IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Serangan Iran di Selat Hormuz Makin Parah, Harga Minyak Tembus US$ 110 per Barel

By Aurelia 4 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ drillingmanual.com
SHARE

[Medan | 21 Oktober 2026] Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global. Serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz dilaporkan semakin intensif, dengan kerusakan yang lebih parah pada kapal, terutama di bagian ruang mesin. Kondisi ini berpotensi mengurangi ketersediaan kapal tanker dan meningkatkan biaya pengangkutan minyak dunia.

Dalam dua pekan pertama Oktober, sedikitnya 23 insiden serangan terhadap kapal tercatat di dalam maupun sekitar Selat Hormuz. Setidaknya lima kapal mengalami kerusakan pada ruang mesin, berdasarkan data kelompok angkatan laut regional dan peringatan konsultan keamanan maritim. Kerusakan tersebut dapat memicu kebakaran, melumpuhkan sistem penggerak kapal, serta membuat kapal tidak dapat beroperasi selama berbulan-bulan.

Serangan Kapal Mengancam Kelancaran Distribusi Minyak

Meskipun negara-negara produsen minyak Timur Tengah masih berupaya mempertahankan ekspor, meningkatnya serangan menimbulkan risiko terhadap kelancaran distribusi energi. Data awal Kpler menunjukkan rata-rata ekspor minyak Timur Tengah selama tujuh hari sedikit lebih tinggi dibandingkan level sebelum perang. Namun, kemampuan mempertahankan volume ekspor tidak serta-merta menjamin kelancaran pengiriman apabila jumlah kapal yang tersedia terus berkurang.

Phillip Belcher, direktur kelautan Intertanko, menyebut peningkatan frekuensi serangan telah diikuti bertambahnya kerusakan ruang mesin dan kebakaran yang melumpuhkan kapal. Para pejabat pelayaran dan keamanan maritim juga melaporkan bahwa Iran belakangan lebih banyak menggunakan rudal dibandingkan drone dalam serangan terhadap kapal.

Dua kapal yang baru-baru ini diserang dilaporkan tenggelam pada pekan lalu, termasuk sebuah kapal kontainer di Selat Hormuz. Insiden tersebut memperlihatkan bahwa ancaman tidak hanya berdampak pada pengiriman minyak, tetapi juga pada jalur perdagangan maritim secara lebih luas.

Risiko Meluas ke Teluk Oman dan Infrastruktur Energi Saudi

Ancaman terhadap pengiriman minyak dilaporkan meluas hingga ke Teluk Oman, termasuk aktivitas pemuatan minyak di luar Teluk Persia dan transfer minyak antarkapal (ship-to-ship). Analis LSEG menilai perluasan area serangan meningkatkan risiko terhadap rantai pasok energi Timur Tengah.

Situasi semakin rumit setelah kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta kawasan bandara di Riyadh dan Abha.

Apabila gangguan meluas ke fasilitas produksi dan pemuatan minyak, tekanan terhadap pasokan global berpotensi semakin besar. Pelaku pasar kini harus memperhitungkan bukan hanya risiko gangguan produksi, tetapi juga kemungkinan keterlambatan pengiriman dan keterbatasan armada tanker.

Harga Brent Kembali Menguat, Tembus US$109 per Barel

Ketidakpastian keamanan jalur pelayaran mendorong harga minyak kembali menguat pada perdagangan Rabu (21/10/2026). Berdasarkan data perdagangan pukul 00.22 GMT, minyak mentah Brent naik 85 sen atau 0,78% menjadi US$109,64 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 76 sen atau 0,78% ke US$98,58 per barel.

Pada sesi sebelumnya, harga minyak sempat terkoreksi di tengah harapan adanya upaya mediasi untuk meredakan konflik. Brent ditutup turun 0,69% ke US$108,79 per barel setelah sempat menyentuh US$111,99, level tertinggi dalam lima bulan. Kontrak WTI November yang berakhir pada Selasa ditutup turun 1,8% ke US$101,79 per barel.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga minyak masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Harapan tercapainya perdamaian dapat menekan harga, tetapi eskalasi serangan dan ancaman terhadap jalur distribusi berpotensi kembali mendorong kenaikan.

Biaya Tanker Melonjak, Risiko Pasokan Semakin Besar

Kerusakan kapal akibat serangan berpotensi memperpanjang waktu perbaikan dan mengurangi jumlah armada yang dapat digunakan untuk mengangkut minyak. Di tengah meningkatnya risiko keamanan, pemilik kapal juga dapat meminta premi risiko lebih tinggi atau enggan mengirimkan kapal melalui kawasan konflik.

