IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

Inflasi Global Diperkirakan Naik ke 4,4% di Tahun Ini

By Aurelia 3 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ dihk.de
SHARE

[Medan | 20 Oktober 2026] Inflasi global diperkirakan kembali meningkat pada akhir 2026 di tengah ketidakpastian geopolitik dan kenaikan biaya produksi. Kondisi ini berpotensi menempatkan bank sentral di berbagai negara dalam dilema antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Salah satu risiko utama berasal dari konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi memperpanjang kenaikan harga energi. Selain minyak, meningkatnya biaya input produksi, termasuk cip komputer, juga dapat menambah tekanan terhadap harga barang dan jasa.

Dalam skenario dasar, Bloomberg Economics memperkirakan harga minyak bertahan di sekitar US$100 per barel akibat konflik Iran yang berlanjut dengan intensitas rendah. Dalam kondisi tersebut, inflasi global diproyeksikan mencapai 4,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal IV-2026, sebelum turun menjadi 3% pada kuartal IV-2027.

Namun, penurunan inflasi pada tahun depan tidak serta-merta berarti harga barang dan jasa kembali murah. Penurunan tersebut sebagian mencerminkan base effect atau efek basis, yakni ketika lonjakan harga pada tahun ini tidak lagi menjadi pembanding dalam perhitungan inflasi tahunan.

Ekonom Bloomberg Economics, Scott Johnson, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak tahun ini secara bertahap akan keluar dari perbandingan tahunan. Akibatnya, laju inflasi dapat melandai meskipun harga energi belum kembali ke tingkat sebelum konflik. Meski demikian, Johnson menegaskan bahwa prospek tersebut sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.

Tiga Skenario Inflasi Global

Bloomberg Economics mengidentifikasi beberapa kemungkinan perkembangan inflasi global berdasarkan pergerakan harga minyak dan situasi geopolitik.

  • Skenario dasar: Jika konflik berlanjut dengan intensitas rendah dan harga minyak bertahan di sekitar US$100 per barel, inflasi global diperkirakan mencapai 4,4% pada kuartal IV-2026, kemudian turun menjadi 3% pada kuartal IV-2027.
  • Skenario konflik memburuk: Jika perang AS-Iran meluas menjadi konflik regional yang lebih besar dan mendorong harga minyak naik ke US$130 per barel, inflasi global berpotensi mencapai 5% pada kuartal IV-2026. Pada kuartal IV-2027, inflasi diperkirakan masih berada di level 3,5%, lebih tinggi dibandingkan skenario dasar.
  • Skenario konflik mereda: Jika perang mereda dan harga minyak turun ke US$70 per barel, inflasi global diperkirakan mencapai 4,2% pada 2026 dan kembali turun menjadi 3% pada 2027.

Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan besarnya pengaruh harga energi terhadap inflasi global. Minyak yang lebih mahal tidak hanya meningkatkan biaya bahan bakar, tetapi juga biaya transportasi, logistik, distribusi, dan produksi berbagai industri. Jika kenaikan biaya berlangsung lama, perusahaan berpotensi meneruskan sebagian biaya tersebut kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. Tekanan inflasi pun dapat meluas, bahkan ke sektor-sektor yang tidak berkaitan langsung dengan energi.

Ekspektasi Inflasi Menjadi Risiko Tambahan

Selain harga energi, perubahan ekspektasi inflasi juga menjadi perhatian. Ketika rumah tangga dan pelaku usaha memperkirakan harga akan terus naik, pekerja dapat menuntut kenaikan upah untuk mempertahankan daya beli. Pada saat yang sama, perusahaan mungkin menaikkan harga jual untuk menjaga margin keuntungan.

Jika pola tersebut terjadi secara luas, tekanan inflasi yang awalnya dipicu oleh gangguan pasokan energi dapat bertahan lebih lama. Situasi ini menyulitkan bank sentral. Kenaikan suku bunga dapat menekan permintaan dan membantu menjaga ekspektasi inflasi, tetapi tidak secara langsung menambah pasokan minyak atau mengakhiri konflik geopolitik.

Sebaliknya, pengetatan moneter yang terlalu agresif berisiko meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Konsumsi serta investasi dapat melemah, sehingga pertumbuhan ekonomi ikut tertekan. Dengan demikian, bank sentral perlu menilai apakah kenaikan inflasi hanya bersifat sementara akibat gangguan pasokan atau mulai menyebar ke berbagai komponen harga dan menjadi lebih persisten.

