[Medan | 16 September 2026] Pasar semakin yakin Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool pada Selasa (15/9/2026), probabilitas kenaikan 25 basis poin telah mencapai 93,6%, naik dari sekitar 84% sehari sebelumnya.
Jika terealisasi, Federal Funds Rate (FFR) akan meningkat dari 3,50%-3,75% menjadi 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut diperkirakan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed dalam lebih dari tiga tahun.
Keputusan The Fed Diumumkan Dini Hari
The Fed menggelar pertemuan FOMC pada 15-16 September 2026. Keputusan kebijakan moneter akan diumumkan pada Rabu pukul 14.00 waktu Washington atau sekitar Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB. Ekspektasi kenaikan juga datang dari sejumlah bank investasi global. Goldman Sachs, JPMorgan, HSBC, dan Deutsche Bank sama-sama memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada pertemuan September.
Tingginya probabilitas pasar menunjukkan bahwa kenaikan tersebut sebagian besar telah diperhitungkan dalam harga aset. Karena itu, perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada sinyal kebijakan The Fed setelah September.
Inflasi AS Masih di Atas Target
Salah satu alasan utama di balik ekspektasi kenaikan suku bunga adalah inflasi AS yang masih menunjukkan tekanan. CPI AS pada Agustus 2026 meningkat 0,4% secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Juli. Secara tahunan, inflasi berada di level 3,4%, masih jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%.
Inflasi inti yang tidak memasukkan makanan dan energi juga meningkat 0,3% secara bulanan dan 2,4% secara tahunan. Data tersebut menunjukkan proses penurunan inflasi masih menghadapi tantangan, terutama setelah pelemahan tekanan harga pada Juni dan Juli belum berlanjut secara konsisten.
Tekanan semakin diperkuat oleh data harga produsen Agustus yang juga lebih tinggi dari perkiraan. Setelah rangkaian data tersebut dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga langsung meningkat dan kemudian mencapai 93,6% pada Selasa siang.
Harga Minyak Kembali Tembus US$100
Risiko inflasi juga semakin besar dari pasar energi. Harga minyak Brent sempat melonjak hingga US$109,80 per barel pada Senin (14/9/2026), sementara WTI kembali bergerak di atas US$100 per barel. Kenaikan harga minyak mulai berdampak pada biaya energi di AS. Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata diesel nasional mencapai rekor US$6,23 per galon, sedangkan bensin reguler berada di sekitar US$4,32 per galon.
Harga diesel menjadi perhatian karena bahan bakar tersebut banyak digunakan untuk distribusi barang. Kenaikan biaya transportasi berpotensi meningkatkan biaya logistik dan pada akhirnya diteruskan ke harga barang yang dibayar konsumen.
Konflik Timur Tengah Perbesar Risiko Inflasi
Kenaikan minyak terjadi bersamaan dengan meningkatnya gangguan terhadap jalur perdagangan energi global. Selat Hormuz masih menghadapi tekanan setelah Iran melaporkan serangan terhadap sejumlah kapal di kawasan tersebut. Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan berkepanjangan pada jalur tersebut berpotensi memperketat pasokan energi dan menjaga harga minyak tetap tinggi.
Risiko pasokan juga meningkat setelah Arab Saudi menutup sementara pipa East-West menyusul serangan drone. Infrastruktur sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut menghubungkan wilayah produksi minyak di timur Arab Saudi dengan Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga dapat menjadi jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz.
Dua Jalur Energi Utama Menghadapi Gangguan
Gangguan pada pipa East-West berpotensi memengaruhi aliran minyak yang setara hingga sekitar 4% pasokan global. Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran kembali melakukan serangan di kawasan Arab Saudi dan memperluas aktivitasnya di sekitar pesisir Yaman serta jalur pelayaran Laut Merah.
Kondisi tersebut membuat pasar menghadapi tekanan pada lebih dari satu jalur distribusi energi. Selat Hormuz masih menghadapi risiko keamanan, sementara jalur alternatif melalui pipa East-West dan Laut Merah juga mengalami gangguan.
Kombinasi inflasi AS yang masih tinggi dan lonjakan harga energi menjadi alasan utama pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga malam ini. Setelah keputusan diumumkan, arah dolar AS, Treasury, saham, dan aset berisiko akan sangat bergantung pada apakah pernyataan The Fed memberikan sinyal mengenai kemungkinan kenaikan berikutnya.

