[Medan | 5 Oktober 2026] Inflasi inti di Tokyo kembali meningkat pada September 2026, memperkuat tekanan harga di Jepang dan membuka peluang bagi Bank of Japan (BOJ) untuk kembali menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Data yang dirilis pada Jumat (2/10) menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) inti Tokyo, yang tidak memperhitungkan harga makanan segar namun masih memasukkan harga bahan bakar, naik 2,7% secara tahunan pada September. Angka tersebut melonjak dari 1,8% pada Agustus dan berada di atas median proyeksi pasar sebesar 2,4%.
Inflasi Tokyo Kembali di Atas Target BOJ
Kenaikan inflasi inti Tokyo pada September menjadi yang tercepat sejak November, ketika inflasi tercatat 2,8% secara tahunan. Angka tersebut juga untuk pertama kalinya sejak Januari kembali berada di atas target inflasi BOJ sebesar 2%.
Data inflasi Tokyo menjadi salah satu indikator awal untuk membaca arah inflasi nasional Jepang. Perkembangan tersebut juga akan menjadi perhatian BOJ ketika memperbarui proyeksi inflasi dalam pertemuan kebijakan moneter pada 29-30 Oktober 2026.
Pasar Mulai Perkirakan Kenaikan Suku Bunga Desember
Reuters melaporkan pelaku pasar kini mulai mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga BOJ secara beruntun pada bulan ini. Meski demikian, banyak pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral Jepang akan menaikkan suku bunga pada Desember untuk mengantisipasi risiko inflasi yang terus berada di atas target.
Yoshiki Shinke, senior executive economist di Dai-ichi Life Research Institute, menilai tekanan inflasi Jepang masih cukup kuat meskipun sejumlah faktor temporer diperhitungkan. Ia mengatakan inflasi tetap menunjukkan penguatan apabila faktor-faktor satu kali dikeluarkan dari perhitungan.
Menurut Shinke, pelemahan yen dan dampak perang Iran turut mendorong perusahaan secara bertahap meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Ia memperkirakan inflasi inti nasional Jepang dapat menembus 3% dalam beberapa bulan mendatang, sehingga BOJ menghadapi tekanan untuk kembali menaikkan suku bunga paling cepat pada Desember.
Inflasi Tanpa Makanan Segar dan Energi Meningkat
Tekanan harga juga terlihat pada indikator inflasi yang tidak memasukkan harga makanan segar dan energi. Indeks tersebut meningkat 3,0% secara tahunan pada September, dibandingkan pertumbuhan 2,0% pada Agustus. Kenaikan tersebut merupakan yang tercepat sejak Agustus 2025. Indikator ini menjadi perhatian BOJ karena dinilai dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai tren inflasi yang mendasarinya.
Penguatan inflasi sebagian dipengaruhi berakhirnya sejumlah subsidi untuk tagihan air dan pengasuhan anak. Namun, tekanan harga juga mulai meluas ke berbagai produk makanan dan kebutuhan sehari-hari seiring kenaikan biaya bahan baku. Harga komputer pribadi dan tablet turut meningkat akibat lonjakan harga chip. Masato Koike, senior economist di Sompo Institute Plus, memperkirakan tekanan inflasi masih akan berlanjut.
Menurut Koike, inflasi inti berpotensi terus meningkat sebagai tren akibat kenaikan biaya energi yang dipicu konflik di Timur Tengah beserta dampak lanjutan dari kenaikan tersebut. Ia juga memperkirakan BOJ akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember.
Kenaikan Harga Jasa Mulai Menguat
Tekanan inflasi Jepang juga semakin terlihat pada sektor jasa. Inflasi jasa naik menjadi 2,3% pada September dari 1,4% pada bulan sebelumnya. Perkembangan tersebut mengindikasikan perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya tenaga kerja kepada konsumen di tengah kondisi pasar tenaga kerja Jepang yang ketat.
Pada bulan lalu, BOJ telah menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun. Gubernur BOJ juga mengisyaratkan bahwa bank sentral telah memasuki fase kebijakan yang berfokus pada pencegahan agar inflasi mendasar tidak bergerak terlalu jauh di atas target.
Sebelumnya, BOJ menyatakan inflasi mendasar, yaitu tren kenaikan harga yang didorong oleh permintaan setelah faktor-faktor temporer dihilangkan, telah mendekati target 2%, meskipun belum sepenuhnya mencapai sasaran tersebut.
Harga Minyak Jadi Risiko Baru bagi Inflasi
Arah harga minyak menjadi salah satu faktor yang akan diperhatikan BOJ dalam menentukan kebijakan berikutnya. Analis menilai perkembangan harga grosir dan konsumen penting karena dapat memengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga di masa mendatang. Ekspektasi tersebut menjadi faktor penting untuk menjaga inflasi yang mendasari tetap berada di sekitar target 2% BOJ.
Pada Juli 2026, BOJ memperkirakan inflasi konsumen inti mencapai 2,5% pada tahun fiskal 2026 dan 2,4% pada 2027. Proyeksi tersebut telah memasukkan dampak kenaikan biaya akibat konflik di Timur Tengah. Namun, perhatian pasar kini beralih pada kembali naiknya harga minyak mentah dalam beberapa waktu terakhir. Apabila harga energi terus meningkat, BOJ berpotensi merevisi naik proyeksi inflasinya dalam pertemuan kebijakan pada Oktober.
Shinke menilai gelombang kedua kenaikan harga energi dapat membuat inflasi bertahan lebih lama pada level tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat posisi kelompok hawkish di dalam dewan BOJ.

