IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Menkeu AS Sebut Tarif Impor Trump Kemungkinan Berlaku Lagi di Juli

By Aurelia Tanu 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ bloombergtechnoz.com
SHARE

[Medan | 15 April 2026] Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa kebijakan tarif impor yang diinisiasi Presiden Donald Trump berpotensi kembali diberlakukan pada Juli 2026 melalui mekanisme hukum yang berbeda. Langkah ini diambil setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat sebelumnya membatalkan sebagian besar tarif yang diberlakukan menggunakan kewenangan darurat presiden.

Strategi Baru: Gunakan Jalur Section 301

Bessent menegaskan pemerintah akan mengaktifkan kembali kajian melalui Section 301 sebagai dasar hukum baru untuk menerapkan tarif. Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, jalur ini dinilai lebih kuat secara legal karena telah melalui pengujian di pengadilan, sehingga memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam merencanakan investasi dan belanja modal. Upaya ini mencerminkan strategi Washington untuk tetap mempertahankan kebijakan proteksionisme, meskipun menghadapi tantangan hukum domestik.

Tarif sebagai Instrumen Strategis Ekonomi

Kebijakan tarif kembali menjadi alat utama pemerintahan Trump dalam mendorong industri domestik dan mengurangi ketergantungan impor. Langkah ini juga menunjukkan bahwa agenda “trade war” berpotensi kembali mengemuka, terutama jika tarif diterapkan pada skala luas terhadap mitra dagang utama.

Di Tengah Risiko Geopolitik dan Inflasi Energi

Dalam kesempatan yang sama, Bessent menyoroti bahwa ekonomi AS masih berada dalam kondisi kuat, meskipun dibayangi konflik di Timur Tengah. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi masih dapat mencapai kisaran 3%–3,5% tahun ini, didukung oleh ketahanan konsumsi domestik.

Namun, lonjakan harga energi akibat konflik Iran tetap menjadi risiko utama terhadap inflasi headline, meskipun inflasi inti mulai menunjukkan tren penurunan.

Tekanan ke The Fed: Suku Bunga Dinilai Terlalu Tinggi

Bessent juga mengkritik Federal Reserve yang dinilai terlalu berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Menurutnya, penurunan inflasi inti seharusnya membuka ruang bagi pelonggaran moneter yang lebih agresif. Pernyataan ini mengindikasikan potensi meningkatnya tekanan politik terhadap bank sentral, terutama di tengah upaya pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

 

You Might Also Like

Data PPI AS Lebih Lemah dari Ekspektasi, Fed Punya Ruang Pemangkasan Suku Bunga?

Pemerintah Ubah Formula Harga Patokan Nikel dan Bauksit, Berlaku Mulai 15 April 2026

Israel dan Lebanon Sepakat Negosiasi Langsung Usai Pertemuan di AS

Dari Rusia, Prabowo Lanjut Kunjungan ke Prancis

Indonesia-Rusia Sepakati Kerjasama Energi hingga Investasi Industri

TAGGED: kebijakan Tarif, Menkeu AS, tarif trump
Aurelia Tanu April 15, 2026 April 15, 2026
Previous Article Pemerintah Ubah Formula Harga Patokan Nikel dan Bauksit, Berlaku Mulai 15 April 2026
Next Article Data PPI AS Lebih Lemah dari Ekspektasi, Fed Punya Ruang Pemangkasan Suku Bunga?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?