IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Selat Hormuz Jadi Perhatian, Sanksi Ekonomi Baru AS Untuk Iran Segera Diumumkan

By Aurelia 17 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ megapolitan.antaranews.com
SHARE

[Medan | 24 Agustus 2026] Amerika Serikat (AS) bersiap mengumumkan paket sanksi ekonomi baru terhadap Iran sebagai bagian dari upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin (24/8/2026) untuk menjelaskan rincian kebijakan tersebut. Bessent menggambarkan langkah ini sebagai bagian dari kampanye isolasi ekonomi berskala sangat besar terhadap Iran.

Dalam artikel opini di Financial Times, Bessent menyebut kebijakan tersebut sebagai “D-Day” ekonomi dan menggambarkannya sebagai salah satu serangan finansial terbesar yang pernah dilakukan AS terhadap sebuah negara.

Sebelumnya, Bessent juga mengatakan pemerintahan Trump akan menggunakan sanksi ekonomi terberat untuk menekan Iran dan meminta negara-negara lain menghentikan hubungan bisnis dengan Teheran. AS bahkan mengancam akan memberikan konsekuensi ekonomi terhadap negara maupun perusahaan yang membantu Iran menghindari sanksi.

AS Ingin Isolasi Ekonomi Iran

Tekanan terbaru tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan Trump yang ingin mempersempit ruang gerak ekonomi Iran. Washington tidak hanya menargetkan aktivitas ekonomi Iran secara langsung, tetapi juga berusaha menekan negara lain yang masih melakukan perdagangan dengan Teheran. Kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas apabila negara-negara besar, terutama pembeli minyak Iran, ikut terkena tekanan dari AS.

China menjadi salah satu negara yang paling diperhatikan karena merupakan pasar penting bagi minyak Iran. Jika sanksi baru membuat transaksi minyak Iran semakin sulit, perdagangan minyak global dapat mengalami perubahan signifikan. Namun, efektivitas kebijakan tersebut masih menjadi pertanyaan.

Iran merupakan salah satu negara yang telah lama menghadapi berbagai sanksi ekonomi. Meski demikian, Teheran selama ini tetap mampu mempertahankan hubungan perdagangan dengan sejumlah negara. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menegaskan bahwa Iran memiliki berbagai cara untuk menghadapi tekanan ekonomi dan tetap dapat menjalin hubungan dengan negara lain.

Selat Hormuz Jadi Risiko Terbesar

Perhatian pasar kini tidak hanya tertuju pada sanksi ekonomi, tetapi juga potensi respons Iran terhadap tekanan tersebut. Salah satu risiko terbesar berada di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dan gas dunia. Jika ketegangan meningkat dan aktivitas pelayaran terganggu, pasar energi global berpotensi menghadapi gangguan pasokan.

Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, menilai Iran masih memiliki kemampuan untuk memberikan gangguan terhadap kapal maupun infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Karena itu, pasar akan mencermati apakah sanksi baru AS hanya menghasilkan tekanan ekonomi atau justru mendorong Iran mengambil langkah yang lebih agresif.

Harga Minyak Berpotensi Kembali Naik

Ancaman gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor penting bagi harga minyak. Jika sanksi baru berhasil mengurangi ekspor minyak Iran tanpa memicu gangguan fisik terhadap jalur pelayaran, dampaknya terhadap harga minyak kemungkinan lebih terbatas. Pasar masih dapat menyesuaikan pasokan melalui produsen lain. Namun, situasinya akan berbeda apabila Iran merespons dengan mengganggu aktivitas pelayaran atau fasilitas energi.

Dalam skenario tersebut, pasar tidak hanya memperhitungkan hilangnya pasokan minyak Iran, tetapi juga risiko pasokan dari kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Premi risiko geopolitik dapat meningkat dengan cepat dan mendorong harga Brent maupun WTI lebih tinggi. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan inflasi global karena energi merupakan komponen penting dalam biaya transportasi, manufaktur, dan distribusi.

