IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Rupiah Akhirnya Menguat di Bawah Level 17.700, Apa Pendorongnya?

By Aurelia 17 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ pegadaian.co.id
SHARE

[Medan | 24 Agustus 2026] Nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini. Penguatan tersebut memperpanjang tren positif rupiah dalam tiga perdagangan sebelumnya sekaligus membawa mata uang Garuda bertahan di bawah level Rp17.700 per dolar AS.

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah pada pembukaan perdagangan Senin (24/8/2026) menguat 0,03% ke level Rp17.680/US$. Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 0,31% pada Jumat (21/8) ke level Rp17.685/US$, yang menjadi posisi penutupan terkuat sejak 22 Mei 2026.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB hanya bergerak tipis 0,03% ke level 98,834. Pergerakan dolar yang relatif terbatas memberikan ruang bagi rupiah untuk mempertahankan penguatannya.

Sentimen Global Masih Menjadi Penentu

Meski rupiah mengawali pekan dengan positif, ruang penguatannya masih menghadapi sejumlah tantangan dari pasar global. Salah satu faktor utama adalah tingginya yield US Treasury. Pada perdagangan Jumat, yield Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,738%, sementara yield tenor 30 tahun mencapai 5,276%.

Yield Treasury yang tinggi membuat aset berdenominasi dolar tetap menarik bagi investor global. Kondisi tersebut dapat membatasi arus modal menuju pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menjadi hambatan bagi penguatan rupiah yang lebih agresif.

Pasar juga masih mencermati perkembangan konflik AS-Iran dan rencana sanksi ekonomi baru Washington terhadap Teheran. Eskalasi geopolitik berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS sekaligus mendorong kenaikan harga energi. Jika harga minyak kembali meningkat tajam, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan tambahan terhadap neraca eksternal karena kebutuhan impor energi yang besar.

Jackson Hole Jadi Perhatian

Perhatian investor global pekan ini juga tertuju pada simposium tahunan Federal Reserve di Jackson Hole. Pasar akan mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS, terutama setelah risalah FOMC Juli menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed terkait kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi tetap tinggi.

Apabila sinyal dari The Fed cenderung hawkish, yield Treasury berpotensi kembali meningkat dan dolar AS menguat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap rupiah. Sebaliknya, apabila The Fed memberikan sinyal yang lebih dovish dan pasar kembali meningkatkan ekspektasi terhadap penurunan suku bunga, tekanan terhadap dolar dapat berkurang dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat lebih lanjut.

Defisit Transaksi Berjalan Jadi Risiko Domestik

Dari dalam negeri, penguatan rupiah menghadapi tantangan dari pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 membengkak menjadi US$12,49 miliar, jauh lebih besar dibandingkan US$3,58 miliar pada kuartal sebelumnya.

Pelebaran defisit terutama dipengaruhi oleh meningkatnya defisit perdagangan migas serta menurunnya surplus perdagangan nonmigas. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena semakin besar defisit transaksi berjalan, semakin besar pula kebutuhan Indonesia terhadap aliran modal asing untuk membiayai kebutuhan eksternal.

Kepala Ekonom Bank Danamon Irman Faiz menilai kondisi tersebut dapat membatasi ruang penguatan rupiah. Menurutnya, level Rp18.000/US$ masih berpotensi kembali diuji apabila tekanan eksternal meningkat atau aliran modal asing tidak mampu mengimbangi kebutuhan pembiayaan Indonesia.

Irman memperkirakan nilai tukar USD/IDR pada akhir tahun masih berada di kisaran Rp17.900-Rp18.150. Dengan demikian, level Rp18.000 bukan lagi dianggap sebagai skenario ekstrem, tetapi masih berada dalam rentang fundamental yang mungkin terjadi.

Arah Kebijakan BI Ikut Menjadi Kunci

Selain faktor eksternal dan neraca transaksi berjalan, pasar domestik juga akan mencermati proses pemilihan Gubernur Bank Indonesia (BI). Komisi XI DPR dijadwalkan melakukan uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon Gubernur BI Destry Damayanti pada Rabu (26/8/2026).

Kepastian mengenai kepemimpinan BI menjadi penting bagi investor karena berkaitan dengan kesinambungan kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar, serta strategi BI dalam menghadapi tekanan eksternal. BI sendiri baru mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada RDG 18-19 Agustus. Keputusan tersebut didukung oleh kondisi rupiah yang mulai stabil serta masih kuatnya permintaan terhadap instrumen moneter seperti SRBI.

Prospek Rupiah

Dalam jangka pendek, rupiah berpeluang mempertahankan penguatan selama dolar AS tidak kembali menguat signifikan, arus modal asing tetap masuk, dan sentimen global tidak mengalami eskalasi. Namun, penguatan rupiah di bawah Rp17.700 belum dapat dianggap sebagai perubahan tren jangka panjang. Tingginya yield Treasury, risiko geopolitik Timur Tengah, pelebaran CAD, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed masih menjadi faktor yang dapat membalikkan pergerakan rupiah.

Dengan demikian, level Rp17.700 menjadi area penting untuk dicermati. Jika rupiah mampu bertahan dan menguat konsisten di bawah level tersebut, peluang menuju penguatan berikutnya akan semakin terbuka. Namun apabila tekanan eksternal kembali meningkat, rupiah masih berpotensi bergerak menuju kisaran Rp17.900-Rp18.000 bahkan Rp18.150 pada akhir tahun.

Untuk pasar obligasi Indonesia, rupiah yang lebih stabil menjadi sentimen positif karena dapat mengurangi risiko investasi bagi investor asing. Namun, tingginya yield Treasury dan potensi kenaikan yield global tetap menjadi faktor pembatas bagi penurunan yield SBN secara agresif.

 

You Might Also Like

Selat Hormuz Jadi Perhatian, Sanksi Ekonomi Baru AS Untuk Iran Segera Diumumkan

Siap-siap, Menanti Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole Simposium

BI Imbau Bank Tak Pasarkan SRBI ke Nasabah Ritel dan Non-Bank

Peringatkan Krisis Utang AS, Ray Dalio Sarankan Beli Emas dan Bitcoin

Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 juta Per Unit

TAGGED: mata uang Rupiah, Rupiah, Rupiah menguat
Aurelia August 24, 2026 August 24, 2026
Previous Article BEI Berencana Hapus Saham Gocap, Harga Bisa ke Rp 1
Next Article Peringatkan Krisis Utang AS, Ray Dalio Sarankan Beli Emas dan Bitcoin
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?