[Medan | 24 Agustus 2026] Miliarder dan pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, kembali memperingatkan investor mengenai meningkatnya risiko krisis utang Amerika Serikat (AS). Menurutnya, tekanan fiskal AS berpotensi semakin serius dan dapat memicu krisis utang dalam dua hingga tiga tahun mendatang apabila pemerintah tidak segera memperbaiki kondisi anggaran.
Dalam unggahan di LinkedIn pada Jumat (21/8), Dalio menyarankan investor untuk mengurangi ketergantungan terhadap obligasi dan melakukan diversifikasi ke berbagai kelas aset maupun negara dengan kondisi keuangan yang lebih kuat. Dalio bahkan menyarankan investor mempertimbangkan alokasi sekitar 10%-15% portofolio dalam bentuk emas, ditambah sedikit Bitcoin sebagai bagian dari strategi diversifikasi. Menurut Dalio, strategi tersebut dapat membantu mengurangi risiko portofolio sekaligus meningkatkan potensi imbal hasil ketika tekanan terhadap sistem keuangan dan mata uang meningkat.
Utang dan Beban Bunga Menjadi Sorotan
Peringatan Dalio muncul ketika pasar Treasury AS kembali menghadapi tekanan. Yield obligasi pemerintah AS tenor panjang telah meningkat ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sementara pemerintah masih harus menghadapi kebutuhan pembiayaan yang sangat besar.
Departemen Keuangan AS sebelumnya telah mengambil langkah untuk meningkatkan pembelian kembali atau buyback Treasury tenor panjang. Kebijakan tersebut sempat menekan yield, tetapi efeknya hanya bertahan dalam jangka pendek karena persoalan fundamental seperti defisit dan kebutuhan penerbitan utang masih tetap ada.
Dalio menilai kondisi tersebut sesuai dengan pola yang ia jelaskan dalam konsep debt cycle. Ketika beban pembayaran utang semakin besar sementara permintaan investor terhadap obligasi mulai melemah, pemerintah pada akhirnya menghadapi dua pilihan, yaitu menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik investor atau mendorong bank sentral membeli lebih banyak utang. Jika opsi kedua dilakukan secara agresif, konsekuensinya dapat berupa pelemahan mata uang dan peningkatan tekanan inflasi.
Defisit AS Jadi Masalah Utama
Dalio memperkirakan pemerintah AS tahun ini memperoleh pendapatan sekitar US$5,5 triliun, sementara pengeluaran mencapai sekitar US$7,5 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran berada di sekitar US$2 triliun. Pada saat yang sama, beban pembayaran bunga pemerintah diperkirakan mendekati US$1 triliun. Pemerintah juga harus melakukan refinancing terhadap utang sekitar US$10 triliun.
Kombinasi antara defisit besar, beban bunga tinggi, dan kebutuhan refinancing tersebut membuat tekanan fiskal AS semakin sulit diabaikan oleh investor. Menurut Dalio, tanpa perubahan kebijakan yang signifikan, krisis utang AS berpotensi terjadi dalam waktu sekitar dua hingga tiga tahun.
Ia menilai pemerintah perlu menurunkan defisit anggaran dari sekitar 6% terhadap PDB menjadi sekitar 3%. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui kombinasi pengurangan belanja pemerintah, peningkatan penerimaan pajak, serta penurunan suku bunga.
Mengapa Emas Menjadi Pilihan?
Dalam kondisi meningkatnya risiko fiskal, emas menjadi salah satu aset yang menarik perhatian karena tidak bergantung pada kemampuan pemerintah tertentu untuk membayar utangnya. Jika investor mulai mempertanyakan keberlanjutan utang AS dan nilai dolar, permintaan terhadap aset yang dianggap sebagai penyimpan nilai dapat meningkat.
Pergerakan harga emas belakangan juga mendukung pandangan tersebut. Harga emas melonjak ke level tertinggi sejak Mei pada perdagangan Jumat. Selain faktor fiskal AS, emas juga berpotensi mendapat dukungan dari ketidakpastian geopolitik, ekspektasi perubahan kebijakan moneter, serta kemungkinan penurunan suku bunga riil.
Bitcoin Ikut Dipandang sebagai Alternatif
Selain emas, Dalio juga menyebut Bitcoin sebagai salah satu aset yang dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya kekhawatiran terhadap sistem moneter berbasis fiat. Bitcoin telah menembus US$77.000 dan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak 2023.
Namun, karakter Bitcoin berbeda dengan emas. Bitcoin memiliki volatilitas yang jauh lebih tinggi sehingga potensi keuntungannya juga disertai risiko penurunan yang jauh lebih besar. Karena itu, Dalio tidak menyarankan Bitcoin sebagai pengganti seluruh portofolio obligasi, melainkan sebagai bagian kecil dari diversifikasi aset.
Dampak ke Pasar Obligasi dan Investor
Jika kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS semakin meningkat, dampaknya dapat menjadi signifikan bagi pasar global. Investor dapat meminta term premium yang lebih tinggi untuk memegang Treasury jangka panjang. Akibatnya, yield tenor panjang berpotensi tetap tinggi meskipun Federal Reserve mulai menurunkan suku bunga kebijakan. Kondisi ini juga dapat menekan harga obligasi global, terutama obligasi negara dengan fundamental fiskal yang lebih lemah.
Bagi pasar saham, kenaikan yield Treasury dapat menjadi tekanan karena meningkatkan discount rate dan biaya modal perusahaan. Saham dengan valuasi tinggi, terutama sektor yang sensitif terhadap suku bunga, dapat menghadapi tekanan lebih besar. Sebaliknya, emas dan aset riil berpotensi mendapatkan aliran dana apabila investor mulai melakukan diversifikasi dari aset keuangan tradisional.
Prospek ke Depan
Peringatan Dalio tidak berarti krisis utang AS pasti terjadi dalam dua atau tiga tahun. Namun, pernyataannya menyoroti risiko yang semakin diperhatikan pasar, yaitu utang yang terus meningkat, defisit besar, biaya bunga yang semakin tinggi, dan kebutuhan refinancing dalam jumlah besar.
Selama pemerintah AS belum menunjukkan jalur konsolidasi fiskal yang kredibel, tekanan terhadap yield Treasury tenor panjang berpotensi tetap tinggi. Dalam skenario tersebut, emas dapat tetap menjadi salah satu aset defensif yang menarik, sementara Bitcoin berpotensi menjadi alternatif dengan risiko dan volatilitas yang lebih tinggi.
Bagi investor obligasi, perkembangan ini menjadi penting karena kenaikan yield Treasury dapat menjadi floor bagi penurunan yield global. Artinya, meskipun bank sentral mulai melonggarkan kebijakan, yield obligasi jangka panjang belum tentu turun secara signifikan apabila investor tetap meminta kompensasi tinggi atas risiko fiskal dan inflasi.

