[Medan | 18 September 2026] Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada Jumat (18/9/2026). Langkah ini mempercepat proses normalisasi kebijakan moneter Jepang di tengah meningkatnya risiko inflasi dan tekanan dari Amerika Serikat agar Jepang melanjutkan kenaikan suku bunga.
BOJ Naikkan Bunga dengan Suara 7-2
Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar. Seluruh ekonom yang disurvei Bloomberg sebelumnya memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga. Dalam pemungutan suara, keputusan disetujui dengan perbandingan 7-2. Anggota dewan Toichiro Asada dan Ayano Sato menjadi dua anggota yang menyatakan perbedaan pendapat terhadap keputusan tersebut.
Kenaikan kali ini juga menjadi yang tercepat dalam beberapa dekade. Jarak antara kenaikan suku bunga terbaru dan keputusan sebelumnya hanya tiga bulan, menjadi interval terpendek antar kenaikan BOJ sejak 1990.
Normalisasi Tercepat Sejak Era Gelembung Jepang
Interval kenaikan yang singkat tersebut menjadi perhatian karena periode awal 1990-an merupakan masa ketika Jepang mengalami pecahnya gelembung aset. BOJ saat itu juga melakukan pengetatan moneter dalam upaya merespons tekanan ekonomi dan keuangan yang berkembang. Dengan suku bunga kini berada di 1,25%, BOJ semakin jauh meninggalkan era suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Kenaikan Keenam Ueda
Bagi Gubernur BOJ Kazuo Ueda, keputusan kali ini menjadi kenaikan suku bunga keenam sejak dirinya memimpin bank sentral Jepang. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak yang dilakukan seorang gubernur BOJ dalam setidaknya lima dekade. Langkah ini juga berlangsung setelah muncul dorongan dari sejumlah pejabat AS, termasuk Menteri Keuangan AS Scott Bessent, agar Jepang melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.
Tekanan tersebut terutama berkaitan dengan pelemahan yen. Suku bunga Jepang yang relatif rendah dibandingkan AS dapat membuat yen tetap menjadi mata uang pendanaan murah dan memberikan tekanan terhadap nilai tukarnya.
BOJ, The Fed dan ECB Sama-Sama Naikkan Bunga
Keputusan BOJ datang di tengah perubahan lanskap kebijakan moneter global. Federal Reserve (The Fed) pada Rabu (16/9) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dan masih membuka kemungkinan kenaikan lanjutan hingga akhir tahun. Sementara itu, European Central Bank (ECB) juga menaikkan suku bunga pada pekan sebelumnya, menjadi kenaikan kedua sepanjang tahun ini.
Dengan demikian, BOJ, The Fed, dan ECB sama-sama menaikkan suku bunga dalam bulan yang sama untuk pertama kalinya. Kondisi ini menunjukkan bahwa bank-bank sentral utama kini menghadapi tekanan inflasi yang kembali meningkat setelah sebelumnya menjalankan kebijakan pelonggaran.
Dampak ke Pasar Indonesia
Kenaikan suku bunga BOJ berpotensi memberikan dampak melalui arus modal global dan pergerakan yen. Dengan imbal hasil aset Jepang yang semakin menarik, sebagian investor dapat melakukan penyesuaian portofolio dari aset berisiko di negara lain, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Salah satu perhatian utama adalah carry trade, yakni strategi meminjam dalam mata uang dengan suku bunga rendah seperti yen untuk kemudian berinvestasi pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi. Ketika BOJ menaikkan bunga, biaya pendanaan yen meningkat sehingga sebagian posisi carry trade berpotensi dikurangi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas arus modal di pasar Indonesia.
Di pasar obligasi, penyesuaian portofolio global dapat memberikan tekanan terhadap SBN dan rupiah, terutama apabila investor asing mengurangi eksposur pada aset emerging market. Kenaikan yield obligasi global juga dapat membuat aset berdenominasi dolar AS relatif lebih menarik. Namun, dampaknya terhadap SBN akan sangat bergantung pada pergerakan UST, rupiah, kebijakan Bank Indonesia, serta ekspektasi inflasi domestik.
Sementara di pasar saham, perubahan arus modal global dapat meningkatkan volatilitas IHSG, khususnya pada saham-saham dengan kepemilikan asing yang besar. Pelemahan rupiah juga dapat menjadi faktor tambahan bagi emiten yang memiliki kewajiban atau kebutuhan impor dalam dolar AS.
Pasar Menanti Arah Kebijakan Ueda
Perhatian berikutnya akan tertuju pada konferensi pers Kazuo Ueda yang dijadwalkan sekitar pukul 15.30 waktu Jepang. Investor akan mencermati penjelasan Ueda mengenai alasan kenaikan serta seberapa jauh BOJ masih akan melanjutkan pengetatan kebijakan.
Bagi Indonesia, kombinasi BOJ dan The Fed yang sama-sama mengetatkan kebijakan menjadi faktor penting yang perlu dipantau karena dapat memengaruhi arah yen, dolar AS, UST, rupiah, SBN, serta arus dana ke emerging markets. Jika pasar menilai kenaikan BOJ hanya sesuai ekspektasi dan tidak diikuti sinyal pengetatan yang agresif, dampaknya dapat lebih terbatas. Sebaliknya, sinyal kenaikan lanjutan yang lebih cepat berpotensi meningkatkan volatilitas arus modal global.

