[Medan | 25 Juni 2026] Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 93 poin ke level Rp17.952 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.859 per dolar AS.
Pelemahan ini membuat rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS, meskipun sejumlah sentimen domestik sebenarnya masih cenderung positif, mulai dari pengumuman stimulus ekonomi pemerintah hingga keputusan MSCI yang belum menurunkan status pasar Indonesia.
The Fed Hawkish Kembali Dorong Penguatan Dolar AS
Salah satu faktor utama yang menekan rupiah berasal dari ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar kini semakin meyakini bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan dalam beberapa bulan ke depan. Pandangan tersebut menguat setelah pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang kembali menegaskan fokus utama bank sentral AS adalah menjaga inflasi tetap terkendali.
Perubahan ekspektasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Akibatnya, aliran modal global cenderung kembali mengarah ke pasar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Fokus investor kini tertuju pada rilis data Core Personal Consumption Expenditure (Core PCE), indikator inflasi favorit The Fed, yang dipandang sebagai petunjuk penting untuk menentukan arah kebijakan suku bunga selanjutnya.
Konflik AS-Iran Belum Sepenuhnya Selesai
Dari sisi geopolitik, meredanya ketegangan antara AS dan Iran belum sepenuhnya menghilangkan ketidakpastian pasar. Meskipun kedua negara telah memulai proses perundingan damai dan AS memberikan keringanan sanksi selama 60 hari, sejumlah isu penting masih belum menemukan titik temu, termasuk terkait inspeksi program nuklir Iran dan akses terhadap aset Iran yang dibekukan.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar masih cenderung berhati-hati dalam mengambil risiko. Dalam situasi seperti ini, dolar AS biasanya kembali menjadi aset safe haven yang diminati investor global.
MSCI Belum Beri Kepastian Penuh
Di dalam negeri, pasar juga masih mencermati perkembangan hasil evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Meski MSCI memutuskan mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market, lembaga tersebut masih memperpanjang proses peninjauan hingga November 2026.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa berbagai isu terkait aksesibilitas pasar, transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, serta mekanisme price discovery masih menjadi perhatian investor global. Artinya, ketidakpastian terkait status pasar Indonesia belum sepenuhnya berakhir dan masih berpotensi memengaruhi persepsi risiko investor asing terhadap aset domestik dalam beberapa bulan mendatang.
Stimulus Pemerintah Belum Mampu Menahan Tekanan Rupiah
Pemerintah sendiri telah meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk Semester II-2026 guna menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Namun dalam jangka pendek, sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah pergerakan rupiah.
Penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed serta meningkatnya preferensi investor terhadap aset aman membuat dampak positif stimulus fiskal belum sepenuhnya tercermin pada pergerakan nilai tukar.
Rupiah Masih Rentan ke Depan
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni hasil rilis data inflasi PCE Amerika Serikat dan perkembangan komunikasi The Fed terkait arah suku bunga. Jika data inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, peluang kenaikan suku bunga The Fed akan semakin besar sehingga berpotensi mendorong dolar AS menguat lebih lanjut dan membawa rupiah menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Sebaliknya, apabila inflasi AS mulai melandai sesuai ekspektasi pasar, tekanan terhadap dolar dapat mereda sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk kembali stabil. Namun selama narasi higher for longer masih mendominasi kebijakan The Fed, ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas meskipun Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026.

