[Medan | 1 September 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Namun, pergerakan pasar hari ini akan dibayangi sejumlah sentimen penting, mulai dari dampak rebalancing MSCI hingga rilis data inflasi, PMI manufaktur, dan neraca perdagangan Indonesia.
Pada perdagangan Senin (31/8/2026), IHSG ditutup menguat tipis 0,11% ke level 6.525,48. Nilai transaksi melonjak sekitar 60% menjadi Rp25,02 triliun, seiring tingginya aktivitas perdagangan menjelang implementasi perubahan komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dampak Rebalancing MSCI Mulai Terlihat
Perubahan konstituen MSCI resmi berlaku mulai 1 September 2026 setelah implementasi dilakukan pada penutupan perdagangan 31 Agustus. Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Reza Diofanda menilai sebagian besar dampak perubahan tersebut sebenarnya telah diantisipasi pasar sejak hasil evaluasi MSCI diumumkan pada 13 Agustus.
“Perubahan konstituen MSCI berlaku setelah penutupan 31 Agustus dan efektif mulai 1 September, dengan sebagian dampaknya telah diantisipasi pasar sejak pengumuman 13 Agustus,” kata Reza dalam risetnya, Selasa (1/9/2026).
Meski demikian, investor masih perlu mencermati potensi volatilitas lanjutan, terutama pada saham-saham yang mengalami perubahan status atau bobot dalam indeks MSCI. Berakhirnya periode rebalancing juga dapat membuat aktivitas perdagangan kembali normal setelah lonjakan transaksi pada perdagangan sebelumnya.
Inflasi dan Neraca Dagang Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting yang dirilis hari ini. Inflasi Agustus diproyeksikan mencapai 3,13% secara tahunan, sementara inflasi inti diperkirakan berada di level 2,80%. Realisasi inflasi akan menjadi salah satu indikator penting untuk membaca ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) ke depan.
Selain inflasi, pasar juga menantikan data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang diproyeksikan berada di level 50,5. Angka di atas 50 umumnya menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Sementara itu, neraca perdagangan Juli diproyeksikan mengalami defisit sebesar US$600 juta. Apabila defisit tersebut lebih besar dari perkiraan, pasar berpotensi memberikan perhatian khusus terhadap kondisi sektor eksternal dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah. Rangkaian data tersebut menjadi semakin penting karena pasar masih berusaha membaca arah kebijakan Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Destry Damayanti.
IHSG Berpeluang Uji Resistance 6.550
Secara teknikal, Reza menilai IHSG masih mempertahankan struktur pergerakan yang bullish. Indeks juga masih bergerak di atas indikator Moving Average 20 hari atau MA20 yang berada di sekitar level 6.397. IHSG berpeluang melanjutkan penguatan untuk menguji area resistance di level 6.550. Apabila mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, peluang penguatan lanjutan akan semakin terbuka.
Namun, investor tetap perlu mewaspadai respons pasar terhadap data inflasi dan neraca perdagangan. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan atau defisit perdagangan yang lebih besar dapat memberikan tekanan terhadap rupiah dan membatasi penguatan pasar saham.
Sentimen Global Masih Menjadi Risiko
Selain data domestik, pasar Indonesia juga masih dibayangi sentimen eksternal. Sinyal hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh telah meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada September. Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi menjaga penguatan dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap arus modal di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, harga minyak yang kembali menembus US$90 per barel setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran juga perlu menjadi perhatian. Kenaikan harga energi yang berlangsung berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan inflasi secara global.
Dengan demikian, IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan menuju level 6.550, tetapi arah perdagangan hari ini akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap data inflasi dan neraca perdagangan. Data yang sesuai atau lebih baik dari ekspektasi dapat menjadi katalis positif, sedangkan kejutan negatif berpotensi memicu aksi ambil untung setelah penguatan indeks dalam beberapa perdagangan terakhir.

