[Medan | 4 September 2026] Dolar Amerika Serikat (AS) melemah tajam hingga mencapai level terendah sejak Mei setelah Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi AS mulai menunjukkan perbaikan. Di sisi lain, yen Jepang menguat signifikan terhadap sejumlah mata uang utama seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ).
Dolar Tertekan Setelah Komentar Waller
Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,6% pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Pelemahan tersebut menjadi penurunan harian terbesar dalam lebih dari dua pekan. Tekanan terhadap dolar meningkat setelah Waller menyatakan bahwa keputusan kebijakan moneter The Fed pada September akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi AS untuk Agustus yang akan dirilis pekan depan.
Pernyataan tersebut dinilai lebih dovish dibandingkan kekhawatiran pasar sebelumnya yang memperkirakan The Fed masih memiliki peluang untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menurun
Perubahan ekspektasi pasar terlihat dari kontrak swap yang terkait dengan keputusan The Fed pada 16 September. Setelah pernyataan Waller, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin turun menjadi hampir 50:50. Sebelumnya, probabilitas tersebut sempat berada di sekitar 70% pada awal pekan ini.
Turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga turut menekan imbal hasil aset berdenominasi dolar dan membuat mata uang AS kehilangan daya tarik. Kondisi ini menjadi katalis bagi mata uang lain untuk menguat, terutama ketika investor mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter AS yang lebih longgar.
Yen Melonjak Hampir 2%
Di tengah pelemahan dolar, yen menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di antara negara-negara Group of 10 (G10). Yen melonjak sekitar 2% terhadap dolar AS. Penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya taruhan pasar terhadap kemungkinan Bank of Japan menaikkan suku bunga. Pelaku pasar juga tetap mencermati potensi intervensi otoritas Jepang untuk menopang nilai tukar yen.
Dengan kombinasi ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari BOJ dan prospek The Fed yang mulai lebih terbuka terhadap penahanan suku bunga, selisih daya tarik antara aset Jepang dan AS turut mengalami perubahan.
Data Tenaga Kerja dan Inflasi Jadi Penentu
Pasar kini menunggu laporan ketenagakerjaan AS bulanan yang akan dirilis Jumat (4/9/2026), sebelum beralih fokus pada data inflasi Agustus pekan depan. “Waller memberikan nada dovish dalam komentarnya hari ini, mendorong dolar lebih rendah sekaligus sedikit mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September,” ujar Alex Cohen, ahli strategi valuta asing di Bank of America. Menurut Cohen, data ketenagakerjaan maupun inflasi AS yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap dolar.
Pergerakan dolar selanjutnya akan sangat bergantung pada apakah data ekonomi tersebut memperkuat pandangan bahwa inflasi sedang menuju target 2% dan pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Jika demikian, peluang The Fed menahan suku bunga dapat semakin besar dan yield Treasury berpotensi kembali mendapat tekanan.
Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, pelemahan dolar dan penurunan yield AS dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah serta aset obligasi domestik karena tekanan dari sisi arus modal global berpotensi berkurang. Namun, arah tersebut masih sangat bergantung pada data AS yang akan keluar dalam beberapa hari ke depan.