The Fed dan Bank Sentral Asia Menghadapi Tekanan Berbeda

Risiko kenaikan inflasi kembali memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global. Di AS, Federal Reserve atau The Fed diperkirakan masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan setidaknya sekali lagi pada 2026.

Berdasarkan data FedWatch yang dikutip dalam laporan tersebut, probabilitas kenaikan suku bunga Federal Funds Rate (FFR) sempat turun menjadi 16% dari 20%, sebelum kembali naik menjadi 17,2%. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi pasar pada saat data dikutip dan masih dapat berubah mengikuti perkembangan ekonomi serta geopolitik.

Jika tekanan inflasi AS meningkat dan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury berpotensi tetap tinggi. Kondisi ini dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama jika arus modal keluar meningkat.

Di Asia, respons bank sentral cenderung bergantung pada kondisi ekonomi dan inflasi masing-masing negara. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu (21/10/2026). Konsensus Bloomberg memperkirakan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

Sementara itu, Bank of Korea (BOK) diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 3% pada pengumuman yang dijadwalkan Kamis (22/10/2026). Berbeda dari kedua bank sentral tersebut, Reserve Bank of India (RBI) telah menaikkan suku bunga acuannya pada Oktober menjadi 5,5% dari sebelumnya 5,25%.

Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga energi tidak otomatis membuat seluruh bank sentral mengambil keputusan yang sama. Tekanan inflasi, stabilitas nilai tukar, kondisi pertumbuhan ekonomi, dan kebutuhan menjaga likuiditas domestik tetap menjadi pertimbangan masing-masing otoritas.

Dampak terhadap Obligasi, Saham, dan Rupiah

Bagi pasar obligasi, risiko inflasi yang meningkat dapat menunda ekspektasi penurunan suku bunga atau mendorong pasar memperhitungkan kemungkinan pengetatan moneter. Jika ekspektasi suku bunga naik, imbal hasil obligasi berpotensi meningkat dan harga obligasi yang sudah beredar dapat tertekan.

Bagi pasar saham, suku bunga tinggi berpotensi meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan menekan valuasi saham. Emiten yang memiliki utang besar atau sensitif terhadap biaya energi dapat menghadapi tekanan lebih besar. Sebaliknya, perusahaan yang mampu meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen atau diuntungkan oleh harga komoditas tertentu dapat memiliki daya tahan relatif lebih baik.

Sementara itu, bagi rupiah, kombinasi harga minyak tinggi dan imbal hasil US Treasury yang bertahan tinggi dapat menjadi sumber tekanan. Indonesia perlu mencermati dampak kenaikan harga energi terhadap biaya impor, inflasi domestik, serta kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar. Meski demikian, pergerakan pasar tidak hanya ditentukan oleh inflasi. Perkembangan konflik, arus modal, kebijakan fiskal, dan respons bank sentral juga akan memengaruhi arah aset keuangan.

Harga Minyak dan Kebijakan Bank Sentral Jadi Fokus Pasar

Ke depan, arah inflasi global akan sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah dan kemampuan harga energi untuk kembali stabil. Jika harga minyak bertahan tinggi atau kembali melonjak, bank sentral berpotensi menghadapi tekanan lebih besar untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau memperketat kebijakan. Sebaliknya, meredanya konflik dan penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan inflasi serta memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif.

Bagi investor, sejumlah indikator yang perlu dicermati adalah harga minyak, data inflasi AS, ekspektasi kebijakan The Fed, pergerakan US Treasury, serta keputusan suku bunga BI. Kombinasi indikator tersebut akan membantu menentukan apakah tekanan inflasi hanya bersifat sementara atau mulai mengubah arah kebijakan moneter global secara lebih luas.

 

You Might Also Like

China Berencana Adopsi Suku Bunga Acuan Baru

Trump Buka Potensi Bertemu Putin dan Xi Jinping di Bulan November

Suahasil Siapkan Belanja APBN Q4-2026 Tembus Rp 1.300T

China Bakal Lakukan Pembatasan Ekspor AI

Tertekan Eksternal & MSCI, BI Bakal Naikkan Suku Bunga di RDG Oktober?

Aurelia October 20, 2026 October 20, 2026
Previous Article China Berencana Adopsi Suku Bunga Acuan Baru
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Mentari Greenwich B7-8, Jl. Letda Sujono No.64, Bandar Selamat, Kec. Medan Tembung, Kota Medan, Sumatera Utara 20223
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?