[Medan | 31 Juli 2026] Amerika Serikat merilis sejumlah data ekonomi penting pada Kamis (30/7/2026) waktu setempat. Mayoritas data menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda, sementara pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja juga menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Kombinasi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak perlu terburu-buru kembali menaikkan suku bunga.
Berikut rincian data ekonomi terbaru beserta implikasinya terhadap pasar.
Inflasi Inti (Core PCE) Melambat
Indeks Core Personal Consumption Expenditures (Core PCE), yang menjadi indikator inflasi favorit The Fed karena mengukur kenaikan harga tanpa komponen makanan dan energi yang cenderung bergejolak, naik 0,1% secara bulanan (month-on-month) pada Juni 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,3% maupun ekspektasi pasar sebesar 0,2%. Secara tahunan, Core PCE tercatat 3,7%, turun dari 4,1% pada bulan sebelumnya dan sesuai dengan proyeksi pasar.
Perlambatan inflasi inti menunjukkan tekanan harga mulai mereda. Hal ini menjadi kabar positif bagi The Fed karena inflasi bergerak ke arah target jangka panjang, sehingga urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga menjadi lebih rendah.
Inflasi Umum (Headline PCE) Juga Turun
Sementara itu, Headline PCE, yang mengukur perubahan harga seluruh barang dan jasa termasuk energi dan pangan, tercatat -0,1% secara bulanan, sesuai dengan ekspektasi pasar dan membaik dibandingkan kenaikan 0,5% pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi PCE turun menjadi 3,7% dari 4,1% pada bulan sebelumnya.
Penurunan ini sebagian besar dipengaruhi oleh turunnya harga energi, khususnya harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membantu menekan inflasi secara keseluruhan dan mengurangi tekanan terhadap daya beli masyarakat.
Klaim Pengangguran Naik Tipis
Jumlah Initial Jobless Claims, atau jumlah masyarakat yang mengajukan tunjangan pengangguran untuk pertama kalinya, tercatat 197 ribu, naik dari 188 ribu pada pekan sebelumnya namun masih sedikit lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 200 ribu.
Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai sedikit melonggar, meskipun secara keseluruhan masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Bagi The Fed, perlambatan pasar tenaga kerja dapat membantu mengurangi tekanan kenaikan upah yang selama ini menjadi salah satu sumber inflasi.
Pertumbuhan Ekonomi Melambat
Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product/GDP) Amerika Serikat pada kuartal II-2026 tumbuh 1,5% (annualized quarter-on-quarter), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2,1% pada kuartal sebelumnya maupun ekspektasi pasar sebesar 2,1%.
GDP merupakan indikator utama yang mengukur laju pertumbuhan aktivitas ekonomi suatu negara. Perlambatan ini mengindikasikan ekonomi AS mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya mampu bertahan cukup kuat di tengah tingginya suku bunga.
Bagi The Fed, pertumbuhan ekonomi yang melambat dapat mengurangi risiko overheating sehingga memberikan ruang lebih besar untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.
Dampak ke Pasar Global
Secara keseluruhan, kombinasi inflasi yang melambat, pertumbuhan ekonomi yang melemah, serta pasar tenaga kerja yang mulai mendingin menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter The Fed mulai memberikan dampak terhadap perekonomian.
Data tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa peluang kenaikan suku bunga tambahan dalam waktu dekat semakin kecil. Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS cenderung turun, sementara aset berisiko seperti saham memperoleh sentimen positif. Di sisi lain, melemahnya ekspektasi kenaikan suku bunga juga berpotensi menekan dolar AS karena selisih imbal hasil terhadap mata uang lain menjadi lebih kecil.
Dampak ke Pasar Indonesia
Sentimen positif dari Amerika Serikat diperkirakan akan mendukung pergerakan pasar keuangan Indonesia. Bagi IHSG, peluang penguatan semakin terbuka karena berkurangnya kekhawatiran terhadap kebijakan moneter The Fed. Suku bunga global yang diperkirakan tetap stabil dapat mendorong aliran dana asing kembali masuk ke pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia. Sentimen tersebut diperkuat oleh turunnya harga minyak dunia, musim rilis laporan keuangan emiten kuartal II-2026, serta berbagai aksi korporasi yang sedang berlangsung.
Untuk pasar obligasi, meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga AS berpotensi menurunkan tekanan terhadap imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut dapat meningkatkan minat investor terhadap obligasi Indonesia karena selisih imbal hasil (yield spread) relatif tetap menarik dibandingkan obligasi pemerintah AS.
Sementara itu, rupiah juga berpeluang menguat apabila dolar AS melemah dan arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik. Namun, penguatan tersebut masih akan dipengaruhi sentimen domestik, termasuk perkembangan pergantian kepemimpinan Bank Indonesia serta kondisi geopolitik global.
Prospek IHSG Hari Ini
Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan dengan target menguji area 6.200–6.250, didukung sentimen positif dari Wall Street, turunnya harga minyak, serta hasil kinerja emiten yang mulai dirilis.
Sementara itu, Binaartha Sekuritas menilai tren kenaikan masih berlanjut apabila IHSG mampu menembus level 6.199. Jika berhasil dilewati, indeks berpeluang mengisi gap pada area 6.268–6.306.
Meski demikian, ruang kenaikan diperkirakan masih terbatas selama IHSG belum mampu menembus area 6.400. Investor tetap perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung setelah reli dalam beberapa hari terakhir.

