[Medan | 7 Oktober 2026] Transaksi jumbo terjadi pada saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/10/2026). Nilai transaksi mencapai sekitar Rp26,10 triliun dengan volume 10.084.088.370 saham pada harga Rp2.588 per saham.
Besarnya transaksi langsung menjadi perhatian karena jumlah saham yang berpindah tangan tersebut sama persis dengan jumlah saham BYAN yang akan diakuisisi PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik pengusaha Haji Isam.
Transaksi BYAN Capai Rp26,10 Triliun
Berdasarkan data BEI, transaksi crossing atau tutup sendiri tersebut tercatat sebanyak tiga kali dengan harga yang sama, yakni Rp2.588 per saham. Secara keseluruhan, volume transaksi mencapai 10,084 miliar saham dengan nilai sekitar Rp26,098 triliun. Nilai tersebut secara matematis juga sesuai dengan jumlah saham yang akan diakuisisi Jhonlin Baratama berdasarkan kesepakatan terbaru.
Dalam keterbukaan informasi pada Selasa (6/10/2026), BYAN menyampaikan bahwa Jhonlin Baratama menambah jumlah saham yang akan diakuisisi menjadi 10.084.088.370 saham. Jumlah tersebut meningkat dari kesepakatan sebelumnya sebanyak 10.000.000.500 saham atau bertambah sekitar 83,99 juta saham.
Jumlah Saham Sama dengan Kesepakatan Akuisisi
Perubahan jumlah saham tersebut tercantum dalam perubahan Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) yang ditandatangani pada 1 Oktober 2026. Dengan menggunakan harga Rp2.588 per saham, nilai 10.084.088.370 saham mencapai sekitar Rp26,10 triliun. Angka tersebut kemudian tercermin dalam transaksi jumbo BYAN di pasar negosiasi pada perdagangan hari ini.
Meski demikian, transaksi di pasar negosiasi tersebut belum serta-merta memastikan seluruh proses akuisisi telah selesai. Penyelesaian transaksi masih bergantung pada terpenuhinya sejumlah kondisi pendahuluan sebagaimana diatur dalam CSPA. Setelah seluruh persyaratan terpenuhi dan transaksi diselesaikan, Jhonlin Baratama akan memiliki 10.084.088.370 saham BYAN.
Sumbang 86,5% Nilai Transaksi BEI
Besarnya transaksi BYAN membuat nilai perdagangan di BEI melonjak. Total nilai transaksi bursa pada Rabu tercatat sekitar Rp30,18 triliun. Dengan nilai sekitar Rp26,10 triliun, transaksi BYAN menyumbang sekitar 86,5% dari total nilai transaksi bursa hari ini.
Jika transaksi negosiasi BYAN tersebut dikeluarkan, nilai transaksi di pasar reguler hanya sekitar Rp4,08 triliun. Namun, transaksi jumbo tersebut tidak menjadi bagian dari pembentukan harga saham BYAN di pasar reguler karena berlangsung melalui pasar negosiasi.
Saham BYAN Malah Anjlok 4,83%
Di pasar reguler, pergerakan saham BYAN justru berlawanan dengan besarnya transaksi negosiasi tersebut. Saham BYAN ditutup melemah 4,83% ke level Rp12.800 per saham pada perdagangan Rabu. Dengan harga tersebut, kapitalisasi pasar BYAN saat ini mencapai sekitar Rp426 triliun.
Perbedaan harga antara transaksi negosiasi sebesar Rp2.588 per saham dan harga saham di pasar reguler Rp12.800 per saham juga perlu diperhatikan karena transaksi negosiasi tersebut tidak secara langsung mencerminkan harga pasar reguler BYAN.
Produksi BYAN Dapat Tambahan Kuota
Dari sisi operasional, BYAN juga memperoleh katalis positif. Perseroan mendapatkan tambahan kuota produksi sekitar 15 juta-20 juta ton untuk tiga anak usaha setelah revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 disetujui. Tambahan kuota tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk meningkatkan produksi dibandingkan rencana sebelumnya.
Dampak ke Market: Transaksi Besar, Tapi Bukan Berarti Saham Langsung Naik
Dari perspektif market, transaksi Rp26,10 triliun ini lebih penting sebagai indikasi realisasi atau proses perpindahan kepemilikan dalam aksi akuisisi, bukan sebagai sinyal bahwa harga BYAN di pasar reguler seharusnya berada di Rp2.588 per saham. Pasalnya, transaksi dilakukan melalui pasar negosiasi sehingga tidak menjadi pembentuk harga saham di pasar reguler. Karena itu, besarnya nilai transaksi juga tidak otomatis berarti muncul tekanan beli atau jual sebesar Rp26,10 triliun terhadap harga pasar BYAN.
Bagi investor, fokus berikutnya adalah penyelesaian seluruh kondisi dalam CSPA dan perubahan struktur kepemilikan BYAN setelah akuisisi selesai. Di sisi fundamental, tambahan kuota produksi 15 juta-20 juta ton juga menjadi katalis yang perlu diperhatikan karena dapat memberikan ruang terhadap pertumbuhan volume produksi perseroan. Sementara itu, pelemahan BYAN 4,83% pada perdagangan reguler menunjukkan bahwa investor pasar belum menerjemahkan transaksi negosiasi tersebut sebagai katalis positif langsung terhadap harga saham.

