IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Fed Naik, BOJ Menyusul: Ke Mana Arah Likuiditas Global?

By Aurelia 1 day ago Ekonomi
Image source: AP/ currencytransfer.com
SHARE

[Medan | 17 September 2026] Pasar global menghadapi dua keputusan kebijakan moneter penting pada pekan ini. Federal Reserve pada 16 September 2026 menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%, sementara Bank of Japan (BOJ) akan menggelar rapat kebijakan pada 18 September 2026. Berdasarkan pricing pasar saat ini, probabilitas kenaikan suku bunga BOJ sebesar 25 bps berada di sekitar 99%, yang berpotensi membawa policy rate Jepang menjadi 1,25%.

Kedua keputusan tersebut perlu diperhatikan bukan hanya dari besaran kenaikan suku bunganya, tetapi dari dampaknya terhadap global liquidity, biaya pendanaan, obligasi pemerintah, nilai tukar, dan arus modal internasional. Fed memiliki pengaruh besar terhadap biaya pendanaan dalam dolar AS, sedangkan BOJ selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber pendanaan murah melalui yen. Apabila kedua bank sentral tersebut bergerak menuju kebijakan yang lebih ketat secara bersamaan, perubahan kondisi likuiditas global dapat menjadi lebih signifikan.

Fed: 25 Bps Hike dan Beri Sinyal Kenaikan Lanjutan

Pada 16 September 2026, Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%–4,00%. Ini merupakan kenaikan pertama Fed dalam lebih dari tiga tahun. Yang menarik, keputusan tersebut bukan keputusan yang terpecah. FOMC menyetujui kenaikan tersebut dengan suara bulat 12–0. Dalam pernyataannya, Fed menyebut aktivitas ekonomi masih berkembang dengan kecepatan yang solid, konsumsi domestik tetap tangguh, pertumbuhan produktivitas kuat, investasi modal masih tinggi, dan kondisi pasar tenaga kerja relatif stabil. Di sisi lain, inflasi masih dianggap terlalu tinggi.

Artinya, kenaikan ini tidak terjadi karena Fed melihat ekonomi Amerika sedang jatuh ke dalam perlambatan tajam. Justru gambaran ekonominya masih cukup kuat. Proyeksi terbaru Fed memperlihatkan:

  • Suku bunga federal funds akhir 2026: 4,1%
  • Pertumbuhan ekonomi 2026: 2,3%
  • Pengangguran 2026: 4,1%
  • Inflasi PCE 2026: 3,7%
  • Inflasi PCE 2027: 2,3%
  • Inflasi PCE 2028: 2,1%
  • Target inflasi 2% diproyeksikan kembali tercapai pada 2029
  • Proyeksi suku bunga akhir 2027: 4,1%
  • Proyeksi suku bunga akhir 2028: 3,9%

Perubahan proyeksi ekonominya juga penting. Proyeksi pertumbuhan 2026 naik dari 2,2% menjadi 2,3%, sementara proyeksi pengangguran turun dari 4,3% menjadi 4,1%. Sebaliknya, proyeksi inflasi PCE 2026 naik dari 3,6% menjadi 3,7%.

Jadi pesan Fed cukup jelas: pertumbuhan ekonomi masih mampu bertahan, tetapi inflasi belum cukup rendah untuk membuat kebijakan moneter menjadi lebih longgar. Reuters melaporkan bahwa 16 dari 18 pembuat kebijakan memproyeksikan setidaknya satu kenaikan lagi sebelum akhir 2026. Market pricing juga menunjukkan sekitar 90% peluang adanya kenaikan tambahan pada akhir tahun.

Image source: AP/ cleveland13news.com

Ketika Higher Rates Bertemu dengan Utang Pemerintah AS

Hubungan antara kenaikan suku bunga Fed dan utang pemerintah AS sebenarnya dimulai dari biaya penerbitan utang baru. Ketika Fed menaikkan suku bunga, tingkat bunga di pasar USD ikut terdorong naik. Karena pemerintah AS membiayai defisit dengan menerbitkan Treasury, pemerintah harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi agar investor bersedia membeli utang baru.

