[Medan | 29 September 2026] Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), masih akan menaikkan suku bunga acuannya satu kali lagi pada kuartal IV-2026. Proyeksi tersebut sejalan dengan meningkatnya tekanan inflasi global, terutama akibat lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS.
Harga Minyak Kembali Melonjak
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam prospek kebijakan moneter AS. Pada 24 September 2026, harga minyak dunia mencapai US$125,53 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 yang berada di sekitar US$90,88 per barel. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap inflasi, sehingga ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat masih terbuka.
The Fed Diproyeksikan Naikkan Suku Bunga Sekali Lagi
Selain perkembangan harga minyak, proyeksi BI juga mempertimbangkan keputusan terbaru The Fed yang menaikkan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4%. “Seperti kita ketahui, belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis point dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan satu kali lagi di triwulan IV-[2026],” kata Destry dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, dikutip Selasa (29/9/2026). Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya The Fed untuk menjaga kondisi moneter tetap cukup ketat guna meredam tekanan inflasi.
Dolar AS Menguat, Arus Modal Bergeser
Prospek kenaikan suku bunga AS turut memberikan dukungan terhadap dolar AS. Destry mengatakan penguatan dolar terjadi terhadap mata uang negara maju maupun mata uang negara-negara Asia. Indeks dolar AS (DXY) tercatat mencapai 101,11, sementara indeks mata uang Asia berada di level 96,26.
Penguatan dolar tersebut kemudian turut memengaruhi pergerakan arus modal global. BI melihat adanya kembali pergeseran aliran modal dari negara berkembang (emerging markets) menuju negara maju, terutama Amerika Serikat.
BI Perkuat Stabilitas Rupiah
Di tengah tekanan dolar AS dan potensi berlanjutnya pengetatan moneter global, BI sebelumnya menyatakan akan terus memperkuat stabilisasi rupiah melalui optimalisasi instrumen intervensi di pasar valuta asing serta pendalaman pasar keuangan domestik. BI juga mendorong diversifikasi penggunaan mata uang melalui transaksi local currency transaction (LCT) dan memperkuat likuiditas mata uang lokal. Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional.
Kebijakan The Fed Masih Jadi Perhatian
Sebelumnya, pada pertengahan September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps ke kisaran 3,75%-4,00% dan membuka ruang untuk kenaikan tambahan hingga akhir tahun.
Dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut, Warsh mengatakan The Fed mulai mengurangi kebijakan akomodatif agar kondisi keuangan dan kredit lebih sejalan dengan tujuan utama bank sentral, khususnya dalam menjaga stabilitas harga. FOMC secara bulat memutuskan kenaikan suku bunga tersebut pada Rabu. Kenaikan 25 bps itu menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023.

