IkutinIkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
IkutinIkutin
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Jelajah
  • Ekonomi
  • Tren
  • Teknologi
  • Newsletter
  • Data Pasar
  • Lowongan
  • Kontak
  • Komunitas Petik Profit ➜
Follow US
2024 ©️ Fawz Finansial Indonesia. All Rights Reserved.
Ekonomi

AS-China Panas Lagi, Trump Tuduh China Intervensi Pemilu 2020

By Aurelia 21 hours ago Ekonomi
Image source: AP/ cnnindonesia.com
SHARE

[Medan | 20 Juli 2026] Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menuduh Beijing melakukan intervensi dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2020. Tuduhan tersebut muncul di tengah upaya kedua negara menjaga stabilitas hubungan dagang dan hanya beberapa bulan sebelum rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington pada September mendatang.

Dalam pidato dari Gedung Putih, Trump mengklaim pemerintah China telah mencuri sekitar 220 juta data pemilih Amerika, termasuk nama, alamat, dan berbagai informasi sensitif lainnya. Ia bahkan menyebut insiden tersebut sebagai “kebocoran data pemilu terbesar dalam sejarah”, meskipun tuduhan tersebut sebelumnya telah dibantah oleh komunitas intelijen AS.

Trump juga menuduh badan intelijen Amerika sengaja menutupi dugaan campur tangan China dalam Pilpres 2020 yang dimenangkan oleh Joe Biden.

China Bantah Seluruh Tuduhan

Pemerintah China langsung membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Chang, menegaskan bahwa Beijing selalu berpegang pada prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, termasuk pemilihan umum di Amerika Serikat. Menurutnya, hasil pemilu sepenuhnya ditentukan oleh rakyat Amerika dan China tidak pernah memiliki kepentingan untuk memengaruhi proses tersebut.

Pandangan serupa juga disampaikan Henry Wang Huiyao, pendiri lembaga pemikir Center for China and Globalization. Ia menilai tuduhan Trump justru berpotensi memperburuk hubungan bilateral yang saat ini berada dalam fase penting menjelang rencana pertemuan Xi Jinping dengan Trump.

Intelijen AS Tidak Menemukan Bukti

Tuduhan Trump juga mendapat penolakan dari kalangan politik Amerika. Senator Partai Demokrat Mark Warner menyebut klaim tersebut tidak memiliki dasar. Ia mengacu pada laporan komunitas intelijen AS pada 2021 yang menyimpulkan tidak terdapat bukti bahwa aktor asing berupaya mengubah proses pemungutan maupun penghitungan suara dalam Pilpres 2020.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa sistem pemilu Amerika yang terdesentralisasi membuat manipulasi dalam skala besar sangat sulit dilakukan karena adanya pengawasan keamanan siber, audit pasca-pemilu, serta pengelolaan oleh pemerintah negara bagian dan pemerintah lokal.

Risiko Baru bagi Hubungan AS-China

Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, pernyataan Trump berpotensi meningkatkan ketegangan diplomatik antara dua ekonomi terbesar dunia. Hal ini muncul pada saat hubungan AS-China sebenarnya mulai menunjukkan perbaikan setelah kedua negara mencapai kesepakatan gencatan perang dagang tahun lalu. Tuduhan baru tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu persiapan kunjungan Xi Jinping ke Amerika Serikat yang sebelumnya dipandang sebagai momentum memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara.

Jika retorika politik terus meningkat, pasar juga mulai mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali kebijakan perdagangan yang lebih agresif, termasuk tarif maupun pembatasan investasi lintas negara.

Dampak ke Pasar

Bagi pelaku pasar, isu ini menjadi pengingat bahwa risiko geopolitik tidak hanya berasal dari konflik Timur Tengah, tetapi juga dari memburuknya hubungan AS-China. Apabila ketegangan kedua negara kembali meningkat, sentimen risiko (risk-off) berpotensi menguat. Kondisi tersebut biasanya mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman seperti dolar AS, obligasi pemerintah AS (US Treasury), dan emas.

Di sisi lain, aset-aset yang sensitif terhadap perdagangan global, termasuk saham dan mata uang negara berkembang seperti rupiah, berpotensi menghadapi tekanan apabila hubungan AS-China kembali memasuki fase konfrontatif.

 

You Might Also Like

Gagal Bayar Sukuk, Fitch Ratings Downgrade Peringkat Utang Pos Indonesia

Serangan AS-Iran Makin Menjadi, Harga Minyak Brent Tembus US$ 90 per Barel!

Siap-siap! Ada Rapat Suku Bunga Bank Indonesia Hari Rabu Ini

Penjualan Ritel AS Naik Tipis di Juni 2026

Klaim Pengangguran AS Turun, Pasar Tenaga Kerja Tetap Kuat

TAGGED: AS China, pemilu 2020, Trump pemilu 2020
Aurelia July 20, 2026 July 20, 2026
Previous Article Serangan AS-Iran Makin Menjadi, Harga Minyak Brent Tembus US$ 90 per Barel!
Next Article Diversifikasi, DEWA Dirikan Tiga Anak Usaha Baru
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IkutinIkutin
Komplek CitraLand Gama City, Madison Avenue, Blok R6 No. 90, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia
adbanner
AdBlocker Terdeteksi
Kami dengan hormat meminta Anda mempertimbangkan untuk memasukkan situs web kami ke dalam daftar putih AdBlocker, karena situs tersebut beroperasi dengan dukungan iklan. Keputusan Anda untuk memasukkan situs kami ke dalam daftar putih akan memberikan kontribusi besar dalam mempertahankan operasinya.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?