Fed Rate ↑ → Imbal Hasil Treasury ↑ → Biaya Utang Baru ↑

Namun, kenaikan suku bunga tidak berarti seluruh utang pemerintah AS langsung menjadi lebih mahal. Treasury yang sudah diterbitkan memiliki kupon tetap hingga jatuh tempo. Biaya bunga baru meningkat ketika Treasury tersebut jatuh tempo dan pemerintah harus menerbitkan utang baru untuk menggantikannya.

Utang Lama Jatuh Tempo → Diterbitkan Kembali → Yield Lebih Tinggi → Biaya Bunga Lebih Tinggi

Masalahnya, jumlah utang pemerintah AS sangat besar dan pemerintah juga masih mengalami defisit. CBO memperkirakan debt held by the public mencapai sekitar 101% dari PDB pada 2026, sementara beban bunga bersih sekitar US$1 triliun pada tahun yang sama. Artinya, semakin banyak utang yang harus dibiayai kembali pada tingkat bunga yang lebih tinggi, semakin besar pula tekanan terhadap anggaran pemerintah.

Kebutuhan penerbitan utang juga tetap besar. Treasury memperkirakan kebutuhan pembiayaan dari investor swasta sekitar US$739 miliar pada kuartal III dan US$628 miliar pada kuartal IV 2026. Karena itu, kondisi suku bunga tidak hanya memengaruhi permintaan investor, tetapi juga menentukan berapa mahal biaya pemerintah untuk mendapatkan pembiayaan. Jadi, yang perlu diperhatikan bukan hanya “Fed naik 25 bps”, tetapi efek kumulatifnya apabila suku bunga bertahan tinggi dalam waktu lama:

Suku Bunga Tinggi → Yield Treasury Tinggi → Penerbitan Utang Baru Lebih Mahal → Refinancing Lebih Mahal → Beban Bunga Pemerintah Meningkat

Inilah mengapa kenaikan suku bunga Fed menjadi semakin penting ketika bertemu dengan ukuran utang dan kebutuhan pembiayaan pemerintah AS yang besar.

Image source: AP/ fortune.com

Treasury Buyback: Mengelola Supply di Tengah Yield yang Tinggi

Di tengah kondisi tersebut, Treasury juga menggunakan buyback program sebagai bagian dari debt management. Pada September, Treasury meningkatkan ukuran operasi buyback long-dated Treasury menjadi hingga US$6 miliar per operasi, tiga kali lebih besar dari ukuran sebelumnya. Buyback tersebut ditujukan antara lain untuk meningkatkan likuiditas pada tenor yang lebih panjang.

Treasury Secretary Scott Bessent juga mempertahankan penggunaan buyback sebagai salah satu instrumen pengelolaan pasar Treasury. Namun, penting untuk membedakan kebijakan ini dengan quantitative easing. Treasury buyback bukan QE. Buyback dilakukan oleh Treasury untuk mengelola outstanding debt dan likuiditas surat utang, sementara QE merupakan instrumen moneter Federal Reserve. Karena itu, buyback tidak dapat diartikan sebagai tindakan Fed untuk secara langsung menekan Treasury yield.

Bahkan, respons pasar menunjukkan keterbatasan pengaruh buyback terhadap keseluruhan Treasury market. Reuters melaporkan bahwa setelah Treasury mengumumkan peningkatan buyback menjadi US$6 miliar, yield obligasi tenor 10, 20, dan 30 tahun justru meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa faktor seperti inflasi, oil prices, fiscal deficit, dan supply Treasury masih lebih dominan dibandingkan ukuran buyback tersebut.

