[Medan | 22 April 2026] Harga minyak mentah dunia melanjutkan penguatan selama dua hari terakhir, didorong oleh keputusan Donald Trump yang memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Minyak jenis WTI diperdagangkan di kisaran US$90 per barel setelah sempat melonjak hampir 10% dalam dua sesi sebelumnya, sementara Brent bertahan di bawah US$99 per barel.
Gencatan Senjata Diperpanjang, Tapi Risiko Tetap Tinggi
Meski ada penundaan eskalasi militer, pasar tetap dalam kondisi waspada karena negosiasi damai masih menemui kebuntuan. AS mempertahankan blokade terhadap kapal-kapal terkait Iran, sehingga aliran minyak global belum sepenuhnya pulih. Ini menciptakan kondisi unik: risiko perang mereda sementara, tetapi gangguan suplai tetap berlangsung.
Selat Hormuz Jadi Kunci, Pasokan Masih Tertahan
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi. Jalur ini biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, namun kini aktivitas pelayaran nyaris terhenti akibat blokade dan ancaman militer. Iran bahkan menyatakan tidak akan membuka selat tersebut selama tekanan dari AS masih berlangsung.
Pasar Energi Masuk Fase Volatilitas Tinggi
Perkembangan yang cepat, mulai dari pembatalan negosiasi hingga pernyataan yang saling bertolak belakang, mendorong volatilitas minyak ke level tertinggi sejak pandemi. Lonjakan harga yang sempat menembus US$100 per barel mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap setiap headline terkait konflik ini.
Dampak ke Market
Kenaikan harga minyak memperkuat tekanan inflasi global, yang pada akhirnya menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter di berbagai negara. Bagi pasar keuangan, dolar AS cenderung tetap kuat sebagai safe haven, yield obligasi berisiko tertahan tinggi, aset berisiko, termasuk saham, menghadapi tekanan.
Untuk Indonesia, kondisi ini berpotensi menekan IHSG melalui kombinasi inflasi imported, pelemahan rupiah, dan potensi outflow asing. Meski tidak selalu memicu koreksi tajam, arah pasar cenderung sideways dan downside, terutama selama ketidakpastian geopolitik dan harga energi masih tinggi.

