[Medan | 23 Oktober 2026] Harga minyak dunia bertahan di dekat level tertinggi dalam sekitar sepekan setelah meningkatnya serangan terhadap Arab Saudi memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$99 per barel pada Jumat (23/10/2026), setelah ditutup naik 2,4% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan harga minyak global, ditutup melonjak 4% ke US$113,17 per barel pada Kamis (22/10/2026).
Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan terbaru terhadap Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, serta serangan mematikan yang menargetkan sebuah ladang minyak dan bandara di Arab Saudi.
Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran konflik akan meluas kembali di kawasan Timur Tengah, termasuk di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia. Meski ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia telah pulih mendekati tingkat sebelum perang, risiko gangguan pengiriman masih membayangi pasar.
Harga Brent telah melonjak lebih dari 85% sepanjang tahun ini akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sementara itu, harga produk olahan minyak, terutama solar, mengalami kenaikan lebih cepat di tengah keterbatasan pasokan.
Ancaman Serangan Baru AS dan Israel Tambah Tekanan
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis bahwa militer AS telah “melumpuhkan” Iran. Trump juga mengancam akan mengambil langkah “sedikit lebih jauh”, tanpa menjelaskan tindakan yang dimaksud. The New York Times sebelumnya melaporkan bahwa AS dan Israel telah menyusun rencana untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada awal November mendatang.
Dennis Kissler, wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial Securities Inc., menilai perkembangan geopolitik terbaru meningkatkan kemungkinan serangan yang lebih intensif terhadap Iran dan mendorong kenaikan harga minyak di berbagai periode kontrak. “Sebagian besar pedagang menilai perkembangan terbaru ini sebagai sinyal bahwa harga akan bertahan tinggi untuk waktu yang lebih lama,” kata Kissler.
Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman diketahui berulang kali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dalam beberapa bulan terakhir. Di tengah situasi tersebut, perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Saudi Aramco, mengosongkan kantor pusatnya di Dhahran pada Kamis dan meminta pegawai bekerja dari rumah setelah alarm berbunyi. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui kejadian tersebut, penyebab alarm belum diketahui saat laporan disusun.
Pasokan Produk Olahan Masih Terbatas
Walaupun pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk Persia mulai pulih, pasokan produk olahan seperti solar masih terbatas. Kondisi tersebut diperburuk oleh meningkatnya serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, yang turut mengganggu pasokan bahan bakar di pasar internasional.
Sejumlah pemerintah mulai memanfaatkan cadangan minyak untuk membantu mengatasi tekanan pasokan. Di sisi lain, Trump mendorong berbagai langkah untuk menurunkan harga energi menjelang pemilihan paruh waktu AS, termasuk melalui kesepakatan pasokan solar dengan Moskow.
Sementara itu, pasar bahan bakar domestik Rusia mulai menunjukkan perbaikan. Produksi bensin dan solar dilaporkan meningkat, sedangkan persediaan bahan bakar mulai kembali terisi, menurut laporan Interfax yang mengutip pemerintah Rusia. Namun, perbaikan pasokan di Rusia belum menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan energi akibat konflik Timur Tengah.
Pergerakan Harga Minyak
Pada Jumat (23/10/2026) pukul 06.52 waktu Singapura, harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Desember turun 0,5% menjadi US$99 per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah Brent untuk penyelesaian Desember ditutup naik 4% ke US$113,17 per barel pada Kamis.
Perbedaan pergerakan kedua kontrak tersebut menunjukkan bahwa harga minyak tidak hanya dipengaruhi oleh risiko geopolitik, tetapi juga oleh dinamika masing-masing kontrak dan ekspektasi pasar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan.
Dampak terhadap Inflasi dan Pasar Keuangan
Harga minyak yang bertahan tinggi berpotensi meningkatkan biaya energi, transportasi, dan produksi. Bagi negara pengimpor minyak, kenaikan harga dapat menambah tekanan inflasi dan memperbesar biaya impor energi.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi jika harga jual domestik tidak disesuaikan sejalan dengan kenaikan harga internasional. Kenaikan impor minyak juga dapat menambah tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing.
Di pasar keuangan, inflasi yang lebih tinggi dapat membatasi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Jika ekspektasi inflasi meningkat dan yield obligasi global ikut naik, obligasi berpotensi menghadapi tekanan harga. Sementara itu, saham sektor energi dapat memperoleh dukungan dari kenaikan harga komoditas, meskipun kinerja masing-masing emiten tetap bergantung pada biaya produksi, volume penjualan, dan kondisi operasional.
Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan konflik AS–Iran, intensitas serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi, keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, serta kemampuan produsen utama menjaga pasokan global.