Image source: AP/ iis.fraunhofer.de

AI Boom: Ketika Treasury dan Korporasi Sama-Sama Membutuhkan Modal

Selain pemerintah, perusahaan besar AS juga membutuhkan dana dalam jumlah besar untuk membiayai investasi kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data. Reuters memperkirakan perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Amazon, Meta, Microsoft, dan Oracle telah menerbitkan sekitar US$220 miliar obligasi dalam satu tahun terakhir untuk mendukung ekspansi AI dan infrastruktur pusat data. 

Artinya, pasar obligasi AS menghadapi kebutuhan pendanaan dari dua sisi. Kondisi ini bisa menciptakan kompetisi dalam pasar kredit. Treasury membutuhkan investor untuk menyerap penerbitan pemerintah dalam jumlah besar, sementara perusahaan teknologi juga meningkatkan supply corporate bonds. Namun, corporate issuance tidak berarti secara otomatis menyebabkan Treasury yield naik. Treasury tetap menjadi benchmark utama fixed-income market, sementara corporate bonds memiliki tambahan credit spread terhadap Treasury. 

Bagi Fed, kondisi ini menciptakan trade-off yang menarik. Suku bunga yang lebih tinggi membantu menekan inflasi, tetapi pada saat yang sama biaya modal yang terlalu tinggi dapat memperlambat investasi dan aktivitas ekonomi. Karena itu, investasi AI juga menjadi salah satu jalur bagaimana kebijakan suku bunga Fed dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi, bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa Fed akan menentukan kebijakan hanya demi melindungi sektor AI.

Apakah Fed Akan Menahan Suku Bunga Demi Treasury?

Besarnya utang pemerintah AS membuat kenaikan suku bunga semakin berdampak pada biaya pembiayaan pemerintah. Namun, hal ini tidak berarti Fed akan menahan atau menurunkan suku bunga hanya untuk membantu Treasury. Mandat utama Fed tetap menjaga stabilitas harga dan tingkat penyerapan tenaga kerja maksimum. Jika inflasi masih tinggi, Fed tetap memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga pada level yang ketat meskipun konsekuensinya adalah yield Treasury dan biaya pembiayaan pemerintah tetap tinggi.

Karena itu, yang perlu diperhatikan investor bukan apakah Fed akan “menyelamatkan Treasury”, tetapi seberapa besar dampak suku bunga tinggi terhadap ekonomi secara keseluruhan. Suku bunga yang bertahan tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah, perusahaan, KPR, dan investasi. Jika tekanan tersebut mulai memengaruhi pertumbuhan atau pasar kredit secara signifikan, kondisi ekonomi menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan Fed berikutnya. Dengan begitu, utang pemerintah AS memang menjadi salah satu konsekuensi penting dari suku bunga tinggi, tetapi bukan target utama kebijakan Fed.

Image source: AP/ foxbusiness.com

Risiko yang Lebih Besar dari BOJ: Carry Trade Unwind

Setelah keputusan Fed, perhatian pasar langsung beralih ke Bank of Japan. BOJ akan mengadakan pertemuan kebijakan pada 17–18 September 2026, dengan perkiraan menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1,25%, menjadi level tertinggi dalam 31 tahun. 

Jika Fed menentukan biaya pendanaan dalam USD, BOJ memiliki peran penting dalam menentukan biaya pendanaan JPY. Jepang selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber pendanaan yang murah karena suku bunga Jepang jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

Investor dapat melakukan strategi sederhana:

Pinjam dalam yen dengan bunga rendah → tukarkan ke mata uang lain → beli aset dengan imbal hasil lebih tinggi → memperoleh keuntungan dari selisih bunga

Strategi tersebut dikenal sebagai strategi carry trade. Masalahnya muncul ketika BOJ menaikkan suku bunga dan yen menguat.

