IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Inflasi Jepang Naik, BoJ Diperkirakan Naikkan Suku Bunga di Desember

By Aurelia 1 day ago Ekonomi
Image source: AP/ kumparan.com
SHARE

[Medan | 23 Oktober 2026] Inflasi Jepang kembali melampaui target 2% Bank of Japan (BoJ) pada September 2026, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Data Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang yang dirilis Jumat (23/10) menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) inti, yang tidak memasukkan bahan pangan segar, naik 2,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut sesuai dengan estimasi median ekonom yang disurvei Bloomberg.

Sementara itu, inflasi yang tidak memasukkan bahan pangan segar maupun energi mencapai 2,4% yoy. Adapun inflasi umum Jepang juga tercatat sebesar 2,1%. Kembalinya inflasi inti ke atas target BoJ menjadi perhatian karena menunjukkan tekanan harga masih bertahan, meskipun sejumlah kebijakan pemerintah membantu menekan biaya energi bagi rumah tangga.

Harga Pangan dan Jasa Terus Meningkat

Kenaikan harga pada September terutama berasal dari biaya hotel, air, dan pangan. Harga jasa, yang menjadi salah satu indikator penting untuk menilai apakah tekanan inflasi mulai bertahan dalam perekonomian, meningkat 1,5% yoy. Angka tersebut merupakan laju tercepat sejak Maret.

Inflasi pangan di luar bahan pangan segar juga meningkat menjadi 2,9%. Namun, harga beras justru turun 20,6%, menjadi penurunan terdalam dalam catatan data sejak 1971. Setahun sebelumnya, kenaikan harga beras menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi Jepang.

Tekanan harga juga tercermin dari keputusan perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen. Teikoku Databank mencatat sejumlah perusahaan besar makanan dan minuman Jepang berencana menaikkan harga 3.153 produk pada Oktober. Jumlah tersebut melampaui 3.000 produk selama dua bulan berturut-turut, untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. Central Japan Railway Company dan Fast Retailing, perusahaan induk Uniqlo, termasuk di antara perusahaan yang mengumumkan kenaikan harga pada bulan ini.

Di sisi lain, pemotongan pajak bensin membantu meredam tekanan biaya energi. Meski demikian, ketergantungan Jepang terhadap impor energi dan pangan membuat perekonomiannya rentan terhadap kenaikan harga komoditas global, terutama di tengah konflik yang berlangsung di Timur Tengah.

BoJ Diperkirakan Kembali Naikkan Suku Bunga

Data inflasi terbaru memperkuat alasan bagi BoJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya. Bank sentral tersebut sebelumnya telah menaikkan suku bunga pada September, yang disebut sebagai kenaikan kedua dalam tiga bulan. Menurut survei Bloomberg, lebih dari 80% ekonom memperkirakan BoJ akan menaikkan suku bunga acuannya pada Desember. Tidak ada ekonom dalam survei tersebut yang memperkirakan kenaikan pada rapat kebijakan pekan depan.

Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut juga menyampaikan kepada Bloomberg bahwa BoJ kemungkinan akan mengindikasikan inflasi mendasar telah mencapai target 2% untuk pertama kalinya sejak sasaran itu ditetapkan pada 2013. Indikasi tersebut diperkirakan muncul dalam rapat kebijakan pada 30 Oktober.

Pernyataan tersebut akan menjadi perhatian pasar karena investor berusaha menilai apakah tekanan harga cukup kuat dan berkelanjutan untuk mendorong kenaikan suku bunga berikutnya. Namun, ekspektasi kenaikan pada Desember belum merupakan keputusan resmi. BoJ tetap perlu mempertimbangkan perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, upah, dan kondisi pasar sebelum menentukan arah kebijakan.

Pemerintah Berupaya Menekan Biaya Hidup

Di tengah tekanan harga, pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi mengambil langkah untuk mengurangi beban biaya hidup rumah tangga. Awal Oktober, kabinet menyetujui rancangan undang-undang untuk memangkas sementara pajak penjualan atas bahan pangan selama dua tahun mulai April mendatang.

Kebijakan tersebut diharapkan membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga. Namun, dampaknya terhadap inflasi dan keputusan BoJ akan bergantung pada pelaksanaan kebijakan serta perkembangan harga barang dan jasa lainnya.

Dampak terhadap Pasar Global dan Obligasi Indonesia

Ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ perlu diperhatikan investor global karena perubahan kebijakan moneter Jepang dapat memengaruhi arus modal internasional. Jika suku bunga Jepang meningkat, aset berdenominasi yen berpotensi menjadi lebih menarik. Dalam kondisi tertentu, investor Jepang dapat mengurangi penempatan dana di luar negeri, termasuk pada obligasi pemerintah AS dan pasar negara berkembang. Namun, besarnya dampak akan bergantung pada selisih suku bunga antarnegara, nilai tukar yen, dan keputusan investor.

Bagi pasar obligasi Indonesia, potensi perubahan arus modal tersebut dapat memengaruhi permintaan investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Jika aliran dana keluar dari pasar negara berkembang meningkat, yield SBN dapat menghadapi tekanan naik dan harga obligasi turun. Sebaliknya, dampak tersebut tidak selalu terjadi secara langsung. Pergerakan SBN juga ditentukan oleh kondisi rupiah, kebijakan Bank Indonesia, yield Treasury AS, serta persepsi investor terhadap risiko Indonesia.

Karena itu, investor perlu mencermati hasil rapat BoJ pada 30 Oktober, petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya, serta respons yen dan yield obligasi pemerintah Jepang. Perkembangan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar obligasi global menjelang akhir tahun.

 

You Might Also Like

Klaim Pengangguran AS Turun, The Fed Bakal Higher for Longer?

Apa Itu Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan (DNKK) yang Dibentuk Prabowo?

Imbal Hasil Obligasi AS Turun ke Bawah 5%, Investor Balik ke Aset Aman?

Serangan Houthi ke Saudi Meluas, Harga Minyak Tembus US$ 113 per Barel

BI Tahan Suku Bunga Acuan Tetap 5,75%, Tapi Bunga Deposito Naik

TAGGED: Bank of Japan, BOJ
Aurelia October 23, 2026 October 23, 2026
Previous Article Apa Itu Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan (DNKK) yang Dibentuk Prabowo?
Next Article Klaim Pengangguran AS Turun, The Fed Bakal Higher for Longer?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?