Dalam rapat September, para pejabat The Fed turut membahas kenaikan yield tersebut. Mereka mengaitkan peningkatan imbal hasil dengan ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih tinggi, perkembangan investasi kecerdasan buatan atau AI, serta pertumbuhan ekonomi AS yang tetap solid. Ekonom The Fed juga menilai sebagian kenaikan yield kemungkinan berasal dari ketidakpastian terkait pengumuman dan implementasi program pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah AS.

Buyback Surat Utang Belum Banyak Menekan Yield

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Agustus mengumumkan rencana untuk meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah yang telah diterbitkan, khususnya obligasi dengan tenor panjang. Namun, program tersebut sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap yield Treasury. Imbal hasil surat utang AS masih berada di sekitar level tertinggi sejak 2002.

Dampaknya ke Market

Risalah ini cenderung bearish untuk bond market, karena memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS masih bisa lebih tinggi. Logikanya sederhana: inflasi masih di atas target → The Fed masih membuka peluang kenaikan rate → yield Treasury berpotensi tetap tinggi → harga obligasi tertekan, terutama tenor panjang yang memiliki durasi lebih besar.

Untuk Indonesia, yield UST yang tinggi meningkatkan required return investor terhadap aset emerging market. Artinya, SUN perlu menawarkan yield yang cukup kompetitif terhadap Treasury, terutama jika rupiah juga berada di bawah tekanan. Kondisi ini dapat membatasi ruang penurunan yield SUN dalam jangka pendek dan membuat obligasi tenor panjang lebih sensitif terhadap pergerakan UST.

Untuk rupiah, higher-for-longer The Fed juga cenderung menjadi tekanan karena aset dolar AS tetap menawarkan imbal hasil yang menarik. Dengan demikian, fokus pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi AS, pasar tenaga kerja, serta keputusan The Fed pada 28 Oktober dan 9 Desember 2026 untuk menentukan apakah kenaikan tambahan benar-benar terealisasi.

You Might Also Like

CEO Danantara Sebut Sejumlah BUMN Bakal IPO di Tahun 2027

Cadangan Devisa RI September 2026 Turun Tipis ke USD 146,3 Miliar

Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 180 Triliun di Halmahera

Harga Minyak Naik Lagi Usai AS Disebut Tengah Persiapkan Serangan ke Iran

China Terus Tambah Cadangan Emas 23 Bulan Berturut, Tembus 77,47 Juta Ons

TAGGED: risalah the fed, suku bunga AS, suku bunga The Fed
Aurelia October 8, 2026 October 8, 2026
Previous Article China Terus Tambah Cadangan Emas 23 Bulan Berturut, Tembus 77,47 Juta Ons
Next Article Harga Minyak Naik Lagi Usai AS Disebut Tengah Persiapkan Serangan ke Iran
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?