IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Klaim Pengangguran AS Turun, The Fed Bakal Higher for Longer?

By Aurelia 1 day ago Ekonomi
Image source: AP/ cnbcindonesia.com
SHARE

[Medan | 23 Oktober 2026] Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan ketahanan, dengan jumlah klaim awal tunjangan pengangguran turun ke level terendah dalam hampir 57 tahun. Kondisi ini mengindikasikan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih relatif terkendali, meskipun perekrutan tenaga kerja belum menunjukkan penguatan yang signifikan.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (22/10) melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun 6.000 menjadi 194.000 klaim pada pekan yang berakhir 17 Oktober 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom dalam survei Reuters, yakni 200.000 klaim. Jumlah tersebut mendekati 189.000 klaim yang tercatat pada pertengahan Juli, level terendah sejak 1969.

Ketahanan pasar tenaga kerja ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah suku bunga. Ketika PHK masih rendah, bank sentral memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi guna mengendalikan inflasi, terutama jika tekanan harga kembali meningkat. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti The Fed akan terus menaikkan suku bunga. Bank sentral juga perlu mempertimbangkan perkembangan inflasi, konsumsi, dan risiko pelemahan ekonomi.

Pasar Tenaga Kerja AS Masih dalam Kondisi Low-Hire, Low-Fire

Rendahnya klaim awal pengangguran menunjukkan perusahaan AS belum banyak melakukan PHK. Para ekonom menilai keuntungan perusahaan dan permintaan domestik yang masih kuat membantu menjaga stabilitas tenaga kerja. Meski demikian, perekrutan juga belum menunjukkan momentum yang kuat. Kondisi ini dikenal sebagai low-hire, low-fire, yaitu situasi ketika perusahaan cenderung membatasi perekrutan sekaligus tidak banyak mengurangi jumlah pekerja.

Data ketenagakerjaan menunjukkan jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) AS bertambah 29.000 pekerjaan pada September, setelah meningkat 133.000 pekerjaan pada Agustus. Ketidakpastian ekonomi akibat konflik AS-Israel dengan Iran dan kebijakan tarif impor turut membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menambah tenaga kerja. Jika biaya pinjaman meningkat dan kondisi keuangan semakin ketat, aktivitas bisnis serta perekrutan berpotensi menghadapi tekanan lebih besar pada tahun depan.

Klaim Berkelanjutan Naik, Durasi Pengangguran Memanjang

Di balik rendahnya klaim awal, sejumlah indikator menunjukkan pencari kerja membutuhkan waktu lebih lama untuk memperoleh pekerjaan. Klaim berkelanjutan (continuing claims), yang mengukur jumlah orang yang masih menerima tunjangan pengangguran setelah pekan pertama bantuan, meningkat 25.000 menjadi 1,728 juta pada pekan yang berakhir 10 Oktober 2026. Durasi median pengangguran pada September mencapai 11,5 minggu, mendekati level tertinggi dalam empat setengah tahun.

Namun, klaim berkelanjutan tidak mencakup seluruh penganggur. Sebagian orang tidak memenuhi persyaratan untuk menerima tunjangan, sementara sebagian lainnya telah menghabiskan masa kelayakan bantuan. Di sebagian besar negara bagian AS, tunjangan pengangguran dibatasi hingga 26 minggu.

Dengan tingkat pengangguran sebesar 4,2% pada September, pasar tenaga kerja AS dinilai belum menjadi sumber tekanan inflasi yang signifikan. Meski demikian, kombinasi perekrutan yang lemah dan durasi pengangguran yang semakin panjang menunjukkan bahwa mencari pekerjaan mulai menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat.

Apakah The Fed Akan Mempertahankan Suku Bunga Tinggi Lebih Lama?

Pasar tenaga kerja yang masih relatif stabil dapat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), terutama jika inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi dan gangguan pasokan global. Dalam skenario tersebut, The Fed tidak harus segera menurunkan suku bunga hanya karena pertumbuhan lapangan kerja melambat. Selama PHK masih terkendali dan tekanan inflasi belum mereda, bank sentral dapat memilih untuk mempertahankan kebijakan ketat sambil menunggu data ekonomi berikutnya.

Menurut data dalam laporan, The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September menjadi 3,75%–4,00%. Ekonom memperkirakan suku bunga akan dipertahankan pada pertemuan pekan depan, sedangkan kenaikan kembali pada Desember masih menjadi salah satu kemungkinan yang diperhitungkan pasar.

Meski begitu, klaim pengangguran yang rendah bukan satu-satunya penentu kebijakan. Jika inflasi melemah dan kondisi tenaga kerja memburuk secara lebih luas, alasan untuk menaikkan suku bunga akan berkurang. Sebaliknya, jika tekanan harga tetap tinggi sementara pasar tenaga kerja bertahan, The Fed memiliki alasan lebih kuat untuk mempertahankan kebijakan ketat.

Dampak terhadap Treasury AS dan SBN Indonesia

Bagi pasar obligasi, arah suku bunga The Fed menjadi faktor penting karena memengaruhi imbal hasil Treasury AS dan daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Jika ekspektasi suku bunga tinggi bertahan, yield Treasury berpotensi tetap tinggi atau kembali meningkat. Kondisi tersebut dapat menekan harga obligasi yang sudah beredar dan meningkatkan persaingan bagi obligasi negara berkembang, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.

Tekanan terhadap SBN dapat semakin besar apabila yield Treasury naik bersamaan dengan pelemahan rupiah dan arus keluar modal asing. Namun, jika inflasi AS mereda dan ekspektasi kenaikan suku bunga berkurang, yield Treasury berpotensi turun sehingga memberikan ruang bagi pasar obligasi Indonesia.

Investor perlu memantau tiga indikator utama: perkembangan inflasi AS, data ketenagakerjaan berikutnya, serta komunikasi The Fed mengenai keputusan suku bunga pada Oktober dan Desember. Intinya, klaim pengangguran yang rendah menunjukkan PHK di AS masih terkendali, tetapi belum membuktikan bahwa pasar tenaga kerja sedang menguat. Bagi The Fed, keputusan berikutnya akan bergantung pada keseimbangan antara ketahanan tenaga kerja dan risiko inflasi. Karena itu, skenario higher for longer masih perlu diperhatikan, tetapi kenaikan suku bunga pada Desember belum dapat dianggap sebagai keputusan pasti.

 

 

You Might Also Like

Inflasi Jepang Naik, BoJ Diperkirakan Naikkan Suku Bunga di Desember

Apa Itu Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan (DNKK) yang Dibentuk Prabowo?

Imbal Hasil Obligasi AS Turun ke Bawah 5%, Investor Balik ke Aset Aman?

Serangan Houthi ke Saudi Meluas, Harga Minyak Tembus US$ 113 per Barel

BI Tahan Suku Bunga Acuan Tetap 5,75%, Tapi Bunga Deposito Naik

Aurelia October 23, 2026 October 23, 2026
Previous Article Inflasi Jepang Naik, BoJ Diperkirakan Naikkan Suku Bunga di Desember
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?