BOJ naik → biaya pinjaman yen meningkat → selisih bunga dengan aset luar negeri mengecil → strategi carry trade menjadi kurang menarik → investor mengurangi posisi → yen dibeli kembali → yen menguat

Jika proses tersebut berlangsung cepat, dampaknya dapat terasa pada saham, obligasi, dan mata uang negara lain. Reuters mencatat bahwa penguatan yen menjelang keputusan BOJ sudah mulai mengganggu strategi carry trade yang sebelumnya banyak digunakan investor.

Jika Fed dan BOJ Sama-Sama Naik

Di sinilah kedua kebijakan moneter tersebut menjadi jauh lebih menarik. Jika Fed menaikkan suku bunga dan BOJ juga menaikkan suku bunga dalam waktu yang berdekatan, pasar menghadapi perubahan pada dua sisi sekaligus.

Dari AS:

Fed naik → USD menjadi lebih mahal untuk dipinjam → Treasury jangka pendek tertekan → USD menguat

Dari Jepang:

BOJ naik → JPY menjadi lebih mahal untuk dipinjam → yen berpotensi menguat → strategi carry trade berkurang

Gabungannya:

Fed naik + BOJ naik → biaya pendanaan USD dan JPY meningkat → dua sumber pendanaan utama global menjadi kurang murah → investor menjadi lebih selektif → arus modal berpotensi berubah → volatilitas meningkat

Namun, ini tidak otomatis berarti terjadi market crash. Kuncinya adalah apakah perubahan tersebut sudah diperhitungkan oleh pasar. Jika investor sudah mengantisipasi Fed naik 25 basis poin dan BOJ naik 25 basis poin, maka keputusan aktual dapat menghasilkan reaksi yang relatif terbatas. Sebaliknya keputusan yang sesuai perkiraan tetapi disertai pesan Fed yang lebih ketat dari ekspektasi dapat memicu reaksi pasar yang lebih besar, sehingga komunikasi setelah keputusan sering kali lebih penting daripada besarnya kenaikan suku bunga itu sendiri. 

Apa Dampaknya bagi Emerging Markets?

Kenaikan suku bunga Fed dan BOJ dapat meningkatkan tekanan terhadap emerging markets melalui tiga jalur utama: arus modal, nilai tukar, dan biaya pendanaan. Ketika imbal hasil aset AS semakin tinggi dan Jepang mulai menawarkan imbal hasil yang lebih menarik, investor global memiliki lebih banyak alternatif di negara maju. Akibatnya, dana yang masuk ke emerging markets menjadi lebih selektif.

Namun, dampaknya berbeda untuk setiap negara. Emerging markets dengan inflasi yang terkendali, cadangan devisa kuat, kondisi fiskal sehat, dan ketergantungan yang lebih rendah terhadap modal asing cenderung memiliki sumber penyangga yang berbeda dibandingkan negara yang lebih rentan terhadap arus modal keluar.

Pada akhirnya, arah likuiditas global bukan berarti seluruh dana berpindah dari emerging markets ke AS atau Jepang, tetapi likuiditas menjadi lebih selektif. Suku bunga AS yang tinggi menjaga daya tarik USD dan aset AS, sementara kenaikan suku bunga Jepang membuat yen semakin menarik sebagai mata uang pendanaan yang sebelumnya murah. Kondisi ini membuat investor lebih berhati-hati dalam mengalokasikan dana ke saham, obligasi, dan mata uang emerging markets. Bagi Indonesia, kuncinya adalah kemampuan SBN, rupiah, dan pasar saham untuk tetap menawarkan imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko yang dihadapi investor.

Image source: AP/ unair.ac.id

Dampaknya bagi Indonesia

Rupiah: jika suku bunga AS tetap tinggi, USD cenderung tetap memiliki daya tarik yang kuat. Sementara itu, kenaikan suku bunga Jepang dapat memperkuat yen. Kombinasi tersebut dapat membuat pergerakan mata uang emerging markets, termasuk rupiah, menjadi lebih volatil.

