[Medan | 29 September 2026] IHSG kembali berada di bawah tekanan jual. Setelah kemarin terkoreksi 1,51% ke level 6.147, pada perdagangan hari ini IHSG sempat turun sekitar 2% dan pada pukul 10.06 WIB tercatat melemah 1,70% ke level 6.042.
Secara teknikal, pelemahan kemarin membuat IHSG kembali membentuk gap down sekaligus menutup gap sebelumnya di area 6.180–6.200. Tekanan hari ini berpotensi kembali membuka gap down baru. Selama tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar belum mereda, IHSG masih menghadapi risiko melanjutkan koreksi dengan support terdekat di area 6.050–6.000, sementara apabila tekanan berlanjut, area 5.800–5.700 menjadi support berikutnya yang perlu diperhatikan.
Apa yang Membuat IHSG Kembali Tertekan?
- GOTO dan perubahan batas harga minimum saham menjadi Rp1
GOTO menjadi salah satu perhatian pasar karena memiliki jumlah saham beredar yang sangat besar dan termasuk saham dengan harga rendah. Sejak perubahan aturan BEI, batas harga minimum saham dapat mencapai Rp1, sehingga saham yang sebelumnya “mentok” di level Rp50 kini memiliki ruang untuk turun lebih jauh, misalnya Rp40, Rp30, Rp20 hingga Rp1. Hal ini membuat tekanan pada saham-saham gocap memiliki dampak psikologis yang lebih besar karena investor tidak lagi melihat Rp50 sebagai batas bawah absolut.
Jika GOTO terus mengalami tekanan hingga ARB, investor yang memegang saham tersebut memiliki ruang yang semakin terbatas untuk keluar pada harga yang diinginkan. Kondisi ini dapat mendorong aksi jual dan meningkatkan sikap risk-off di pasar. Mengingat jumlah saham GOTO yang sangat besar, tekanan berkelanjutan pada GOTO juga dapat memperburuk sentimen dan breadth pasar, sehingga rebound IHSG menjadi lebih sulit.
- Short selling mulai berlaku 1 Oktober
BEI akan mulai menerapkan transaksi short selling pada 1 Oktober 2026 untuk lima saham, yaitu ASII, BBCA, BRPT, BUMI, dan INDF. Pada tahap awal, fasilitas tersebut akan disediakan melalui dua Anggota Bursa.
Short selling tidak berarti pasar otomatis akan turun karena adanya mekanisme tersebut. Namun, menjelang implementasi, investor menjadi semakin memperhatikan downside risk, terutama pada saham-saham yang dapat ditransaksikan melalui mekanisme tersebut. Keberadaan short selling juga memungkinkan investor mengambil posisi ketika memperkirakan harga saham akan melemah, sehingga dalam kondisi pasar yang sudah risk-off, aktivitas jual dapat menjadi lebih aktif.
- Yield US Treasury naik ke level tertinggi sejak 2007
Tekanan IHSG juga datang dari pasar global. Yield US Treasury 10Y telah naik hingga sekitar 5,27%, level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi, kenaikan harga minyak, kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, serta ekspektasi bahwa The Fed masih dapat melanjutkan kenaikan suku bunga.
Bagi Indonesia, kenaikan yield Treasury menjadi penting karena meningkatkan opportunity cost untuk memegang aset emerging market. Investor global kini mendapatkan yield yang lebih tinggi dari aset AS, sementara investasi di Indonesia juga menghadapi tambahan risiko nilai tukar akibat pelemahan Rupiah.
- Harga minyak kembali naik akibat ketidakpastian AS–Iran
Harga minyak kembali menjadi sumber tekanan inflasi global. Brent berada di sekitar US$105–106 per barel setelah perkembangan negosiasi AS–Iran kembali tidak memberikan kepastian mengenai penyelesaian konflik dan pembukaan kembali jalur perdagangan di kawasan Selat Hormuz.
