[Medan | 29 September 2026] Nilai tukar rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (28/9/2026). Tekanan terhadap rupiah datang di tengah penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta tingginya harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.978 per dolar AS, melemah 0,42% dari perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia berada di level Rp17.965 per dolar AS, melemah dari Rp17.917 pada Jumat (25/9/2026). Data pasar juga menunjukkan USD/IDR sempat menembus Rp18.000 dalam perdagangan Senin.
Dolar AS dan Yield Treasury Jadi Tekanan Utama
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek masih terutama berasal dari faktor eksternal. Menurut Yusuf, data ekonomi AS yang relatif kuat meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga The Federal Reserve (The Fed) akan bertahan pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor.
Kenaikan yield US Treasury juga menjadi faktor penting karena meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Tekanan serupa sebelumnya telah terlihat pada sejumlah mata uang Asia ketika yield Treasury meningkat dan dolar AS menguat.
Harga Minyak Ikut Menekan Rupiah
Selain dolar AS dan Treasury, harga minyak menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan. Ketegangan AS-Iran dan ketidakpastian terkait Selat Hormuz mendorong harga minyak tetap tinggi. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan melalui kebutuhan impor energi dan berpotensi memperburuk posisi eksternal apabila berlangsung dalam waktu lama.
Kombinasi dolar AS yang kuat, yield global tinggi, dan harga minyak yang mahal membuat tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi arus modal asing ke pasar saham dan obligasi domestik.
BI Sudah Diperhitungkan Pasar
Dari sisi domestik, kebijakan suku bunga Bank Indonesia dinilai sudah cukup diperhitungkan oleh pasar. BI mempertahankan BI Rate pada level 5,75% dalam RDG September. Karena itu, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan global, kebutuhan valas korporasi, serta mekanisme pasar.
Gubernur BI Destry Damayanti sebelumnya mengatakan BI kini mengurangi porsi intervensi langsung di pasar spot menjadi sekitar 30% dari total intervensi. BI lebih banyak menggunakan instrumen seperti DNDF dan NDF untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengurangi penggunaan cadangan devisa.
Rp18.000 Jadi Level Psikologis
Level Rp18.000 kembali menjadi perhatian karena rupiah semakin dekat dengan batas psikologis tersebut. Yusuf Rendy menilai level Rp18.000 perlu dibaca sebagai tingkat psikologis yang sedang diuji, bukan secara otomatis sebagai tanda bahwa rupiah akan terus melemah. Untuk perdagangan Selasa (29/9/2026), Yusuf memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS, dengan area utama di sekitar Rp17.950-Rp18.000.
Jika dolar AS kembali menguat atau harga minyak meningkat, rupiah berpotensi menguji bahkan menembus Rp18.000. Sebaliknya, apabila data ekonomi AS keluar lebih lemah dari perkiraan dan mendorong penurunan ekspektasi suku bunga The Fed, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.
Data AS dan Sentimen Global Jadi Penentu
Pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS pada perdagangan Selasa, termasuk data tenaga kerja dan keyakinan konsumen. Pernyataan sejumlah pejabat The Fed juga akan menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS berikutnya. Selain itu, keputusan suku bunga bank sentral Australia juga berpotensi memengaruhi sentimen pasar kawasan.
Dengan begitu, pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan sangat bergantung pada arah dolar AS, yield US Treasury, harga minyak, serta arus modal global. Selama ketiga tekanan eksternal tersebut masih tinggi, ruang penguatan rupiah akan tetap terbatas. Bagi pasar Indonesia, level Rp18.000 bukan hanya angka psikologis. Pergerakan rupiah di sekitar level tersebut akan terus diperhatikan karena berkaitan dengan inflasi impor, kebutuhan valas korporasi, arus dana asing, serta ruang kebijakan Bank Indonesia ke depan.