Dampak ke Obligasi dan Suku Bunga

Kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik dapat menjadi tantangan bagi bank sentral global. Jika harga energi meningkat dan membuat inflasi kembali sulit turun, ruang untuk melakukan pelonggaran suku bunga menjadi semakin terbatas. Bagi pasar Treasury AS, kondisi tersebut dapat menciptakan tekanan tambahan pada yield apabila investor mulai memperhitungkan inflasi yang lebih tinggi.

Hal ini menjadi semakin penting karena yield Treasury jangka panjang saat ini juga menghadapi tekanan dari persoalan defisit fiskal dan besarnya kebutuhan penerbitan utang AS. Dengan demikian, risiko Iran dapat menjadi faktor tambahan yang memperkuat tekanan pada long-end Treasury apabila pasar melihat konflik sebagai ancaman terhadap inflasi. Sebaliknya, jika konflik tidak mengalami eskalasi lebih lanjut dan sanksi hanya memberikan dampak terbatas terhadap pasokan energi, tekanan terhadap yield dapat kembali berkurang.

Dampak ke Saham dan Emas

Pasar saham juga berpotensi menghadapi volatilitas apabila harga minyak meningkat tajam. Kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan terhadap perusahaan yang memiliki biaya operasional tinggi, terutama sektor transportasi, industri, dan konsumsi. Di sisi lain, perusahaan energi dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak dan margin yang lebih tinggi.

Bagi emas, eskalasi konflik Iran berpotensi menjadi katalis positif. Ketidakpastian geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai, terutama ketika investor juga menghadapi kekhawatiran mengenai inflasi dan kondisi fiskal AS. Namun, arah emas tetap bergantung pada pergerakan dolar dan yield Treasury. Jika eskalasi geopolitik mendorong yield dan dolar naik secara bersamaan, penguatan emas dapat menjadi lebih terbatas.

Prospek ke Depan

Pasar kini menunggu dua hal utama dari kebijakan AS. Pertama, seberapa luas dan agresif sanksi baru yang akan diumumkan Bessent. Kedua, bagaimana Iran merespons tekanan tersebut. Jika Iran memilih mempertahankan jalur perdagangan dan menghindari eskalasi militer, dampak utama kemungkinan berada pada perdagangan minyak dan hubungan ekonomi dengan negara-negara yang masih membeli minyak Iran.

Namun, jika tekanan ekonomi justru mendorong Iran mengambil tindakan terhadap kapal atau infrastruktur energi di kawasan, risiko pasar akan meningkat secara signifikan. Karena itu, Selat Hormuz menjadi indikator utama yang perlu diperhatikan investor. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat mengubah isu sanksi ekonomi menjadi persoalan pasokan energi global.

Untuk pasar Indonesia, eskalasi tersebut berpotensi memberikan tekanan melalui harga minyak, inflasi, rupiah, dan yield SBN. Sebaliknya, apabila ketegangan dapat dikendalikan dan arus perdagangan tetap berjalan normal, dampaknya terhadap pasar domestik kemungkinan lebih terbatas.

Dengan demikian, fokus pasar bukan hanya pada seberapa berat sanksi yang diumumkan AS, tetapi juga apakah kebijakan tersebut berhasil menekan Iran tanpa memicu eskalasi baru yang mengganggu pasokan energi global.

 

You Might Also Like

Siap-siap, Menanti Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole Simposium

BI Imbau Bank Tak Pasarkan SRBI ke Nasabah Ritel dan Non-Bank

Peringatkan Krisis Utang AS, Ray Dalio Sarankan Beli Emas dan Bitcoin

Rupiah Akhirnya Menguat di Bawah Level 17.700, Apa Pendorongnya?

Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 juta Per Unit

TAGGED: Iran-AS, sanksi ekonomi
Aurelia August 24, 2026 August 24, 2026
Previous Article Siap-siap, Menanti Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole Simposium
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?