Bagi pasar saham, minyak yang tinggi menciptakan dua tekanan sekaligus: risiko kenaikan inflasi dan risiko suku bunga yang lebih tinggi lebih lama. Hal tersebut dapat menekan valuasi saham, terutama ketika yield obligasi juga meningkat.
- Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali menguat
The Fed telah menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 bps menjadi 3,75%–4,00% pada September 2026. Proyeksi terbaru The Fed juga menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat masih melihat kemungkinan adanya setidaknya satu kenaikan tambahan pada 2026.
Sementara itu, pasar saat ini memperhitungkan lebih dari 70% probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober, meskipun probabilitas tersebut dapat berubah cepat mengikuti data ekonomi yang keluar. Karena itu, data inflasi dan tenaga kerja AS yang keluar minggu ini menjadi sangat penting. Jika data menunjukkan ekonomi AS masih kuat dan tekanan inflasi tetap tinggi, yield Treasury dan dolar AS berpotensi kembali naik.
- Rupiah kembali mendekati level Rp18.000
Rupiah kembali berada di sekitar level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan Senin, Rupiah sempat menyentuh sekitar Rp18.003 intraday sebelum kembali stabil di bawah level tersebut. Pelemahan Rupiah menjadi perhatian karena meningkatkan risiko imported inflation dan menambah risiko nilai tukar bagi investor asing. Namun, pelemahan Rupiah tidak otomatis berarti BI akan menaikkan suku bunga. BI pada RDG 22–23 September mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan menekankan penggunaan kombinasi instrumen untuk menjaga stabilitas Rupiah.
Selain suku bunga, BI dapat menggunakan intervensi pasar valas melalui spot, DNDF maupun NDF, mengoptimalkan instrumen moneter, mendorong portfolio inflows, serta memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valas. Artinya, apabila Rupiah kembali menembus Rp18.000, investor perlu melihat respons BI secara keseluruhan, bukan langsung mengasumsikan bahwa BI-Rate akan dinaikkan.
- Pengesahan RAPBN 2027 menjadi perhatian pasar domestik
Hari ini DPR dijadwalkan melanjutkan agenda pengesahan RAPBN 2027. Pemerintah dan Badan Anggaran DPR telah menyepakati sejumlah asumsi makro utama, yaitu pertumbuhan ekonomi 6,0%, inflasi 2,5%, nilai tukar Rp17.500/US$, yield SBN 10 tahun 6,9%, dan ICP US$75 per barel. Pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp3.435,1 triliun, belanja negara Rp4.106,2 triliun, dengan defisit APBN 2,4% terhadap PDB.
Bagi pasar saham, RAPBN menjadi penting karena memberikan gambaran mengenai arah kebijakan fiskal dan target pertumbuhan ekonomi 2027. Sementara bagi pasar obligasi, perhatian lebih besar tertuju pada asumsi yield SBN 10 tahun 6,9%, nilai tukar Rp17.500, defisit 2,4% serta kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Dengan kondisi yield global dan Rupiah yang sedang berada di bawah tekanan, pasar akan memperhatikan apakah asumsi yield SBN 6,9% dan Rupiah Rp17.500 masih dapat menjadi benchmark yang realistis apabila tekanan eksternal berlanjut.
- Minggu ini dipenuhi data ekonomi penting
Tekanan pasar juga terjadi menjelang sejumlah data ekonomi penting yang dapat mengubah kembali ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
- 29 September: US Consumer Confidence, JOLTS Job Openings
- 30 September: China Manufacturing PMI, US ADP Employment, US Core PCE, US GDP
- 1 Oktober: US Initial Jobless Claims, Indonesia Neraca Dagang, Indonesia Inflasi
- 2 Oktober: US Nonfarm Payrolls, US Unemployment Rate
Dengan yield Treasury yang sedang tinggi dan pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan Fed pada Oktober, data-data tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas apabila hasilnya berbeda signifikan dari ekspektasi pasar.
Jadi, Apakah IHSG Akan Turun di Bawah 6.000?
