[Medan | 29 Mei 2026] Rusia kembali menerbitkan obligasi pemerintah dalam denominasi yuan China sebagai bagian dari strategi pendanaan fiskal dan penguatan kerja sama ekonomi dengan China.
Langkah ini dilakukan tidak lama setelah Presiden Vladimir Putin mengadakan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pekan lalu.
Rusia Tawarkan Obligasi Yuan Tenor 10 Tahun
Kementerian Keuangan Rusia membuka penawaran obligasi pemerintah tenor 10 tahun dengan kupon maksimal 8%. Obligasi tersebut dapat dibeli dan dibayar menggunakan yuan maupun rubel, sesuai pilihan investor.
Penerbitan ini menjadi seri kedua obligasi yuan pemerintah Rusia setelah penerbitan perdana dilakukan tahun lalu.
Sebelumnya, Rusia berhasil menghimpun sekitar 20 miliar yuan atau setara US$2,9 miliar melalui dua tahap penerbitan obligasi yuan domestik.
Rusia Cari Alternatif Pendanaan
Penerbitan obligasi yuan dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan fiskal Rusia akibat:
- Pengeluaran militer yang tinggi.
- Pendapatan minyak yang melemah.
- Tekanan sanksi Barat pasca perang Ukraina.
Pemerintah Rusia menargetkan defisit fiskal sebesar 1,6% terhadap PDB tahun ini. Namun hingga empat bulan pertama 2026, defisit telah melebar menjadi sekitar 2,5% terhadap PDB.
Dedolarisasi Semakin Agresif
Langkah Rusia menerbitkan obligasi yuan mencerminkan percepatan strategi dedolarisasi dan pengurangan ketergantungan terhadap sistem keuangan Barat.
Sejak invasi Ukraina pada 2022, China menjadi mitra ekonomi utama Rusia, baik dalam perdagangan, energi, maupun sistem pembayaran internasional.
Melalui obligasi yuan, Rusia berupaya:
- Mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
- Memperluas basis investor Asia.
- Membangun kurva yield berbasis yuan.
- Mempermudah pembiayaan korporasi Rusia dalam mata uang China.
Hubungan Rusia-China Semakin Erat
Pertemuan Putin dan Xi Jinping di Beijing mempertegas semakin eratnya hubungan strategis kedua negara di tengah ketegangan geopolitik global dan fragmentasi ekonomi dunia.
Kerja sama keduanya mencakup:
- Energi dan perdagangan.
- Sistem pembayaran non-dolar.
- Investasi bilateral.
- Stabilitas geopolitik Eurasia.
Dampak terhadap Pasar Global
Penerbitan obligasi yuan Rusia menunjukkan perubahan struktur pasar keuangan global yang semakin multipolar.
Implikasinya antara lain:
- Penggunaan yuan dalam perdagangan dan pembiayaan internasional meningkat.
- Dominasi dolar AS secara bertahap mulai ditantang.
- Permintaan aset berbasis yuan berpotensi meningkat.
Namun, dolar AS diperkirakan tetap menjadi mata uang dominan global dalam jangka pendek karena likuiditas dan kedalaman pasar keuangannya masih jauh lebih besar.

