[Medan | 3 September 2026] PT Danantara Investment Management (DIM) tengah menjajaki kerja sama investasi dengan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) untuk mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik komersial di Indonesia. Penjajakan tersebut dituangkan melalui penandatanganan non-binding term sheet antara DIM, VKTR, dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) pada 1 September 2026.
Kesepakatan awal tersebut menjadi kerangka untuk pembahasan potensi kolaborasi investasi, khususnya dalam pengembangan bus dan truk listrik. VKTR sendiri merupakan anak usaha BNBR yang bergerak di bidang kendaraan listrik berbasis baterai untuk segmen kendaraan komersial.
Danantara Jajaki Investasi Rp2 Triliun
Kerja sama DIM dan VKTR diarahkan untuk memperkuat pengembangan kendaraan listrik komersial sekaligus membangun ekosistem mobilitas listrik yang lebih terintegrasi di Indonesia. Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan elektrifikasi kendaraan komersial merupakan bagian penting dari transisi energi sekaligus upaya memperkuat industri nasional.
“Investasi pada elektrifikasi mobilitas komersial merupakan investasi pada transisi energi jangka panjang yang dapat membawa dampak positif pada percepatan adopsi kendaraan listrik nasional,” ujar Pandu dalam keterangan resmi, Rabu (2/9/2026). Kolaborasi tersebut juga dinilai sejalan dengan sejumlah agenda pemerintah, mulai dari pengurangan emisi, penguatan industri nasional, hilirisasi, hingga pembangunan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Fokus pada Bus dan Truk Listrik
Salah satu fokus kerja sama adalah pengembangan model mobility as a service (MaaS). Konsep ini dirancang untuk membangun ekosistem mobilitas listrik terintegrasi yang dapat mengurangi berbagai hambatan dalam adopsi kendaraan listrik. Melalui model tersebut, akses pembiayaan diharapkan semakin luas sehingga operator armada dapat lebih mudah melakukan transisi dari kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik.
Pengembangan terutama menyasar kendaraan komersial seperti bus dan truk listrik, termasuk operator bus listrik di berbagai daerah di Indonesia. Langkah ini membuka peluang bagi VKTR untuk memperluas pasar kendaraan listrik di luar segmen kendaraan penumpang.
Terhubung dengan Hilirisasi Baterai dan Mineral Kritikal
Kerja sama tersebut tidak hanya berfokus pada kendaraan listrik, tetapi juga diarahkan untuk memperdalam rantai nilai industri baterai nasional. Hal ini berkaitan dengan agenda hilirisasi mineral kritikal yang menjadi salah satu sektor prioritas investasi DIM. Dengan demikian, pengembangan kendaraan listrik komersial berpotensi terhubung dengan rantai pasok baterai dan bahan baku di dalam negeri.
Bagi pemerintah, integrasi antara kendaraan listrik, industri baterai, dan mineral kritikal menjadi penting untuk meningkatkan nilai tambah industri domestik. Sementara bagi VKTR, penguatan ekosistem tersebut dapat membantu membangun kapasitas produksi dan memperluas peluang bisnis kendaraan listrik komersial.
Investasi Masih Menunggu Uji Tuntas
Meski nilai pendanaan yang dijajaki mencapai Rp2 triliun, kerja sama tersebut masih berada pada tahap awal. Pandu menegaskan bahwa non-binding term sheet yang telah ditandatangani belum merupakan perjanjian investasi definitif.
“Non-binding term sheet yang ditandatangani merupakan kerangka awal. Proses uji tuntas yang komprehensif akan dilakukan untuk memastikan transaksi dapat memberikan nilai komersial yang baik dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi Indonesia,” katanya. Artinya, realisasi investasi masih bergantung pada hasil due diligence, pembahasan lebih lanjut, serta penyusunan dan penandatanganan perjanjian definitif antara para pihak.
VKTR Bersiap Masuk Fase Pertumbuhan Berikutnya
CEO VKTR Anindra Ardiansyah Bakrie mengatakan kerja sama dengan DIM menjadi momentum bagi perusahaan untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya sekaligus memperkuat pengembangan solusi mobilitas listrik di Indonesia. “Kami mengapresiasi kepercayaan dan dukungan, yang bukan hanya merepresentasikan kolaborasi strategis, tetapi juga amanah untuk membawa VKTR memasuki fase pertumbuhan berikutnya,” ujar Anindra.
Bagi DIM, penjajakan investasi tersebut merupakan bagian dari mandat untuk mengoptimalkan investasi pemerintah dan aset BUMN sekaligus mendukung agenda industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara bagi VKTR, dukungan pendanaan dan pengembangan ekosistem dapat membuka ruang ekspansi di tengah meningkatnya kebutuhan operator transportasi terhadap armada yang lebih efisien dan rendah emisi. Namun, pasar tetap akan mencermati realisasi pendanaan, hasil uji tuntas, serta kemampuan VKTR mengubah dukungan investasi tersebut menjadi pertumbuhan bisnis yang konkret.

