[Medan | 23 Oktober 2026] Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) turun tajam pada Kamis (22/10), di tengah aksi jual di pasar saham yang dipicu kekhawatiran terhadap prospek investasi kecerdasan buatan (AI) dan lonjakan harga minyak. Investor mulai mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman, termasuk obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi suku bunga kredit seperti KPR dan pinjaman konsumen, turun lebih dari 10 basis poin ke kisaran 4,97% pada Jumat (23/10). Pada sesi sebelumnya, imbal hasil tersebut sempat turun lebih dari 14 basis poin ke sekitar 5%, level terendah dalam sebulan.
Sementara itu, imbal hasil Treasury tenor 2 tahun turun 13 basis poin menjadi 4,689%. Tenor ini lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga jangka pendek Federal Reserve (The Fed). Adapun imbal hasil tenor 30 tahun turun lebih dari 11 basis poin menjadi 5,322%.
Kekhawatiran Investasi AI Tekan Pasar Saham
Penurunan imbal hasil Treasury terjadi ketika saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan mengalami tekanan jual. Sentimen pasar memburuk setelah CEO Nvidia Jensen Huang menyampaikan bahwa permintaan terhadap infrastruktur komputasi awan (cloud computing) sangat tinggi, tetapi ketersediaan modal untuk mendukung kebutuhan tersebut masih terbatas.
Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan investasi AI, yang selama ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi AS. Investor mulai mempertanyakan apakah besarnya belanja infrastruktur AI dapat terus dipertahankan dan memberikan hasil sesuai ekspektasi.
Ketidakpastian tersebut turut mendorong pasar mengurangi ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed lebih lanjut. Berdasarkan harga instrumen pasar, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 91% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan sekitar 80%. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pasar dan bukan keputusan resmi The Fed.
Ketegangan Timur Tengah Dorong Permintaan Aset Aman
Sentimen penghindaran risiko (risk-off) juga menguat akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak mentah naik tajam pada Kamis, dengan West Texas Intermediate (WTI) sempat menembus US$99 per barel, sedangkan Brent bergerak di atas US$111 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah laporan The New York Times, yang mengutip sejumlah pejabat AS tanpa menyebutkan nama, menyebut Amerika Serikat dan Israel tengah mempertimbangkan kemungkinan melancarkan kembali serangan terhadap Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS bulan depan. Operasi yang dipertimbangkan tersebut dilaporkan berpotensi berlangsung singkat, tetapi intensif.
Ketidakpastian geopolitik meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan risiko inflasi. Di tengah situasi tersebut, obligasi pemerintah AS kembali diminati karena dipandang sebagai salah satu aset lindung nilai ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Apa Artinya bagi Pasar Obligasi Indonesia?
Penurunan imbal hasil Treasury AS dapat memberikan ruang bagi obligasi pemerintah Indonesia (SBN), tetapi dampaknya tidak otomatis positif. Pergerakan SBN tetap dipengaruhi oleh kondisi rupiah, arus dana asing, ekspektasi suku bunga Bank Indonesia (BI), serta premi risiko Indonesia.
Jika penurunan yield Treasury berlanjut dan tekanan terhadap rupiah mereda, tekanan terhadap yield SBN berpotensi berkurang. Namun, apabila lonjakan harga minyak memperburuk inflasi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar, investor dapat tetap meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset Indonesia.
Bagi investor obligasi, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah arah yield Treasury AS tenor 10 tahun, perkembangan harga minyak, pergerakan rupiah, serta ekspektasi keputusan suku bunga The Fed dan BI.
Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, investor perlu membedakan penurunan yield akibat meningkatnya permintaan aset aman dari penurunan yang didorong oleh perubahan prospek suku bunga. Keduanya dapat memengaruhi pergerakan harga obligasi, tetapi melalui mekanisme yang berbeda.

