IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Peluang The Fed Naikkan Suku Bunga Tembus 90%

By Aurelia 2 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ bloomberg.com
SHARE

[Medan | 15 September 2026] Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed semakin menguat setelah inflasi Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2026 menunjukkan tekanan yang lebih tinggi dari perkiraan. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada rapat kebijakan pekan depan kini mencapai sekitar 90%.

Inflasi Inti AS Lebih Tinggi dari Perkiraan

Penguatan ekspektasi tersebut terutama dipicu oleh indeks harga konsumen (CPI) inti yang meningkat 0,3% secara bulanan pada Agustus, lebih tinggi dari perkiraan ekonom sebesar 0,2%. Secara tahunan, CPI inti berada di level 2,4%, sesuai ekspektasi pasar dan turun dari 2,5% pada Juli. Sementara CPI secara keseluruhan naik 0,4% secara bulanan dengan inflasi tahunan mencapai 3,4%, sesuai perkiraan.

Tekanan Inflasi Masih Jadi Perhatian The Fed

Kenaikan CPI inti yang lebih tinggi dari perkiraan kembali memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Kepala Ekonom Amerika Utara Capital Economics Stephen Brown menilai data tersebut meningkatkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada rapat pekan depan.

Pejabat The Fed akan melihat perkembangan inflasi dalam horizon tiga, enam, hingga 12 bulan untuk menentukan apakah tren penurunan inflasi masih berlanjut atau justru kembali menghadapi tekanan.

Pandangan Pejabat The Fed Masih Terbagi

Data terbaru berpotensi memperkuat posisi pejabat The Fed yang menilai inflasi masih terlalu tinggi dan membutuhkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack dan Presiden The Fed Dallas Lorie Logan termasuk pejabat yang melihat tekanan inflasi masih cukup luas.

Namun, pandangan di internal The Fed belum sepenuhnya seragam. Gubernur The Fed Christopher Waller sebelumnya menyatakan masih terbuka untuk mempertahankan suku bunga apabila proses penurunan inflasi menuju target 2% terus berjalan. Waller juga mengatakan kenaikan suku bunga dapat dipertimbangkan kembali apabila data menunjukkan lonjakan inflasi yang signifikan. Dengan demikian, data inflasi terbaru menjadi penting karena dapat mengubah keseimbangan pandangan tersebut.

Harga Minyak Tambah Risiko Inflasi

Selain CPI, kenaikan harga minyak menjadi faktor tambahan yang perlu diperhatikan. Harga minyak kembali mendekati US$100 per barel dalam sepekan terakhir seiring meningkatnya gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Kepala Strategi Bank Sentral dan Ekonomi Evercore ISI Krishna Guha menilai The Fed kini menghadapi pertanyaan yang lebih besar, yakni apakah perbaikan inflasi sebelumnya cukup kuat untuk mengimbangi potensi guncangan pasokan minyak. Jika harga minyak bertahan tinggi, kenaikan biaya energi dapat kembali mendorong harga bahan bakar dan produk turunannya sehingga memperlambat proses penurunan inflasi.

Data PCE Jadi Perhatian Berikutnya

Selain CPI, pejabat The Fed akan mencermati data harga grosir untuk memperkirakan perkembangan Personal Consumption Expenditures (PCE), salah satu indikator inflasi utama yang digunakan bank sentral AS. Capital Economics memperkirakan PCE inti naik sekitar 0,27% secara bulanan pada Agustus. Jika sesuai perkiraan, inflasi PCE inti tahunan berpotensi meningkat dari 3,3% pada Juli menjadi 3,4% pada Agustus.

Kondisi tersebut membuat arah kebijakan The Fed masih menjadi perhatian utama pasar. Ekspektasi kenaikan suku bunga yang kini mendekati 90% menunjukkan pasar semakin bersiap menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat, terutama jika tekanan inflasi dan harga minyak tetap bertahan tinggi.

 

You Might Also Like

Ramai Pertimbangan Perlambatan AI, Bagaimana Nasib Saham AI?

Yield Obligasi AS 10 Tahun Sentuh 5%, Apa Artinya Untuk Pasar?

Trump Tuntut The Fed Turunkan Suku Bunga

Jalur Pipa Arab Saudi Diserang, Harga Minyak Naik ke US$ 108

IHSG Mendadak Terjun Bebas 1,33%, Ada Apa Ini?

TAGGED: peluang kenaikan suku bunga, suku bunga AS, suku bunga Fed
Aurelia September 15, 2026 September 15, 2026
Previous Article Ada Menteri Keuangan Baru, Market Bakal Kemana?
Next Article Yield Obligasi AS 10 Tahun Sentuh 5%, Apa Artinya Untuk Pasar?
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?