[Medan | 24 September 2026] Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Nvidia berencana menanamkan investasi sekitar US$4,5 miliar atau Rp80,33 triliun untuk pengembangan pusat data di Batam, Kepulauan Riau.
Menurut Airlangga, rencana tersebut akan diarahkan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam yang telah disiapkan pemerintah. Pernyataan itu disampaikan dalam Antara Business Forum 2026 di Jakarta, Rabu (23/9). Investasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat infrastruktur ekonomi digital, terutama pusat data dan ekosistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Nvidia Siapkan Investasi US$4,5 Miliar
Airlangga mengatakan Nvidia telah melakukan pembicaraan terkait rencana investasi di Batam. Nilai investasi yang disebut mencapai US$4,5 miliar atau sekitar Rp80,1 triliun berdasarkan kurs Rp17.818 per dolar AS. Rencana tersebut berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur komputasi yang semakin besar seiring perkembangan AI. Pusat data menjadi salah satu infrastruktur utama karena teknologi AI membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan data dalam skala besar.
Sebelumnya, Nvidia juga telah dikaitkan dengan pengembangan Nvidia DSX AI Factory di Batam melalui kerja sama dengan Firmus Technologies dan DayOne. Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas sekitar 360 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2027.
Kapasitas Data Center RI Terus Bertambah
Airlangga menyebut kapasitas pusat data Indonesia saat ini sekitar 800 MW. Sementara itu, proyek yang sudah masuk dalam pipeline berpotensi meningkatkan kapasitas tersebut menjadi sekitar 1,3 GW. Peningkatan kapasitas tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan investasi untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital dan penggunaan AI di Indonesia.
Selain kapasitas komputasi, pusat data juga membutuhkan pasokan listrik yang stabil, konektivitas internet, lahan dan ketersediaan air. Karena itu, kesiapan infrastruktur menjadi salah satu faktor utama dalam menarik investasi di sektor tersebut.
Batam Jadi Salah Satu Lokasi Strategis
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk pengembangan pusat data di kawasan ASEAN, termasuk ketersediaan lahan, listrik, energi hijau dan air. Batam memiliki posisi geografis yang dekat dengan Singapura dan terhubung dengan jaringan konektivitas regional. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung pengembangan Batam sebagai lokasi pusat data.
PLN Batam sebelumnya juga menyatakan siap mendukung kebutuhan listrik untuk pengembangan AI data center di Batam, mengingat fasilitas tersebut membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar dan dengan tingkat keandalan yang tinggi.
Ekonomi Digital RI Diproyeksi Makin Besar
Selain infrastruktur fisik, pemerintah juga melihat potensi pertumbuhan pasar ekonomi digital Indonesia. Airlangga menyebut nilai pasar ekonomi digital Indonesia saat ini sekitar US$180 miliar dan berpotensi meningkat menjadi sekitar US$400 miliar pada 2030.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh perkembangan perdagangan digital, layanan teknologi, komputasi awan, AI serta berbagai aktivitas ekonomi berbasis digital. Pemerintah juga mendorong kerja sama ekonomi digital di tingkat ASEAN untuk memperluas akses pasar dan integrasi ekosistem digital kawasan.
Semikonduktor dan AI Jadi Fokus Baru
Airlangga mengatakan pengembangan ekonomi digital tidak hanya berfokus pada pembangunan data center, tetapi juga penguatan industri semikonduktor. Pemerintah sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan perusahaan semikonduktor Arm untuk memperkuat sumber daya manusia dan ekosistem industri chip di Indonesia. Pemerintah menargetkan pengembangan sekitar 15.000 engineer dalam ekosistem tersebut.
Kebutuhan terhadap chip dan kapasitas komputasi akan terus meningkat seiring perkembangan AI. Karena itu, pemerintah melihat data center dan semikonduktor sebagai dua bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi digital. Dengan masuknya investasi berskala besar ke Batam, pengembangan pusat data tidak hanya berpotensi meningkatkan kapasitas infrastruktur digital Indonesia, tetapi juga mendorong kebutuhan terhadap listrik, jaringan fiber optic, tenaga kerja teknologi, serta industri pendukung lainnya.

