[Medan | 16 September 2026] Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan dan sempat turun ke kisaran USD75.000 pada pertengahan September. Level tersebut menjadi salah satu posisi terendah dalam lebih dari tiga pekan terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek regulasi aset digital di Amerika Serikat.
Senat AS Gagal Majukan RUU Klarifikasi Kripto
Tekanan terhadap Bitcoin muncul setelah Senat AS gagal meloloskan tahapan prosedural RUU Klarifikasi yang dirancang untuk memberikan kerangka regulasi lebih jelas bagi industri kripto. Dalam pemungutan suara, RUU tersebut memperoleh 49 suara berbanding 50 suara, masih jauh dari ambang 60 suara yang dibutuhkan untuk melanjutkan prosesnya.
Kegagalan tersebut kembali menimbulkan ketidakpastian mengenai arah regulasi aset digital di AS, terutama terkait pembagian kewenangan antara regulator keuangan yang mengawasi industri kripto.
CFTC Diproyeksikan Jadi Regulator Utama
RUU Klarifikasi sebelumnya dirancang untuk memberikan peran pengawasan utama terhadap aset digital kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Kejelasan mengenai regulator yang berwenang dinilai penting bagi perusahaan kripto karena dapat memberikan kepastian mengenai aturan operasional, kepatuhan, serta pengembangan produk aset digital.
Kemunduran proses legislasi tersebut membuat pelaku industri kembali menghadapi ketidakpastian hukum yang dapat memengaruhi keputusan bisnis dan investasi di sektor kripto AS.
Ketidakpastian Regulasi Tekan Minat Institusi
Analis menilai kegagalan RUU tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap ekosistem kripto. Ketidakjelasan kerangka regulasi dapat memengaruhi keputusan perusahaan terkait investasi, lokasi operasional, hingga tingkat partisipasi investor institusional di Amerika Serikat. Sentimen tersebut menjadi tambahan tekanan bagi Bitcoin yang sebelumnya juga menghadapi kondisi pasar yang kurang mendukung aset berisiko.
Suku Bunga Tinggi Jadi Beban Tambahan
Selain faktor regulasi, Bitcoin masih dibayangi kondisi makroekonomi global. Suku bunga yang relatif tinggi dan likuiditas yang lebih ketat dapat mengurangi minat investor terhadap aset berisiko dan spekulatif.
Perhatian pasar kini juga tertuju pada keputusan kebijakan Federal Reserve. Bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya, yang berpotensi kembali meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Investor Kripto Indonesia Ikut Mencermati
Pergerakan Bitcoin di pasar global turut menjadi perhatian investor aset digital di Indonesia. Penurunan harga Bitcoin secara global dapat langsung memengaruhi nilai portofolio investor domestik sekaligus aktivitas transaksi di pasar aset kripto.
Dengan kombinasi ketidakpastian regulasi AS dan arah kebijakan moneter yang masih ketat, pelaku pasar cenderung menunggu kejelasan dari perkembangan regulasi maupun keputusan The Fed sebelum menentukan arah investasi berikutnya.