Secara teknikal, 6.000 kini menjadi level kunci IHSG. Dengan posisi IHSG sekitar 6.042 pada pukul 10.06 WIB, jaraknya sudah sangat dekat dengan support tersebut. Jika 6.000 mampu dipertahankan dan tekanan jual mulai mereda, peluang technical rebound masih terbuka. Namun apabila 6.000 ditembus dengan tekanan jual yang kuat, perhatian pasar berpotensi bergeser ke 5.800–5.700.
Dengan begitu, pertanyaan utama pasar saat ini bukan hanya “apakah IHSG akan turun di bawah 6.000?”, tetapi apakah level 6.000 mampu menjadi area stabilisasi atau justru menjadi titik lanjutan koreksi. Sebaliknya, untuk melihat peluang rebound yang lebih kuat, pasar perlu terlebih dahulu melihat meredanya tekanan pada saham-saham big cap, stabilisasi Rupiah, penurunan yield US Treasury, serta membaiknya sentimen global terkait minyak dan AS–Iran.
Untuk saat ini, kombinasi IHSG yang masih berada dalam tekanan teknikal + Rupiah mendekati Rp18.000 + US Treasury 10Y di atas 5% + minyak kembali tinggi + ekspektasi Fed yang semakin hawkish + rangkaian data ekonomi penting minggu ini membuat volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi.
Investor Harus Apa?
Saham: Investor tidak perlu langsung panik atau melakukan cut loss secara menyeluruh hanya karena IHSG turun tajam. Yang lebih penting adalah melihat kembali fundamental saham, tujuan investasi, harga beli, dan batas risiko masing-masing posisi. Untuk saham dengan fundamental yang masih baik dan memang ditujukan untuk investasi jangka menengah-panjang, koreksi IHSG tidak otomatis menjadi alasan untuk keluar. Sebaliknya, untuk posisi trading yang sudah menembus batas risiko yang ditetapkan sejak awal, disiplin cut loss tetap diperlukan agar kerugian tidak berkembang semakin besar.
Selama IHSG belum menunjukkan stabilisasi di area 6.050–6.000, sebagian cash dapat tetap disiapkan untuk mengantisipasi volatilitas. Jika area 6.000 mampu dipertahankan dan mulai muncul pembelian yang konsisten, entry dapat dilakukan secara bertahap. Jika 6.000 justru ditembus dengan tekanan jual yang kuat, investor perlu lebih defensif dan menunggu terbentuknya support baru.
Obligasi: Untuk investor obligasi, penurunan IHSG bukan alasan untuk panic selling karena yang lebih menentukan adalah arah yield US Treasury, Rupiah, dan yield SBN. Investor yang sudah memiliki obligasi dan tidak membutuhkan dana dalam waktu dekat tidak perlu langsung menjual hanya karena harga turun akibat kenaikan yield; selama obligasi tidak mengalami default, investor tetap memiliki hak atas kupon dan nilai nominal saat jatuh tempo. Justru kenaikan yield dapat membuka peluang entry yang lebih menarik, tetapi sebaiknya dilakukan bertahap, terutama ketika yield SBN sudah berada di level yang memberikan kompensasi menarik terhadap risiko.
Dengan asumsi yield SBN 10 tahun dalam RAPBN 2027 sebesar 6,9%, investor dapat menggunakan angka tersebut sebagai salah satu benchmark, tetapi tetap memperhatikan bahwa yield pasar dapat berada di atas atau di bawah asumsi APBN tergantung kondisi global dan Rupiah. Untuk investor yang membutuhkan likuiditas dalam waktu dekat, durasi perlu diperhatikan karena obligasi tenor panjang lebih sensitif terhadap kenaikan yield. Jadi, untuk bonds, pendekatannya bukan panic selling, melainkan monitor yield, pilih tenor sesuai kebutuhan, dan manfaatkan kenaikan yield untuk melakukan entry secara bertahap ketika tekanan global mulai stabil.

