[Medan | 7 September 2026] Harga minyak kembali menguat setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas. Serangan terhadap kapal tanker Iran dan rencana Teheran memperluas zona terbatas di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi yang lebih panjang.
Brent Kembali Mendekati US$97 per Barel
Harga minyak mentah Brent naik hingga 0,8% pada awal perdagangan dan kembali mendekati level US$97 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$92 per barel. Pada pukul 06.04 waktu Singapura, kontrak berjangka Brent untuk pengiriman November tercatat naik 0,2% menjadi US$96,52 per barel. WTI untuk pengiriman Oktober naik 0,5% menjadi US$91,95 per barel.
Kenaikan tersebut menunjukkan pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak, terutama karena konflik berlangsung di kawasan yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
AS Serang Kapal Tanker Iran
Amerika Serikat mengatakan telah melancarkan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak Iran pada akhir pekan. Salah satu kapal dilaporkan hancur dalam serangan tersebut. Langkah itu disebut sebagai respons terhadap serangan Iran sebelumnya menggunakan rudal balistik yang menargetkan kapal perang Angkatan Laut AS.
Di sisi lain, Iran menyatakan akan mengumumkan zona terbatas baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Area tersebut disebut akan dimulai dari garis blokade Angkatan Laut AS dan meluas ke sejumlah wilayah di Teluk Persia. Iran juga mengklaim telah menargetkan tiga kapal tanker, meskipun klaim tersebut belum mendapatkan konfirmasi independen.
Selat Hormuz Jadi Perhatian Utama Pasar
Perkembangan terbaru kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran arus minyak melalui Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting dunia, sehingga gangguan berkepanjangan dapat memberikan tekanan terhadap pasokan global.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kehadiran Angkatan Laut AS di kawasan tersebut tidak akan dikurangi. Selain menjalankan blokade terhadap ekspor minyak Iran, keberadaan armada AS juga disebut bertujuan membantu memastikan kapal komersial tetap dapat melintasi selat dengan aman.
Wright sebelumnya menyebut jutaan barel minyak mengalir melalui Selat Hormuz setiap hari. Karena itu, semakin besar risiko pembatasan atau gangguan terhadap jalur tersebut, semakin besar pula premi risiko yang dapat masuk ke harga minyak.
Harga Minyak Sudah Naik Hampir 60% Tahun Ini
Konflik terbaru memperpanjang reli minyak yang telah berlangsung sepanjang tahun. Brent tercatat telah menguat hampir 60% sejak awal 2026. Kenaikan juga terjadi pada produk olahan seperti diesel, yang mengalami tekanan lebih besar akibat meningkatnya risiko pasokan energi di tengah konflik geopolitik di Timur Tengah serta perang Rusia-Iran. Jika eskalasi AS-Iran berlanjut, pasar berpotensi semakin mengkhawatirkan bukan hanya pasokan minyak Iran, tetapi juga kelancaran distribusi energi melalui kawasan Teluk Persia.
Risiko Inflasi Kembali Meningkat
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi pasar keuangan karena dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi global. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sekaligus memperbesar risiko inflasi bertahan lebih lama. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi bank sentral, khususnya jika kenaikan harga energi terjadi bersamaan dengan pasar tenaga kerja AS yang masih kuat. Dalam situasi tersebut, ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter dapat semakin terbatas.
Bagi pasar obligasi, kenaikan harga minyak perlu diwaspadai karena dapat mendorong ekspektasi inflasi dan menekan yield obligasi global. Sementara itu, jika konflik semakin mengganggu pasokan energi, aset berisiko seperti saham juga berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