Obligasi: kenaikan yield Treasury dapat meningkatkan tingkat imbal hasil yang diminta investor dari SBN. Jika yield SBN naik, harga obligasi turun, terutama pada obligasi dengan durasi panjang. Namun, SBN tidak hanya dipengaruhi Treasury. Kebijakan BI, inflasi domestik, kondisi rupiah, kebutuhan pembiayaan APBN, dan permintaan investor domestik juga sangat menentukan.

Saham: suku bunga tinggi meningkatkan biaya modal dan dapat menekan valuasi saham. Perusahaan dengan utang besar atau kebutuhan ekspansi tinggi cenderung lebih sensitif terhadap kenaikan biaya pendanaan. Sebaliknya, perusahaan dengan neraca kuat dan arus kas stabil memiliki sensitivitas yang berbeda.

Asset Dampak jika Fed & BoJ Semakin Ketat
Saham cenderung tertekan
Obligasi yield cenderung naik, harga turun
Emas campuran
USD cenderung menguat
JPY cenderung menguat
IDR berpotensi tertekan terhadap USD

Investor Harus Apa?

Untuk investor obligasi, fokus utama adalah yield dan durasi. Ketika yield global masih tinggi, obligasi tenor panjang memiliki risiko perubahan harga yang lebih besar. Namun, jika yield sudah cukup menarik dan investor memiliki kemampuan untuk menahan hingga jatuh tempo, kenaikan yield justru dapat menciptakan peluang memperoleh tingkat pendapatan yang lebih tinggi.

Untuk investor saham, fokus pada perusahaan dengan neraca sehat, utang yang terkendali, dan kemampuan menghasilkan arus kas. Lingkungan suku bunga tinggi membuat valuasi dan biaya pendanaan menjadi lebih penting dalam menentukan daya tahan perusahaan.

Untuk investor emas, emas tetap relevan sebagai diversifikasi, terutama ketika ketidakpastian geopolitik, fiskal, atau pasar meningkat. Namun, investor perlu memahami bahwa emas tidak menghasilkan pendapatan bunga sehingga pergerakannya dapat berbeda ketika imbal hasil riil meningkat.

Untuk investor valuta asing, USD dan JPY menjadi dua mata uang yang perlu diperhatikan. Kenaikan suku bunga AS mendukung USD, sementara kenaikan suku bunga Jepang dan pengurangan carry trade dapat mendukung JPY. Bagi investor Indonesia, perubahan keduanya dapat memengaruhi rupiah dan biaya lindung nilai.

Pada akhirnya, kondisi ini bukan mengenai mencari satu aset yang pasti naik atau turun. Yang lebih penting adalah menyesuaikan portofolio dengan sumber risiko yang sedang dominan. Jika tekanan berasal dari suku bunga, perhatikan durasi obligasi dan valuasi saham. Jika tekanan berasal dari inflasi, perhatikan emas dan komoditas. Jika tekanan berasal dari arus modal dan nilai tukar, perhatikan eksposur USD, JPY, dan aset emerging markets.

You Might Also Like

Sesuai Ekspektasi, BOJ Naikkan Suku Bunga ke 1,25%

DJP Siap Pungut Pajak Pedagang Online per 1 Oktober

Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping, AS Tunda Pengumuman Tarif Baru

Kekhawatiran Pasokan Mereda, Harga Minyak Turun ke US$ 105

Rapat Hari Ini, BOJ Diperkirakan Naikkan Suku Bunga ke 1,25%!

TAGGED: arah market, BOJ, suku bunga AS, suku bunga Jepang, The Fed
Aurelia September 17, 2026 September 17, 2026
Previous Article The Fed Naikkan Suku Bunga, Bagaimana Nasib IHSG Hari Ini?
Next Article Rapat Hari Ini, BOJ Diperkirakan Naikkan Suku Bunga ke 1,25%!
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?