[Medan | 4 September 2026] Presiden Prabowo Subianto membuka peluang penguatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Rusia di sejumlah sektor strategis, mulai dari energi hingga ketahanan pangan. Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan minyak dan gas bumi (migas), energi terbarukan, teknologi nuklir, pertanian, hingga produksi pupuk. Prabowo mengatakan Indonesia terbuka terhadap keterlibatan Rusia dalam meningkatkan kapasitas industri energi nasional, khususnya pada kegiatan eksplorasi, produksi, dan pengolahan minyak dan gas.
“Indonesia menyambut baik kerja sama Rusia yang meningkatkan produktivitas eksplorasi, produksi, dan pengolahan minyak dan gas,” ujar Prabowo dalam pidatonya pada Forum Ekonomi Timur atau Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang masih tinggi dan meningkatnya volatilitas harga energi.
Rusia Didorong Masuk ke Sektor Energi Indonesia
Selain sektor migas, Indonesia juga membuka peluang investasi dan transfer teknologi Rusia dalam pengembangan energi terbarukan, smart grid, hingga pembangkit listrik tenaga nuklir untuk tujuan damai.
Prabowo mengatakan Indonesia membutuhkan dukungan teknologi dan investasi untuk mempercepat pembangunan infrastruktur energi. Kerja sama di bidang nuklir dapat mencakup teknologi reaktor modular hingga pembangkit berskala besar, dengan tetap mengedepankan standar keselamatan dan pengawasan internasional.
Bagi Indonesia, diversifikasi sumber energi dan pengembangan teknologi baru menjadi semakin penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Kerja sama dengan Rusia juga berpotensi memperluas sumber teknologi dan pendanaan bagi proyek-proyek energi strategis nasional.
Kerja Sama Ketahanan Pangan dan Pupuk
Selain energi, Prabowo turut mendorong perluasan kerja sama dengan Rusia di sektor ketahanan pangan. Pemerintah melihat peluang kolaborasi dalam teknologi pertanian, pengembangan benih unggul, pembiakan ternak, hingga mekanisasi pertanian. Peluang kerja sama juga terbuka dalam industri pengolahan makanan dan produksi pupuk. Sektor pupuk menjadi salah satu bidang yang strategis karena ketersediaan dan harga pupuk memiliki pengaruh langsung terhadap produktivitas pertanian nasional.
Menurut Prabowo, penguatan kerja sama tersebut diharapkan dapat mendukung target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan sekaligus meningkatkan produktivitas sektor pertanian Indonesia. “Di bidang ketahanan pangan, kami melihat peluang dalam bekerja sama dengan Rusia pada teknologi pertanian, benih unggul, pembiakan ternak, mekanisasi pertanian, pengolahan makanan, dan produksi bersama pupuk,” ujarnya.
Ekonomi Indonesia dan Rusia Dinilai Saling Melengkapi
Prabowo menilai Indonesia dan Rusia memiliki struktur ekonomi yang saling melengkapi sehingga membuka ruang kolaborasi yang lebih besar. Rusia memiliki keunggulan dalam sektor energi, pupuk, sains, dan teknologi. Sementara Indonesia menawarkan ketersediaan sumber daya alam, pasar domestik yang besar, serta potensi pertumbuhan industri.
Pemerintah Indonesia saat ini juga tengah mempercepat agenda hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Karena itu, pemerintah mendorong investor asing untuk tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, tetapi juga membangun fasilitas produksi dan industri bersama.
Indonesia Bidik Investasi Rusia untuk Pasar ASEAN
Prabowo mengajak pelaku usaha Rusia untuk meningkatkan investasi dan membangun industri di Indonesia. Pemerintah berharap Indonesia dapat menjadi basis produksi bagi perusahaan Rusia untuk menjangkau pasar domestik yang besar sekaligus kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik.
Apabila kerja sama tersebut berkembang menjadi investasi konkret, sektor energi, industri pupuk, pertanian, dan teknologi berpotensi menjadi penerima manfaat utama. Masuknya investasi asing juga dapat mempercepat transfer teknologi serta mendukung agenda hilirisasi yang sedang dijalankan pemerintah. Namun, realisasi kerja sama akan tetap menjadi faktor utama yang perlu dicermati. Pasar akan menunggu tindak lanjut berupa kesepakatan investasi dan proyek konkret setelah pertemuan tersebut.
Bagi Indonesia, penguatan hubungan ekonomi dengan Rusia juga dapat memberikan alternatif mitra investasi dan teknologi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Di sisi lain, keberhasilan kerja sama akan bergantung pada kemampuan kedua negara menerjemahkan komitmen politik menjadi proyek bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan dapat direalisasikan dalam jangka panjang.