Analis Oil Brokerage Ltd memperingatkan bahwa setiap kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) yang terkena serangan merupakan kehilangan kapasitas pengangkutan yang signifikan, terutama ketika jumlah pemilik kapal yang bersedia melintasi kawasan tersebut sudah terbatas.

Selain itu, keselamatan awak kapal semakin terancam. Serangan terhadap ruang mesin dan anjungan kapal dapat menyebabkan kerusakan operasional sekaligus meningkatkan risiko cedera bagi kru. Kenaikan tarif pengangkutan pada akhirnya dapat menambah biaya distribusi energi dan memperbesar tekanan harga minyak, bahkan ketika produksi minyak negara-negara produsen masih berlangsung.

AS Berupaya Menambah Pasokan Bahan Bakar

Di tengah gejolak pasar energi, pemerintah Amerika Serikat menyatakan tengah berkoordinasi dengan sejumlah kilang global untuk meningkatkan produksi bahan bakar. Langkah ini dilakukan menyusul lonjakan harga yang berkaitan dengan defisit pasokan diesel. Pelaku pasar juga menantikan data persediaan minyak mentah dan produk olahan AS. Survei Reuters terhadap delapan analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun sekitar 800.000 barel pada pekan yang berakhir 16 Oktober.

Jika penurunan persediaan terkonfirmasi ketika risiko pasokan dari Timur Tengah masih tinggi, pasar dapat menghadapi tekanan tambahan. Sebaliknya, peningkatan produksi bahan bakar dan meredanya konflik berpotensi membantu mengurangi kekhawatiran terhadap pasokan.

Dampak terhadap Pasar Keuangan dan Ekonomi Indonesia

  1. Inflasi berpotensi meningkat

Kenaikan harga minyak dapat mendorong biaya bahan bakar, transportasi, dan logistik. Jika berlangsung lama, tekanan tersebut dapat merambat ke harga barang dan jasa sehingga memperbesar risiko inflasi.

  1. Beban subsidi dan kompensasi energi berpotensi bertambah

Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor bersih minyak, kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya impor dan menambah tekanan terhadap anggaran pemerintah, terutama apabila harga minyak tinggi tidak diimbangi pelemahan konsumsi atau penyesuaian kebijakan energi.

  1. Rupiah berpotensi menghadapi tekanan

Kenaikan nilai impor energi dapat memperbesar kebutuhan valuta asing. Jika berlangsung bersamaan dengan penguatan dolar AS dan arus modal keluar, rupiah berpotensi semakin tertekan.

  1. Yield SBN berpotensi meningkat

Apabila kenaikan harga minyak memperburuk prospek inflasi dan fiskal, investor dapat meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi pemerintah Indonesia. Kenaikan yield berpotensi menekan harga SBN di pasar sekunder.

  1. Dampak terhadap saham akan berbeda antar sektor

Sektor transportasi, logistik, dan industri yang intensif menggunakan energi berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional. Sebaliknya, emiten minyak dan gas tertentu dapat memperoleh manfaat dari harga jual energi yang lebih tinggi, bergantung pada struktur bisnis, biaya produksi, dan kebijakan pemerintah.

Kesimpulan

Harga minyak kembali mendekati US$110 per barel seiring meningkatnya risiko serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi di Timur Tengah. Ancaman utama bukan hanya potensi penurunan produksi, tetapi juga berkurangnya armada tanker, kenaikan biaya pengangkutan, dan terganggunya distribusi minyak melalui jalur strategis.

Bagi Indonesia, perkembangan ini perlu dicermati karena dapat memengaruhi inflasi, beban subsidi energi, nilai tukar rupiah, dan yield SBN. Investor perlu memantau perkembangan keamanan Selat Hormuz, harga Brent, data persediaan minyak AS, serta respons pemerintah dan bank sentral terhadap perubahan harga energi global.

You Might Also Like

BI Pilih Tahan Suku Bunga di Level 5,75%!

Kemenkeu Yakin Yield SBN Berada di Kisaran 7% Hingga Akhir Tahun 2026

BI Rapat Suku Bunga Hari Ini, Pasar Terbelah Antara Naik atau Hold

Inflasi Global Diperkirakan Naik ke 4,4% di Tahun Ini

China Berencana Adopsi Suku Bunga Acuan Baru

Aurelia October 21, 2026 October 21, 2026
Previous Article Kemenkeu Yakin Yield SBN Berada di Kisaran 7% Hingga Akhir Tahun 2026
Next Article BI Pilih Tahan Suku Bunga di Level 5,75%!
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?