[Medan | 13 Oktober 2026] Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Selasa (13/10/2026), dengan penurunan lebih dari 1% hingga menembus ke bawah level 6.000. Indeks sempat menyentuh 5.832,76 atau terkoreksi 103,39 poin setara 1,74%. Hingga data yang dilaporkan, volume transaksi mencapai 123,95 juta lot dengan nilai sekitar Rp2.644,42 miliar.
IHSG dibuka pada level 5.914,98 dan sempat naik ke posisi tertinggi harian 5.918,29 pada awal perdagangan. Namun, tekanan jual kemudian membawa indeks turun hingga menyentuh 5.831,79. Pergerakan tersebut menunjukkan IHSG masih berada dekat dengan level terendah hariannya, tanpa pemulihan yang cukup kuat.
IHSG Gagal Mempertahankan Rebound
Pergerakan intraday memperlihatkan tekanan jual yang berlanjut sepanjang perdagangan. Setelah melemah tajam pada awal sesi, IHSG sempat mencoba bangkit menuju area 5.910. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan indeks kembali bergerak turun. Pelemahan sejumlah sektor turut membebani pergerakan indeks. Sektor keuangan turun 1,05%, diikuti sektor material dasar yang melemah 0,89% dan teknologi yang terkoreksi 0,84%.
Sejumlah saham dengan kontribusi pemberat terhadap IHSG antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA).
Di sisi lain, beberapa saham tercatat menahan laju penurunan indeks, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT Tifico Fiber Indonesia Tbk. (TFCO), PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk. (BIKE), dan PT Petrosea Tbk. (PTRO).
Isu MSCI Masih Membayangi Pergerakan Saham
Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menilai perkembangan terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi salah satu sentimen utama yang diperhatikan pelaku pasar. Kekhawatiran berpusat pada risiko penurunan status Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market, serta kelanjutan pembekuan sejumlah perubahan indeks MSCI.
Pasar juga mencermati prospek pencabutan pembekuan tersebut, yang diproyeksikan berlangsung pada semester II-2027. Ketidakpastian terkait status pasar Indonesia dan kebijakan indeks dapat memengaruhi persepsi investor terhadap saham-saham domestik. “Isu-isu di market masih berkaitan dengan MSCI,” ujar Desy kepada CNBC Indonesia, Senin (12/10/2026).
Serangan Houthi Tambah Risiko Geopolitik
Selain sentimen domestik, eskalasi konflik di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar. Arab Saudi kembali menghadapi ancaman serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi Yaman pada Senin (12/10/2026).
Bandara Internasional Riyadh masih ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Koalisi pimpinan Arab Saudi juga melaporkan adanya ancaman serangan baru di tengah meluasnya ketegangan yang berkaitan dengan konflik Amerika Serikat (AS)-Iran.
Houthi dilaporkan terus menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur Arab Saudi. Situasi ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi, terutama karena konflik turut melibatkan kawasan sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak.
Arab Saudi kembali terlibat dalam konflik Yaman untuk menekan kelompok Houthi, meskipun pasukan yang didukung Riyadh masih menghadapi perlawanan di sejumlah front. Di tengah perkembangan tersebut, Iran menawarkan diri menjadi mediator antara Houthi dan Arab Saudi, sementara Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan penguatan kerja sama keamanan dan pertahanan negara-negara Teluk.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Washington mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam serangan terhadap Houthi. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa AS telah melancarkan operasi militer tersebut.
Harga Minyak Naik, Dolar AS Menguat
Ketegangan di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia menguat pada Senin (12/10/2026). Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan mengimbangi sentimen tambahan pasokan setelah Trump mengumumkan peningkatan ekspor diesel Rusia dan gencatan senjata Rusia-Ukraina terkait serangan terhadap infrastruktur energi.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik US$1,93 atau 1,8% menjadi US$106,65 per barel, level tertinggi sejak 15 September. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat US$1,89 atau 2% ke posisi US$93,74 per barel.
Kenaikan harga minyak di tengah risiko geopolitik menjadi faktor tambahan yang perlu dicermati investor. Perubahan harga energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi, sementara penguatan dolar AS berpotensi menambah tekanan terhadap aset di pasar negara berkembang.
Dampak ke Pasar: Saham Tertekan, Obligasi dan Rupiah Ikut Dicermati
Kombinasi kekhawatiran terkait MSCI dan meningkatnya risiko geopolitik membuat pasar menghadapi beberapa sumber ketidakpastian sekaligus. Isu MSCI berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap saham Indonesia dan aliran dana ke pasar ekuitas, sedangkan kenaikan harga minyak dapat memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi dan biaya energi.
Bagi pasar obligasi pemerintah (SUN), kenaikan harga minyak dapat menjadi sentimen negatif apabila mendorong ekspektasi inflasi lebih tinggi atau meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Dalam kondisi tersebut, investor dapat meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi risiko, sehingga harga obligasi berpotensi tertekan. Namun, arah pasar tetap bergantung pada pergerakan yield US Treasury, kebijakan Bank Indonesia, nilai tukar rupiah, dan arus modal asing.
Untuk IHSG, level 6.000 kini menjadi salah satu area psikologis yang diperhatikan setelah indeks bergerak di bawahnya. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan isu MSCI, kondisi geopolitik, harga minyak, serta respons investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang berkontribusi terhadap indeks.

