[Medan | 19 Agustus 2026] Bank Indonesia (BI) diproyeksikan kembali mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. RDG kali ini menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti. Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan probabilitas BI mempertahankan BI Rate di level 5,75% mencapai 78%.
Inflasi dan Permintaan Domestik Belum Dorong Rate Hike
Salah satu alasan utama BI diperkirakan tetap menahan suku bunga adalah tekanan inflasi yang masih terkendali dan permintaan domestik yang belum cukup kuat untuk membutuhkan pengetatan moneter. Inflasi Juli 2026 tercatat sebesar 2,88% secara tahunan, sementara inflasi inti berada di 2,76%. Dengan kondisi tersebut, belum terlihat tekanan demand yang cukup besar untuk membuat BI perlu menaikkan suku bunga.
Namun, ruang untuk kenaikan BI Rate tetap terbuka apabila tekanan terhadap rupiah semakin besar menjelang keputusan RDG. Banjaran memperkirakan probabilitas kenaikan 25 basis poin berada di sekitar 15% apabila rupiah menembus level Rp18.100 per dolar AS menjelang rapat. Artinya, rupiah menjadi salah satu faktor penentu utama keputusan BI kali ini.
Rupiah Melemah Bukan Hanya karena Dolar AS
Tekanan terhadap rupiah saat ini dinilai memiliki karakter yang berbeda. Menurut Banjaran, pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik atau idiosinkratik Indonesia, bukan semata-mata karena penguatan dolar AS. Secara year to date (YTD), rupiah telah melemah sekitar 6,9% ke Rp17.827 per dolar AS, sementara indeks dolar AS (DXY) hanya menguat sekitar 1,4%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah relatif lebih besar dibandingkan pergerakan dolar AS secara global. Salah satu penyebabnya adalah arus keluar investasi dari pasar saham serta memburuknya neraca transaksi berjalan. Arus keluar ekuitas tercatat sekitar US$4,15 miliar secara YTD, sementara defisit transaksi berjalan mencapai 1,09% terhadap PDB pada kuartal I-2026.
Investor Asing Justru Masih Masuk ke SBN
Menariknya, kondisi pasar obligasi menunjukkan arah yang berbeda dibandingkan pasar saham. Di tengah tekanan terhadap rupiah dan arus keluar dari ekuitas, investor asing masih mencatatkan net buy SBN sebesar US$894 juta secara YTD. Hal tersebut menunjukkan bahwa tekanan rupiah tidak serta-merta berarti investor asing menarik seluruh dananya dari aset Indonesia.
Investor masih melihat daya tarik pasar obligasi domestik, terutama ketika yield SBN dianggap cukup kompensatif terhadap risiko yang ada. Karena itu, Banjaran menilai kebijakan yang hanya menyasar pasar obligasi tidak akan sepenuhnya menyelesaikan persoalan tekanan rupiah. Artinya, jika tekanan utama berasal dari ekuitas dan transaksi berjalan, stabilisasi rupiah perlu dilakukan melalui kombinasi kebijakan yang lebih luas, bukan hanya melalui pasar SBN.
BI Kemungkinan Lebih Pilih Hold
Dengan inflasi yang masih manageable dan permintaan domestik yang relatif lemah, BI memiliki alasan untuk mempertahankan BI Rate di 5,75%. Kenaikan suku bunga justru berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik. Karena itu, apabila rupiah masih dapat dikendalikan melalui intervensi valas dan instrumen stabilisasi lainnya, hold rate menjadi opsi yang lebih masuk akal dibandingkan rate hike.
Namun, BI tetap perlu memberikan perhatian besar terhadap risiko eksternal, terutama pergerakan dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, serta arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Rupiah Masih Berisiko Tertekan hingga Akhir Tahun
Meskipun skenario dasar menunjukkan rupiah berpotensi menguat terbatas, risiko pelemahan masih cukup besar. Banjaran memperkirakan rupiah berada di sekitar Rp17.800 per dolar AS pada akhir September dan sekitar Rp17.700 per dolar AS pada akhir 2026. Namun, rentang pergerakannya diperkirakan cukup lebar, yakni sekitar Rp17.200-Rp18.400 per dolar AS.
Bahkan berdasarkan perhitungan probabilitas, nilai harapan tertimbang rupiah pada akhir 2026 berada di sekitar Rp18.350 per dolar AS. Ini menunjukkan bahwa base case dan risk case rupiah masih memiliki perbedaan yang cukup besar. Secara fundamental, ada peluang penguatan, tetapi risiko pelemahan akibat faktor domestik tetap tinggi.

