[Medan | 18 Agustus 2026] Saham sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bergerak menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menyoroti perbaikan kinerja perusahaan pelat merah dalam Pidato Kenegaraan pada Jumat (14/8/2026).
Tiga nama yang menjadi perhatian adalah PT Timah Tbk (TINS), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Ketiganya disebut langsung oleh Prabowo ketika memaparkan hasil pembenahan BUMN yang dilakukan pemerintah bersama BPI Danantara.
Prabowo menyebut laba bersih BUMN pada 2025 mencapai Rp326 triliun, meningkat 75,3% dibandingkan 2024. Perbaikan tersebut, menurut pemerintah, merupakan hasil dari restrukturisasi dan pembenahan tata kelola perusahaan negara.
TINS Cetak Laba Rp2,7 Triliun
PT Timah menjadi salah satu BUMN yang mendapat sorotan terbesar. Prabowo menyebut TINS telah mencatat keuntungan Rp2,7 triliun pada semester I-2026. Angka tersebut sekitar sembilan kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut juga disebut tercermin dari kenaikan valuasi TINS. Prabowo mengatakan valuasi perusahaan pada Agustus 2026 telah meningkat sekitar 280% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Respons pasar terlihat langsung pada perdagangan Jumat. Saham TINS sempat melonjak 7% ke level Rp4.000 pada perdagangan siang, sebelum akhirnya ditutup menguat 4,57% di Rp3.890 per saham. Meski demikian, investor tetap perlu melihat apakah kenaikan laba tersebut dapat dipertahankan. Lonjakan laba yang sangat besar perlu dilihat lebih dalam, terutama dari sisi harga komoditas timah, volume produksi, margin, dan keberlanjutan efisiensi.
SMGR Juga Cetak Lonjakan Laba
Selain TINS, Prabowo menyoroti PT Semen Indonesia. Laba bersih SMGR disebut meningkat 408,9% secara tahunan pada semester I-2026. Saham SMGR turut merespons positif. Pada penutupan Jumat, saham SMGR menguat 4,64% ke level Rp1.580 per saham.
Namun, secara lima hari perdagangan, saham SMGR masih mencatat penurunan sekitar 2,47%. Artinya, sentimen dari pidato Presiden memang memberikan dorongan, tetapi belum sepenuhnya mengubah tren saham.
Dari sisi valuasi, saham SMGR masih dinilai menarik oleh sebagian analis. Konsensus Bloomberg yang dikutip dalam data tersebut menunjukkan mayoritas analis memberikan rekomendasi buy, dengan target harga rata-rata Rp2.370,86 per saham.
GIAA Dapat Harapan Balik Untung
Nama ketiga yang mendapat perhatian adalah Garuda Indonesia. Prabowo mengatakan pemerintah telah melakukan reaktivasi terhadap pesawat-pesawat Garuda yang sebelumnya grounded. Hingga Juni 2026, sebanyak 20 pesawat telah kembali beroperasi sehingga total armada yang aktif mencapai 140 unit. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat mengembalikan Garuda menuju profitabilitas. Pemerintah menargetkan Garuda mulai mencatatkan keuntungan pada awal 2027.
Respons pasar terhadap GIAA juga cukup kuat. Saham GIAA ditutup naik 5,56% ke level Rp76 pada Jumat. Dalam lima hari perdagangan, saham tersebut bahkan telah menguat 40,74%. Namun, dibandingkan TINS dan SMGR, fundamental GIAA tetap memiliki risiko yang lebih tinggi karena pemulihan profitabilitas sangat bergantung pada utilisasi armada, harga bahan bakar, jumlah penumpang, serta kondisi geopolitik dan penerbangan global.
Apakah Ini “Kode” untuk Saham BUMN?
Kenaikan TINS, SMGR, dan GIAA setelah pidato Prabowo menunjukkan bahwa komunikasi pemerintah mengenai kinerja BUMN mulai menjadi katalis bagi saham perusahaan negara. Namun, investor sebaiknya tidak menganggap penyebutan nama perusahaan oleh Presiden sebagai sinyal beli otomatis.
Yang lebih penting adalah apakah peningkatan laba tersebut berasal dari perbaikan fundamental yang berkelanjutan atau hanya dipengaruhi oleh faktor siklus, harga komoditas, efisiensi sementara, maupun perubahan struktur keuangan.
Untuk TINS, misalnya, kenaikan laba perlu dikaitkan dengan tren harga timah dan volume produksi. Untuk SMGR, investor perlu melihat apakah efisiensi mampu mengimbangi tantangan oversupply dan persaingan industri semen. Sementara untuk GIAA, pertanyaan utamanya adalah apakah reaktivasi armada benar-benar mampu mengembalikan perusahaan ke profitabilitas secara konsisten.
Danantara Jadi Faktor Penting
Perbaikan tersebut tidak terlepas dari agenda restrukturisasi BUMN yang dilakukan pemerintah dan BPI Danantara. Prabowo menyebut pembenahan perusahaan negara juga disertai perbaikan laporan keuangan. Pemerintah ingin laporan keuangan BUMN mencerminkan kondisi perusahaan secara lebih akurat dan tidak lagi memberikan toleransi terhadap laporan yang dianggap tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
Jika proses tersebut berlanjut, pasar berpotensi memberikan re-rating terhadap sejumlah saham BUMN apabila peningkatan efisiensi dan profitabilitas terbukti berkelanjutan. Hal ini menjadi semakin relevan karena pemerintah juga tengah melakukan penataan jumlah BUMN dan anak usaha agar struktur perusahaan negara menjadi lebih efisien.
Valuasi Masih Menarik?
Untuk TINS, konsensus Bloomberg yang dikutip menunjukkan mayoritas analis memberikan rekomendasi buy, dengan target harga 12 bulan rata-rata Rp4.846,67 per saham. Dari 14 analis yang meng-cover saham tersebut, target terbaru BCA Sekuritas bahkan berada di Rp5.500.
SMGR juga masih mendapatkan sentimen relatif positif. Dari 23 analis yang meng-cover saham tersebut, 11 memberikan rekomendasi buy, 8 hold, dan 4 sell. Target harga rata-ratanya berada di Rp2.370,86 per saham, sementara Ciptadana Sekuritas memasang target Rp1.900.
Namun, target harga analis bukan jaminan kenaikan. Setelah saham bergerak cepat akibat sentimen pidato, investor perlu memperhitungkan potensi profit taking dan menunggu konfirmasi dari laporan keuangan berikutnya.
Dampak ke Pasar Saham
Bagi IHSG, perkembangan ini memberikan tambahan katalis dari sisi domestik. Jika restrukturisasi BUMN menghasilkan peningkatan profitabilitas yang konsisten, sentimen tersebut dapat menyebar ke sektor perbankan, konstruksi, energi, bahan baku, hingga transportasi.
Namun, dampak jangka panjang akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mengubah BUMN dari sekadar perusahaan yang menghasilkan dividen menjadi perusahaan yang lebih efisien dan kompetitif.
Bagi investor saham, pendekatan yang lebih tepat adalah selective buying, bukan membeli seluruh saham BUMN hanya karena mendapat sorotan pemerintah. TINS menjadi menarik jika kenaikan laba didukung fundamental komoditas yang kuat. SMGR perlu dilihat dari keberlanjutan efisiensi dan perbaikan margin. Sementara GIAA merupakan cerita turnaround dengan risiko yang jauh lebih tinggi.

