[Medan | 15 September 2026] Imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali mendekati level psikologis 5% ketika investor bersiap menghadapi keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pekan ini. Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya perhatian pasar terhadap inflasi, arah kebijakan moneter, serta besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS.
Yield Treasury 10 Tahun Tembus 5%
Yield Treasury 10 tahun naik lebih dari 1 basis poin menjadi 4,987% pada Senin (14/9/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh 5,014%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Sementara itu, yield Treasury 2 tahun yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed meningkat lebih dari 1 basis poin menjadi 4,658%. Yield Treasury 30 tahun justru turun kurang dari 1 basis poin ke 5,353%. Level 5% menjadi perhatian karena apabila yield 10 tahun kembali menembus 5,02%, posisinya akan menjadi yang tertinggi sejak Juli 2007, sebelum krisis keuangan global 2008-2009.
Ekspektasi Kenaikan Bunga Semakin Kuat
Pergerakan Treasury terjadi menjelang keputusan The Fed, setelah data CPI AS Agustus menunjukkan inflasi masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%. Pasar kini hampir sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 92,3%.
Chief Market Strategist Freedom Capital Markets Jay Woods menilai kenaikan suku bunga justru berpotensi menjadi katalis bagi saham apabila keputusan tersebut sudah sepenuhnya diantisipasi pasar. Sebaliknya, keputusan untuk menahan suku bunga dapat memicu respons negatif karena bisa dianggap sebagai sinyal bahwa The Fed belum cukup agresif menghadapi inflasi.
Yield 5% Tidak Otomatis Buruk bagi Saham
Kenaikan yield Treasury tidak selalu berarti kabar buruk bagi perekonomian maupun pasar saham. Dampaknya sangat bergantung pada penyebab kenaikan tersebut. Jika yield meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang kuat, pasar masih dapat menerimanya. Namun, risikonya menjadi lebih besar apabila kenaikan disebabkan oleh inflasi yang kembali meningkat, defisit fiskal yang melebar, penerbitan utang pemerintah yang besar, atau tekanan di pasar Treasury.
Chief Investment Officer Albion Financial Group Jason Ware menilai kenaikan yield belakangan ini antara lain mencerminkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan obligasi. Pemerintah AS dan perusahaan korporasi sama-sama menerbitkan utang dalam jumlah besar sehingga harus bersaing mendapatkan dana investor.
Defisit dan Harga Minyak Jadi Risiko
Kenaikan yield jangka panjang juga dipengaruhi oleh meningkatnya term premium, yaitu tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk memegang obligasi berjangka panjang. Besarnya defisit fiskal, kebutuhan penerbitan utang, serta inflasi yang belum kembali ke target menjadi faktor yang mendorong kenaikan premi tersebut.
Harga minyak mentah yang kembali tinggi turut menambah risiko. Kenaikan harga energi dapat membuat inflasi lebih sulit turun dan pada akhirnya membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Buyback Treasury Belum Cukup
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya berupaya mengurangi tekanan pada obligasi tenor panjang melalui perluasan program pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah. Namun, strategi tersebut dinilai memiliki keterbatasan apabila faktor fundamental masih mendorong yield lebih tinggi. Program buyback yang lebih agresif memang dapat mengurangi tekanan jual, tetapi tidak menyelesaikan persoalan utama seperti besarnya penerbitan utang dan meningkatnya kebutuhan kompensasi investor terhadap risiko fiskal dan inflasi.
Risiko Terbesar Ada pada Volatilitas Treasury
Risiko yang lebih serius akan muncul apabila kenaikan yield berlangsung secara tidak teratur akibat tekanan dari pasar Treasury itu sendiri. Besarnya posisi hedge fund berleverage dalam perdagangan Treasury menjadi salah satu perhatian.
Jika biaya pendanaan, kebutuhan margin, atau volatilitas meningkat tajam, investor yang menggunakan leverage dapat terdorong menutup posisi secara bersamaan. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan jual dan menciptakan lonjakan yield yang lebih tajam.
Untuk saat ini, pasar masih relatif mampu menyerap kenaikan yield. Pelemahan saham masih terbatas dan S&P 500 tetap mencatat kenaikan lebih dari 11% sepanjang tahun, meskipun yield Treasury 10 tahun telah mendekati 5%.

