[Medan | 30 Juli 2026] PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) melalui anak usahanya, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE), berhasil memperoleh pendanaan sebesar 21,4 miliar yen atau sekitar Rp2,4 triliun melalui penerbitan Samurai Bond di pasar modal Jepang. Dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat pembangunan jaringan fiber-to-the-home (FTTH), memperkuat struktur pendanaan perusahaan, serta mendukung ekspansi bisnis jangka panjang.
Penerbitan obligasi berdenominasi yen tersebut terdiri atas dua seri, yakni obligasi tenor tiga tahun senilai 19,4 miliar yen dan tenor lima tahun sebesar 2 miliar yen. Penandatanganan transaksi dilakukan pada 24 Juli 2026, sementara penyelesaian transaksi secara resmi dilaksanakan di Tokyo pada 29 Juli 2026.
Direktur Utama WEAVE Hendrik Tee mengatakan keberhasilan mengakses pasar obligasi Jepang mencerminkan kepercayaan investor internasional terhadap fundamental bisnis, tata kelola, dan prospek pertumbuhan perusahaan.
Menurutnya, tambahan pendanaan ini akan memperkuat struktur permodalan sekaligus memperluas akses perusahaan terhadap sumber pembiayaan global sehingga mampu mempercepat pembangunan jaringan internet berkecepatan tinggi di berbagai wilayah Indonesia.
Apa Itu Samurai Bond?
Samurai Bond merupakan obligasi yang diterbitkan di Jepang dalam mata uang yen oleh perusahaan atau institusi dari luar Jepang. Instrumen ini memungkinkan perusahaan memperoleh sumber pendanaan langsung dari investor Jepang dengan biaya pendanaan yang umumnya lebih kompetitif dibandingkan pasar domestik.
Berbeda dengan pinjaman bank, penerbitan Samurai Bond juga memperluas basis investor serta mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap satu sumber pendanaan. Bagi perusahaan Indonesia, keberhasilan menerbitkan Samurai Bond biasanya menunjukkan tingkat kepercayaan investor internasional yang cukup tinggi terhadap kualitas kredit perusahaan tersebut.
Dana Digunakan untuk Percepat Ekspansi FTTH
Manajemen menjelaskan hasil penerbitan obligasi akan dialokasikan untuk membiayai belanja modal pembangunan dan perluasan jaringan fiber-to-the-home (FTTH), pemeliharaan infrastruktur, kebutuhan modal kerja, refinancing utang, serta berbagai kebutuhan operasional lainnya.
Ekspansi jaringan FTTH menjadi salah satu fokus utama WIFI dalam meningkatkan penetrasi layanan internet rumah berkecepatan tinggi di Indonesia yang masih memiliki ruang pertumbuhan besar dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Dengan tambahan pendanaan tersebut, perusahaan memiliki fleksibilitas yang lebih besar untuk mempercepat pembangunan jaringan tanpa terlalu bergantung pada pembiayaan perbankan.
Raih Investment Grade Tanpa Jaminan Induk Usaha
Sebelum penerbitan obligasi dilakukan, Japan Credit Rating Agency (JCR) memberikan peringkat BBB+ kepada WEAVE, baik untuk perusahaan maupun instrumen obligasinya. Menariknya, peringkat tersebut diperoleh secara standalone, tanpa dukungan atau penjaminan dari induk usaha maupun pihak ketiga.
Peringkat investment grade tersebut mencerminkan penilaian positif terhadap fundamental bisnis perusahaan, struktur permodalan yang sehat, kemampuan menghasilkan arus kas, disiplin keuangan, serta penerapan tata kelola perusahaan yang memenuhi standar investor institusional Jepang.
Keberhasilan memperoleh peringkat kredit secara mandiri sekaligus menjadikan WEAVE sebagai salah satu perusahaan swasta Indonesia yang berhasil mengakses pasar Samurai Bond tanpa dukungan penjamin.
Didukung NTT East
Sebagai pemegang 49% saham WEAVE, NTT East Corporation menyatakan akan terus mendukung pengembangan infrastruktur telekomunikasi perusahaan melalui transfer teknologi serta keahlian operasional. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pemerataan akses internet berkualitas di Indonesia sekaligus mengurangi kesenjangan digital di berbagai daerah.
Selain memperoleh tambahan modal, dukungan dari salah satu operator telekomunikasi terbesar Jepang juga memperkuat posisi WEAVE dalam mengembangkan bisnis infrastruktur digital nasional.
Dampak ke Pasar
Penerbitan Samurai Bond ini menjadi sentimen positif bagi saham WIFI karena menunjukkan perusahaan masih memiliki akses yang kuat terhadap pendanaan internasional di tengah kondisi pasar global yang masih penuh ketidakpastian. Keberhasilan memperoleh dana Rp2,4 triliun tanpa jaminan induk usaha juga memperkuat kredibilitas perusahaan di mata investor.
Tambahan modal tersebut memberikan ruang bagi WIFI untuk mempercepat ekspansi jaringan FTTH tanpa terlalu membebani arus kas operasional. Dalam jangka panjang, perluasan jaringan berpotensi meningkatkan jumlah pelanggan, pendapatan berulang (recurring revenue), serta memperkuat profitabilitas perusahaan. Di sisi lain, diversifikasi sumber pendanaan juga menurunkan risiko ketergantungan terhadap pinjaman perbankan domestik, sehingga struktur pendanaan perusahaan menjadi lebih sehat dan fleksibel.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan risiko nilai tukar. Karena obligasi diterbitkan dalam mata uang yen, pelemahan rupiah terhadap yen dapat meningkatkan beban pembayaran utang apabila perusahaan tidak memiliki strategi lindung nilai (hedging) yang memadai. Namun selama ekspansi mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi daripada biaya pendanaan, penerbitan Samurai Bond ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja WIFI dalam beberapa tahun ke depan.

